
waktu menunjukkan pukul sebelas malam saat Reyhan tiba di kediaman O-Bachan.
Sejak memutuskan membuka kantor cabang di Kobe, sangat banyak hal yang harus dia lakukan dan kerjakan. Terlebih karena dia adalah CEO dari ReRe Coorporation, perusahaan raksasa kelas Asia yang memiliki banyak anak perusahaan yang bergerak dalam bidang barang dan jasa.
Mulai dari bisnis penginapan, pusat perbelanjaan, bisnis properti dan masih banyak lagi.
Reyhan melangkahkan kakinya dengan gontai, menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Kediapan O-bachan sudah tampak sepi, karena penghuninya sudah berada di 'dunia' mereka masing-masing.
Kecuali beberapa orang bodyguard dan petugas keamanan yang memang sengaja disiagakan diarea kediaman O-bachan.
Meski perselisihan dengan Kosasih sudah berakhir, namun sebagai salah satu pengusaha sukses yang bisnisnya sedang berkembang pesat di beberapa negara di Asia pastinya Reyhan sangat memahami resiko yang harus dia hadapi.
Persaingan dalam bisnis, jauh lebih kejam dan lebih sadis daripada persaingan merebut hati seorang wanita.
batas antara baik dan buruk, halal dan haram, hanya setipis kulit bawang.
Dan sudah jadi rahasia umum juga, banyak pengusaha yang menjalankan bisnis kotor. Bahkan menyokong bisnis ilegal, hingga mafia dan tindak kriminal 'yang tak kasat mata'.
itu hal lumrah bagi para pengusaha ulung yang bisnisnya sudah merambah diseluruh penjuru negeri.
mereka biasa menyebutnya 'shadow economy'.
Reyhan membuka pintu kamar, dilihatnya istrinya yang sudah terlelap sambil memeluk kemeja miliknya.
Reyhan berjalan mendekati istrinya, kemudian dia duduk di tepi ranjang.
Perlahan dibelainya wajah Annisa dengan lembut.
Melihat istrinya yang tertidur dengan damai, seolah semua lelahnya dibawa terbang jauh entah kemana.
"Hanya dengan melihatmu, rasanya semua beban dipundakku hilang begitu saja..Aku gak tahu akan bagaimana hidupku jika kamu gak ada di sisiku.."
gumam Reyhan sambil mengelus lembut rambut panjang Annisa yang tergerai.
Annisa menggeliat, merasakan sebuah sentuhan lembut dikepalanya.
Perlahan dia membuka mata, dan wajah suaminya hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
"Mas udah pulang..?"
tanya Annisa sambil mengerjapkan mata.
"Iya sayang.."
jawab Reyhan sambil tersenyum.
"Mas udah makan..? Atau mas butuh sesuatu..?
Biar Nisa siapin.."
Annisa hendak bangkit dari tidurnya, namun Reyhan menahannya.
__ADS_1
"Tidurlah.. kamu pasti lelah.."
Ujar Reyhan.
Tanpa diduga, Annisa justru memeluknya erat.
Meski bingung dengan tingkah istrinya yang tak biasa, namun Reyhan membalas pelukan Annisa.
Kemudian dikecupnya kening Annisa dan menatapnya dengan lembut.
"Sekangen itu sama mas..?"
Tanya Reyhan sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Gak.. cuma pengen peluk aja.."
Jawab Annisa manja sambil melepaskan pelukannya.
Reyhan tergelak mendengar jawaban Annisa.
"Baiklah.. sekarang mas udah ada disini, dan kamu bebas peluk mas selama yang kamu mau.."
Ujar Reyhan sambil menyentil hidung Annisa.
"Mas.. Boleh Nisa tanya sesuatu..?"
Tanya Annisa yang tampak serius.
Reyhan tersenyum, kemudian mengangguk pertanda setuju.
Reyhan mengernyitkan kening.
"Kenapa kamu tanya begitu..?"
Tanya Reyhan yang tampak bingung.
"Ihh jawab dulu.. apa mas masih tetap mencintai Nisa, kalo seandainya nanti Nisa jadi gendut, atau kalo penampilan Nisa jadi berantakan karena gak ada waktu untuk perawatan..?"
Reyhan tertawa geli mendengar pertanyaan Annisa.
"Sayang.. kamu khawatir hanya karena masalah sepele begitu..?"
"Emm.. soalnyaaa..."
Belum sempat Annisa melanjutkan ucapannya, Reyhan langsung menarik Annisa dan mendekapnya erat.
Annisa melepaskan pelukan Reyhan, kemudian meraih ponselnya dan memberikannya pada Reyhan.
"Coba deh mas lihat ini.."
Ujar Annisa sambil menyodorkan ponselnya.
Meski masih belum mengerti, Reyhan menerima ponsel tersebut.
__ADS_1
Ternyata Annisa menunjukkan sebuah artikel yang sedang viral di sosial media dengan headline : 'Hanya Karena Terlihat Gemuk, Seorang Pria Tega Menceraikan Istrinya'
Reyhan mengernyitkan kening, namun tetap menuruti permintaan Annisa untuk melihat isi artikelnya.
"Begitulah jika kita mencintai seseorang hanya karena nafsu dan fisiknya.. Ibarat kita memakai sebuah barang.
jika barang itu rusak, kita akan membuangnya dan menggantinya dengan yang baru."
Ujar Reyhan menanggapi artikel yang baru saja dia baca.
"Mas sendiri gimana..? Apa yang mas lihat dari Nisa..?"
Tanya Annisa.
Reyhan menangkupkan kedua tangannya diwajah Annisa sambil menatapnya dengan penuh cinta.
"Sayang.. Mas mencintai kamu, karena keimananmu.. karena ketaatanmu pada Allah..
Mas gak perduli apapun keadaan kamu nanti, bagaimanapun rupamu, bagi mas kamulah satu-satunya bidadari yang mas inginkan untuk mendampingi mas sampai surga.."
jawab Reyhan dengan lembut.
"Mas yakin gak akan tergoda dengan wanita lain..?"
Tanya Annisa.
"Sayang.. Pada dasarnya semua lelaki itu sama, mudah tergoda jika melihat wanita cantik. Mas gak ingin munafik tapi memang begitulah lumrahnya lelaki..
Makanya dalam agama dikatakan, seorang lelaki wajib menundukkan pandangan terutama dari wanita yang bukan mahram.. Itulah alasan kenapa selama ini mas gak ingin terlalu sering berinteraksi dengan wanita.. Bahkan di kantor mas, karyawan wanita itu hanya ada beberapa orang aja yang memang bisa bekerja secara profesional. Dan itupun kebanyakan dari mereka sudah berkeluarga."
"Kalo diluar gimana..?"
Reyhan tergelak.
"Kalau mas keluar pun, paling sama Dennis urusan kerjaan atau sama kamu.. Sebelum Ina masuk asrama, ya dengan Ina juga tapi itupun mas banyakan fokus ngecek email di ponsel.."
jawab Reyhan polos.
"Sebelum dengan Nisa, apa mas pernah dekat dengan wanita lain..? Emm.. maksud Nisa yang dekat lebih dari sekedar teman.."
Reyhan menggeleng.
"Kenapa..?"
Tanya Annisa.
"Karena sejak kecil, mas udah janji bahwa suatu saat mas akan tunaikan tanggung jawab mas terhadap seseorang."
Jawab Reyhan.
"Maksudnya..?"
Annisa mengernyitkan kening.
__ADS_1
"Mas ngantuk.."
Jawab Reyhan sambil mengecup lembut kening Annisa.