
Setelah puas menikmati perjalanan mereka di Kobe Herbs Garden dan berbelanja di salah satu toko baju, Reyhan membawa Annisa ke sebuah hotel mewah yang lokasinya tak jauh dari tempat tersebut.
"Hari ini, anggap aja kita lagi honeymoon.."
Ujar Reyhan sambil merebahkan diri di atas kasur.
Annisa turut merebahkan diri di samping Reyhan, kemudian meraih ponselnya.
Entah berapa banyak foto yang mereka abadikan.
Annisa melihat-lihat kembali semua hasil foto mereka dan tersenyum puas.
"Mas.. makasih ya untuk hari ini.."
Reyhan tersenyum, sambil mengelus perut Annisa.
"Sayang, kalian sehat-sehat didalam ya.. Setelah kalian terlahir nanti, Abi dan Umi akan bawa kalian jalan-jalan kemanapun kalian mau.."
Annisa tersenyum haru. Sungguh beruntungnya dia memiliki suami yang penuh kasih sayang seperti Reyhan.
Selepas sholat isya, Reyhan dan Annisa masih berbincang.
Annisa menyandarkan punggungnya pada bantalan kasur, sedangkan Reyhan duduk di tepi ranjang.
"Mas.. boleh Nisa minta sesuatu..?"
"Kamu mau minta apa sayang..?"
"Nisa pengen mas bacain surah Ar-Rahman..
Untuk anak kita.."
Reyhan tersenyum.
Kemudian diambilnya Al-Qur'an kecil yang selalu dibawanya kemanapun dan mulai melantunkan surah Ar-Rahman.
Annisa mendengarkan dengan seksama, sambil sesekali mengelus perutnya.
"Alhamdulillah.. semoga kelak anak-anak kita bisa menjadi tahfidz Qur'an seperti Abinya.."
Gumam Annisa setelah Reyhan selesai membacakan surah Ar-Rahman.
"Insyaa Allah sayang.. Mas akan berusaha membimbing anak-anak kita nanti, biar jadi anak yang soleh dan soleha seperti Uminya.. Kamu juga bantu mas ya.."
jawab Reyhan
"Insyaa Allah mas.."
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Keesokan harinya..
Reyhan dan Annisa sudah check out dari hotel dan sedang dalam perjalanan pulang.
Tanpa diduga tiba-tiba seorang wanita berlari ketengah jalan dan nyaris saja tertabrak.
Beruntung Reyhan sigap menginjak rem hingga kecelakaan itu bisa dihindari.
Dan yang lebih mengejutkan, wanita itu langsung masuk kedalam mobil mereka dengan tergesa-gesa.
"Tuan tolong saya.. beberapa orang preman sedang mengejar saya.."
Wanita tersebut memohon sambil mengatupkan kedua tangannya.
__ADS_1
Dia tampak sangat ketakutan.
"Kamu dari Indonesia..?"
Tanya Annisa.
Wanita itu berbicara dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih, karena itulah Annisa bertanya.
"Ya.. saya dari Indonesia..
Maaf jika saya lancang memasuki mobil kalian, tapi saya benar-benar ketakutan.."
Belum sempat wanita tersebut menjelaskan, beberapa orang pria berwajah sangar berlari mendekati mobil Reyhan.
Tanpa menunggu waktu Reyhan langsung menginjak gas dan melajukan mobilnya.
"Kenapa orang-orang itu mengejarmu..?"
Tanya Annisa yang duduk disamping kemudi.
Wanita itu tertegun sejenak, kemudian menangis.
"Maaf.. Aku gak bermaksud ikut campur.. gak apa kalo kamu gak mau cerita..Tapi, boleh kami tahu dimana alamatmu..?
Biar kami mengantarmu pulang.."
Tanya Annisa.
Wanita tersebut menggeleng.
"Aku.. Aku bingung.. Aku hak punya tujuan.. Aku juga gak punya kerabat disini.."
Jawab wanita tersebut disela isakannya.
Dan seolah mengerti dengan maksud tatapan istrinya, Reyhan hanya mengangguk.
"Kamu mau ikut bersama kami..?
Untuk sementara kamu boleh tinggal bersama kami. Setidaknya sampai kamu bertemu keluargamu.."
"Alhamdulillah... Mbak, Mas.. makasih.. makasih banyak karena bersedia menolongku.."
wanita tersebut masih menangis, namun terlihat mulai tenang.
