Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
06. Anna Uhibbuka Fillah (S2)


__ADS_3

Dennis baru saja kembali.


Tampaknya hari ini dia sangat bersemangat karena dia telah berhasil meyakinkan Kim Youra untuk kelancaran proyek baru mereka. Selain itu, dia juga berhasil memenangkan tender untuk proyek lainnya.


"Bu, dimana Kirana?"


Tanya Dennis pada ibu yang sedang membantu Anjar didapur.


"Dia baru saja masuk ke kamar, sepertinya moodnya sedang tidak baik. Dennis, mohon bersabar ya. karena perangai wanita yang sedang mengandung ini sering berubah-ubah."


Jawab Ibu sambil menata piring di atas meja makan, karena sebentar lagi waktunya makan malam.


"Yaudah, Aku ke kamar dulu ya bu."


Kemudian Dennis berjalan ke arah kamarnya.


Dia tahu istrinya pasti sedang ngambek.


Karena itu dia sudah menyiapkan sesuatu untuk membujuknya.


"Assalamualaikum, sayang.."


Dennis membuka pintu kamar.


Betapa terkejutnya saat dia melihat istrinya yang sudah tersungkur di lantai dan bersimbah darah.


"Astaghfirullah.. Nana.."


Pekik Dennis yang langsung meraih tubuh istrinya yang sudah tak sadarkan diri.


Dengan sigap Dennis mencari ponsel di sakunya, namun dia tak menemukannya.


Dia segera meraih ponsel Kirana yang terletak tak jauh darinya, kemudian menghubungi rumah sakit.


"Ya Allah.. Den, apa yang terjadi? Padahal tadi Kirana baik-baik aja, kenapa sekarang dia seperti ini.."


Ibu Kirana tak kuasa menahan tangis saat melihat Dennis yang sedang menggendong tubuh Kirana.


Wajahnya tampak sangat cemas.


"Bu, kita harus bawa Kirana ke rumah sakit sekarang. Terlalu lama kalau harus menunggu ambulance."


Ucap Dennis.


Setibanya di rumah sakit Kirana langsung ditangani oleh dokter di ruang ICU.


Ibu Kirana hanya bisa menangis dan berdoa.


Sedangkan Dennis, meski dia berusaha menutupinya dengan bersikap tenang namun dialah orang yang paling khawatir.


Didalam sana, orang yang dia cintai sedang berjuang. Dan tak ada hal yang bisa dia lakukan selain mendoakannya.


Dennis terkulai di lantai koridor rumah sakit.


Wajahnya tampak kusut.


Kejadian ini adalah pukulan telak baginya.


perasaan bersalah menjalar.


Andai saja pagi tadi dia tak pergi, Andai saja dia menemani Kirana, mungkin hal ini bisa dihindari.


Dennis mengutuki dirinya sendiri. Dia merasa telah gagal menjadi suami. Dia justru melalaikan tanggung jawabnya pada Kirana hingga semua ini terjadi.


"Den, apa yang terjadi dengan Kirana?"

__ADS_1


Tanya Annisa.


Reyhan dan Annisa baru saja tiba di rumah sakit setelah sebelumnya Dennis menghubungi Reyhan.


"Sayang, kita harus tenang. Kita doakan aja semoga Kirana gak kenapa-kenapa."


Ucap Reyhan sambil menuntun istrinya untuk duduk di salah satu bangku ruang tunggu.


Annisa duduk disamping ibu Kirana, kemudian memeluk pundaknya.


"Ibu, yang sabar ya. semoga Kirana dan bayinya baik-baik aja."


Ucap Annisa.


"Ini semua salahku.."


Gumam Dennis.


"Den, ini bukan kesalahan kamu. Tapi ini adalah cobaan dari Allah.."


"Kalau saja aku gak pergi, mungkin hal ini gak akan terjadi.."


Dennis masih menggumam.


"Ini semua udah kehendak Allah Den.. Bahkan seandainya kamu jaga dia 24 jam penuh, jika memang Allah berkehendak lain kita gak bisa mengelak. Jangan menyalahkan diri kamu sendiri."


Ucap Reyhan sambil menepuk pundak Dennis.


Dennis berdiri, kemudian berjalan dengan gontai.


"Mas, Dennis mau kemana?"


Tanya Annisa pada Reyhan.


Jawab Reyhan


Setelah lama menunggu akhirnya salah satu dokter yang menangani Kirana keluar dari ruang ICU.


"Isha, jōkyō wa dōdesu ka?"


(Dokter, Bagaimana keadaannya?)


Tanya Reyhan.


"Kanja-san no otto to hanasemasu ka?"


(Bisakah aku bicara dengan suami pasien?)


"Chottomatte"


(Tunggu sebentar)


Kemudian Reyhan pergi menyusul Dennis.


"Sumimasen, Denisu-San.


Watashitachi wa anata no akachan o sukuu koto wa dekimasen."


(Kami minta maaf, Tuan Dennis. Kami tidak bisa menyelamatkan bayi anda.)


Bagai petir disiang bolong, Dennis tampak terpuruk mendengar pernyataan dokter tersebut.


"Watashi no tsuma, isha wa dōdesu ka?"


(Bagaimana dengan istri saya dokter?)

__ADS_1


Tanya Dennis.


"Kare no ketsuatsu wa hijō ni hikui. Tabun sore ga kare ga koronda riyūdesu.


Watashitachiha kanja no shikyū no naka de akachan o torinozoku tame ni shujutsu o ukenakereba narimasen."


(Tekanan darahnya sangat rendah, mungkin itu sebabnya dia jatuh. Kami harus melakukan operasi untuk mengangkat bayi di dalam rahim pasien.)


Jawab Dokter tersebut.


"Isha yo, tsuma o sukutte kudasai."


(Dokter, tolong selamatkan istriku)


Ucap Dennis lirih.


"Watashitachiha saizen o tsukushimasu"


(Kami akan melakukan yang terbaik)


Kemudian Dokter Akiko yang menangani Kirana kembali ke ruang ICU.


Operasi yang dijalani Kirana berjalan dengan lancar, namun dia masih harus dirawat diruang ICU sampai kondisinya stabil.


"Den, Kami pulang dulu. besok kami akan kembali."


Ucap Reyhan.


"Tengkyu brader."


Jawab Dennis.


Pria itu terlihat sangat terpukul, namun dia berusaha meredamnya dan tetap bersikap tenang.


"Den, setelah ini mungkin sikap Kirana berubah. Aku harap kamu bisa bersabar ya. Bagi seorang wanita, kehilangan bayinya adalah pukulan yang sangat menyakitkan."


Ucap Annisa.


Dennis mengangguk.


"Bu, ikut pulang sama Reyhan dan Nisa aja ya. Ibu pasti lelah."


Annisa menyapa ibu yang masih tampak syok atas apa yang baru saja terjadi.


Ibu Kirana menatap sekilas pada Dennis.


"Gak apa bu, biar aku yang jaga Kirana disini. Besok ibu bisa kembali lagi.


Lagipula, rumah sakit tidak menyediakan tempat untuk orang yang sehat."


Ucap Dennis.


"Yasudah, kalau ada apa-apa kabarin ibu ya nak Dennis. ibu titip Kirana."


"Iya bu.. mohon doanya aja ya, semoga Kirana segera pulih."


Akhirnya Ibu Kirana pergi bersama Reyhan dan Annisa.


Sedangkan Dennis,


dia hanya bisa terduduk diruang tunggu sambil merenungi apa yang sudah terjadi.


Dia benar-benar merasa bersalah pada istrinya.


Karena secara tidak langsung, dia lah yang telah membunuh darah dagingnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2