
Semua tim sudah bersiap di posisinya.
Tuan Restu, dan Pak Bambang sudah tiba dilokasi penyekapan.
Pak Edo menyusul dengan aparat.
Tim Reyhan dan Dennis sudah diperjalanan menuju markas besar tuan Kosasih.
Sedangkan Aldo dan timnya sudah bersiaga disekitar kediaman o-bachan.
Demi kemudahan pengamanan, Aldo meminta O-bachan, Annisa dan mertuanya berada di satu ruangan dengan penjagaan khusus.
Karena saat ini situasi tidak dapat ditebak.
bisa saja orang-orang suruhan tuan Kosasih menyerang secara tiba-tiba seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
Mereka juga menggunakan alat komunikasi khusus yang dipasang ditelinga setiap orang untuk kemudahan komunikasi dan informasi.
*Aku harus menyelesaikan semuanya segera, sebelum si tua bangka itu berbuat lebih jauh.
Batin Reyhan.
Meski sudah terbiasa dengan serangan seperti ini, namun tetap ada kekhawatiran dalam hatinya.
Bayangan peristiwa tragis yang menimpa Ody terlintas dibenaknya.
Jika tuan Kosasih sanggup melakukan hal sekejam itu terhadap orang yang sudah dia besarkan dan dia anggap sebagai putrinya, bagaimana lagi dengan orang lain..?
Malam itu semua terfokus pada situasi.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Sementara itu dilokasi penyekapan Reyna...
"Boss.. sepertinya mereka sudah tahu bahwa kitalah yang menculik putri mereka.."
Salah satu orang kepercayaan tuan Kosasih mengingatkan.
"Secepat itu..?
Cih... ternyata kemampuan analisa ketua Yakuza bukan sekedar rumor ya.."
Ujar tuan Kosasih dengan sinis.
"Apakah kita perlu memindahkannya ke markas utama..?"
"Tidak perlu.. biarkan dia disini. Aku yakin mereka akan segera tiba. Kau urus semua yang ada disini, aku akan kembali dan bersembunyi di markas utama."
jawab tuan Kosasih.
"Tapi.. bukankah ini yang anda inginkan..?
malam ini Ayah dan anak dari keluarga Arbiantoro pasti akan menyerbu tempat ini.. dan jika beruntung Anda bisa menghabisi mereka sekaligus.."
"Jika beruntung..?
Hah... aku tidak menerima kata 'jika' Joe..
Aku pasti beruntung, dan selalu begitu. Lagipula, belum waktunya bagiku untuk bermain diatas panggung..
Kau tahu Joe.. Dalam sebuah drama, dalang selalu bermain dibalik layar.."
__ADS_1
jawab tuan Kosasih sambil tersenyum sumringah.
Di dalam ruang penyekapan Reyna..
"Nona.. jangan takut. kami bertiga adalah salah satu mata-mata yang diutus oleh Dennis."
Salah seorang yang menyekap Reyna berbisik ditelinganya sambil membuka penutup mulut Reyna.
"Bagaimana bisa kalian ada disini?"
tanya Reyna yang juga ikut berbisik.
"Panjang ceritanya Nona.. yang pasti, tuan Restu sedang menuju kemari bersama orang-orangnya untuk menyelamatkan nona. dan sebelum mereka tiba, kamilah yang akan menjaga nona.."
"Tapi bagaimana mungkin..? kalian hanya bertiga, sedangkan mereka ada puluhan.. jika mereka melakukan sesuatu sebelum ayahku dan yang lain tiba bagaimana..?"
"Tenanglah nona.. Joe, orang yang sangat dipercaya tuan Kosasih itu sudah bekerja sama dengan pihak kita secara tiba-tiba entah karena alasan apa. dan kami sudah menyabotase rencana si tua bangka itu. Tuan Reyhan dan Dennis sedang bersiap menuju ke markas utama mereka.."
"Astagaa... apa sebenarnya yang terjadi..?
Kenapa keluargaku bisa terlibat dengan hal-hal seperti ini.."
gumam Reyna.
"Nanti anda bisa tanyakan langsung pada keluarga anda. tapi yang pasti, aku berani jamin anda dalam situasi aman saat ini jika mereka tidak mengetahui rencana yang sudah kami susun.."
tiba-tiba seseorang memasuki ruangan, orang yang berbicara dengan Reyna buru-buru menutup mulut Reyna kembali.