Kemudian Annisa menyerahkan beberapa lembar tissue untuk wanita itu.
"Kalo boleh tau, siapa nama kamu..?"
Tanya Annisa.
"Aku Kirana mbak.."
jawab wanita tersebut.
"Aku Annisa, dan ini Mas Reyhan, suamiku.."
"Sekali lagi aku minta maaf mbak Annisa.. kalo aku udah lancang masuk kedalam mobil kalian.."
ucap Kirana yang tampak merasa bersalah.
"Gak apa-apa Kirana.. lagipula kami justru senang bisa membantu kamu.. apalagi kita sesama muslim, dan sesama warga Indonesia.."
jawab Annisa dengan tulus.
__ADS_1
Akhirnya mereka tiba di kediaman O-Bachan.
Setelah memarkirkan mobil, Reyhan dan Annisa membawa Kirana masuk dan memperkenalkannya kepada keluarga yang lain.
"Kirana.. Ini kamar kamu, untuk sementara kamu boleh tinggal disini. anggap aja rumah sendiri.. Dan untuk pakaian, sementara ini kamu boleh pake pakaian Reyna.."
Ujar Annisa saat mengantarkan Kirana ke kamar yang akan ditempatinya.
"Emm.. Mbak.. Boleh aku pake pakaian milik mbak aja..?
Sebenarnya aku gak nyaman dengan pakaian ini.."
jawab Kirana sambil menunjuk pakaian yang dikenakannya.
"Masya Allah.. tentu aja boleh Kirana.. Nanti aku akan minta ART untuk mengantarkan beberapa pakaian kesini.."
Annisa tersenyum.
"Mbak.. aku benar-benar gak tau gimana caranya berterimakasih sama mbak dan keluarga mbak..
Tapi aku benar-benar bersyukur karena Allah sudah menyelamatkanku melalui perantara mbak.."
"Udah jadi kewajiban kita sebagai sesama manusia untuk saling tolong menolong Kirana.. Jadi kamu gak perlu sungkan ya..
Kalo kamu perlu sesuatu, kamu bisa bilang ke aku atau ke keluarga yang lain.."
"Mbak... apa mbak keberatan mendengarkan ceritaku..?"
Tanya Kirana.
Annisa menggenggam tangan Kirana, kemudian membawanya duduk di sofa yang ada didalam kamar tersebut.
"Kalo kamu butuh teman untuk cerita, aku siap mendengarkan.."
Jawab Annisa sambil tersenyum.
"Makasih mbak..emm.. Aku, sebenarnya aku memang dari Indonesia. Aku baru tiba disini dua hari yang lalu.. Seorang teman menawarkan pekerjaan sebagai ART disini.. tapi ternyata dia menipuku.. Dia justru menjualku pada seoeang mucikari.."
Kirana mulai menangis menceritakan kisahnya.
"Astaghfirullah.. kok temen kamu sejahat itu.."
"Aku hanya gadis miskin mbak, dan aku anak yatim.
Ayahku meninggal saat aku masih kelas dua SD. Aku juga punya tiga orang adik yang saat itu masih kecil-kecil..
Sejak ayah meninggal, aku membantu ibu berdagang keliling sepulang sekolah.
Karena keterbatasan biaya, aku hanya bisa bersekolah sampai tingkat SMP. Ditambah lagi kondisi ibuku yang sakit-sakitan, akulah yang akhirnya menjadi tulang punggung keluarga sampai sekarang.
Seminggu yang lalu, seorang teman menemuiku dan menawarkan pekerjaan sebagai ART dengan gaji yang lumayan besar. Awalnya aku merasa ragu. Karena jangankan bahasa jepang, bahkan bahasa inggris pun aku tidak begitu paham.. Tapi dia terus membujukku. Bahkan dia mengatakan bahwa aku akan bekerja dengan majikan warga Indonesia yang tinggal di Jepang. Dan dia meyakinkanku bahwa aku tidak perlu belajar bahasa asing. Karena situasi mendesak, akhirnya aku menerima tawarannya.
Aku benar-benar tidak menyangka dia justru melakukan hal sekeji ini..
Dia... Dia.."
Kirana tercekat, tak mampu meneruskan ceritanya.
Bahkan Annisa pun sampai menitikkan air mata.
Sungguh tragis kisah yang Kirana alami.
Annisa memeluk Kirana yang sedang menangis.
__ADS_1