"Sesuai rencana Bim, Tuan Kosasih akan kembali ke markas utama.."
Joe menutup pintu kemudian menyandarkan dirinya dipintu tersebut.
"Lalu bagaimana situasi dimarkas utama..?
tanya Bima
"Kurasa tidak.. dan jika dia tidak menyadari sabotase yang kita lakukan, kurasa kemungkinannya sangat besar untuk membuat dia terpojok.."
"Joe.. sekarang tolong katakan, sebenarnya apa tujuanmu melakukan ini..?
bukankah kau adalah orang yang paling dipercaya oleh tuan Kosasih..?"
Joe menarik nafas dalam.
"Tadinya ya.. tapi sejak aku tahu dia sudah menghabisi Ody dengan keji, tidak lagi. sekarang aku membencinya, dan rasanya sangat ingin menghabisinya.. Andai saja saat itu aku tak pergi, mungkin aku bisa melindungi Ody-ku.."
jawab Joe dengan tatapan nanar.
"Cih.. ternyata orang sepertimu bisa gila karena cinta.."
ledek Bima sambil tertawa sumringah.
"Pelankan suaramu.. atau orang2 bodoh diluar sana akan mencurigai kita.."
Salah seorang rekannya mengingatkan sambil memukul pelan kepala Bima.
"Hey.. buka mulutnya.. kau ingin dia kehabisan nafas.."
Ujar Joe sambil menunjuk ke arah Reyna.
"Bos.. yang ditutup itu kan mulutnya, bukan hidungnya..
__ADS_1
apa cinta juga membuat mata dan akal sehatmu tidak berfungsi..?"
Ledek Bima.
Tiba-tiba...
"DOORRR...DORR..!!"
suara beberapa tembakan memecah keheningan malam itu.
"Mereka sudah tiba.. tetaplah berjaga disini.. Aku akan melihat situasi diluar.."
titah Joe kemudian dengan sigap keluar dari ruangan.
Tuan Restu sudah menyerbu masuk kedalam.
situasi menjadi tak terkendali.
perkelahian disana sini, suara tembakan dan lemparan benda-benda keras menambah hiruk pikuk tempat itu.
"Bambang, cepatlah.. sepertinya kami kalah jumlah. kami mulai kewalahan.."
Tuan Restu memberi instruksi pada Pak Bambang yang sudah bersiap diluar melalui alat komunikasi yang terpasang di telinga mereka.
Pak Bambang masuk bersama timnya, mereka langsung mengambil alih.
"Tuan, segera temui Joe dan bebaskan Reyna. Kami akan mencoba mengalihkan perhatian mereka. tapi kita tidak bisa menahan mereka terlalu lama.."
Ujar Pak Bambang.
Tak butuh waktu lama, Tuan Restu segera bertemu dengan Joe yang bersembunyi dibalik meja sambil mengawasi situasi.
"Dimana putriku..?"
Tanya Tuan Restu sambil terengah.
Joe segera menutupi wajah tuan Restu menggunakan jasnya dan menarik tuan Restu dari lokasi keributan.
Mereka menuju ke lantai dua, tempat dimana Reyna disekap.
"Anda tidak perlu khawatir, dia dalam keadaan aman."
Ujar Joe yang menyadari wajah tuan Restu tampak cemas.
"Tapi bagaimana kita bisa membawanya keluar dalam situasi kacau begini..?"
tanya tuan Restu.
"Kita bisa keluar melalui balkon. Seseorang akan segera memadamkan semua lampu begitu kita berada dibalkon dan kita bisa turun menggunakan tali yang sudah kusiapkan."
Joe menjelaskan rencananya dengan rinci.
"Tunggu.. tapi bagaimana aku bisa percaya padamu?
jangan-jangan ini juga bagian dari rencanamu.."
Ujar tuan Restu penuh selidik.
"Aku melakukan ini bukan untuk anda, tapi untuk Ody-ku yang sudah menghilang."
jawab Joe singkat.
__ADS_1
"Ody..?"
Tuan Restu mengernyitkan keningnya.