
Keesokan harinya setelah sholat dzuhur Dokter Rina menjemput Kirana dari kediaman keluarga Arbiantoro.
"Mbak Nisa,yakin gak mau ikutan?"
Tanya Kirana.
"Gak deh, kayaknya aku lagi mager.."
Jawab Annisa sambil tersenyum sumringah.
"Yaudah deh, aku pergi dulu ya mbak.."
Dokter Rina dan Kirana berpamitan, kemudian pergi bersama.
"Kita mau kemana mbak..?"
Tanya Kirana saat mereka sedang di perjalanan.
"Ke panti asuhan, Kirana. Sebenarnya dari kemaren-kemaren mbak ada rencana untuk mengunjungi anak-anak panti, tapi baru hari ini mbak ada waktu."
jawab Dokter Rina.
Dua puluh menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah panti asuhan.
Dokter Rina memarkirkan mobilnya di halaman panti.
Begitu melihat Dokter Rina keluar dari mobil, anak-anak yang sedang bermain di halaman langsung menghambur memeluknya.
"Bunda Rina.. Bunda Rina.."
Anak-anak itu tampak sangat bahagia.
"Assalamualaikum anak-anak bunda.. Kalian gak nakal kan..?"
Sapa Dokter Rina.
"Gak dong bun, kami semua kan anak yang baik."
Jawab seorang anak laki-laki.
"Anak pintar.. Karena kalian sudah jadi anak baik, bunda punya oleh-oleh buat kalian. Sebentar ya.."
Dokter Rina membuka bagasi mobilnya, kemudian memberikan beberapa kantong plastik besar berisi cemilan-cemilan untuk anak-anak.
"Ini, bagi yang adil ya.. Jangan berebut."
__ADS_1
Anak-anak itu menerima pemberian Dokter Rina dengan wajah yang sangat riang.
"Kirana, mereka adalah anak-anak yatim piatu dan yang ditelantarkan oleh orangtuanya.
Ada yang sengaja ditinggalkan disini, ada juga yang memang kedua orangtuanya sudah meninggal. Bahkan beberapa di antara mereka tidak mengenal orangtuanya, karena sejak mereka bayi mereka sudah diletakkan didepan pintu panti asuhan ini."
Kirana tercekat. Dia merasa sangat iba, melihat anak-anak yang masih polos justru harus merasakan hidup yang berat.
"Coba kamu lihat bocah lelaki kecil itu.."
Dokter Rina menunjuk seorang bocah kecil berusia sekitar tiga tahun.
"Tiga tahun lalu dia di temukan di tong sampah, gak jauh dari panti asuhan ini. Beruntung saat itu pemulung yang menemukannya langsung membawanya kesini dan anak itu bisa segera di tangani. Tubuhnya masih penuh bercak darah, bahkan tidak menggunakan sehelai benangpun."
"Astaghfirullah.. Tega banget orangtuanya."
Ucap Kirana.
"Ya, begitulah kehidupan Kirana."
"Mbak.. Aku merasa Allah gak adil.."
Gumam Kirana.
Tanya Dokter Rina.
"Disaat seseorang sangat menginginkan kehadiran malaikat kecil dalam hidupnya, tapi dia justru kehilangan. Sedangkan orang lain yang tidak menginginkannya, justru dengan mudah mendapatkannya dan akhirnya di sia-siakan bahkan dibuang dengan keji."
Ucap Kirana.
"Kirana.. Bukan Allah yang tidak adil, tapi manusialah yang tidak pernah bersyukur dan tidak pernah bisa menerima ujian dengan hati yang lapang."
"Maksud mbak Rina?"
Kirana mengernyitkan kening.
"Kirana, anak itu dibuang oleh orangtuanya, karena mereka tidak mensyukuri rejeki yang sudah Allah berikan untuk mereka. Sama seperti kamu, yang tidak bisa menerima kehilangan bayimu dengan hati yang lapang."
Kirana tertegun mendengar ucapan Dokter Rina.
"Seandainya manusia memiliki ilmu ikhlas dalam dirinya, semua ujian yang dihadapi akan menjadi berkah. Semakin kita di uji, semakin kita berusaha untuk menerimanya dengan lapang dada, maka semakin besar pula rahmat Allah untuk kita."
Perlahan-lahan, Kirana mulai terpengaruh dengan ucapan dokter Rina.
"Sekarang coba kamu lihat anak yang itu.."
__ADS_1
Dokter Rina menunjukkan seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun yang sedang bermain dan tampak sangat ceria.
"Namanya Fitri. Dua minggu yang lalu dia baru saja kehilangan kedua orangtuanya karena kecelakaan. Sedangkan keluarganya tidak bersedia merawatnya. Akhirnya dia dibawa ke panti asuhan ini."
Kirana memperhatikan anak bernama Fitri. Di wajah itu, dia tak melihat raut kesedihan. Dia bermain dengan ceria, seolah dia tak pernah merasakan kesedihan. Membandingkan dirinya dengan bocah bernama Fitri, Kirana merasa kerdil.
Bahkan anak seusia Fitri terlihat jauh lebih tegar daripada dirinya.
"Sekarang kamu lihat anak yang itu.."
Dokter Rina menunjukkan seorang anak laki-laki berusia lima tahun.
"Namanya Rian. Kedua orangtuanya sudah bercerai. Ayah dan ibunya sama-sama sudah menikah lagi, namun pasangan mereka tidak bisa menerima Rian. Dia bahkan pernah di tendang oleh ibu tirinya. Akhirnya ayahnya memutuskan untuk menitipkannya dipanti asuhan ini. Tapi dia tidak pernah membenci ayah dan ibunya. Dia bahkan sangat merindukan mereka."
Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba sebuah bola menggelinding tepat di kaki Kirana.
Seorang bocah laki-laki tampak sedikit takut hendak menghampiri mereka.
"Kasta, kemari nak.. Sini ambil bolanya.."
Ucap Dokter Rina sambil tersenyum.
Anak bernama Kasta mendekat perlahan.
"Kasta, berapa usia kamu?"
Sapa Kirana.
"Tujuh.. Tujuh tahun."
Jawab Kasta.
Kirana meraih bola dibawah kakinya, kemudian memberikannya pada Kasta.
"Ini bolanya.. Tapi kalau kamu mau bola ini ada satu syarat.."
"Apa syaratnya tante?"
Tanya Kasta.
"Mulai sekarang, Kasta dan teman-teman harus panggil tante Bunda. Sama seperti Bunda Rina. Gimana, setuju?"
Kasta mengangguk senang.
Kirana memberikan bola kepada Kasta, kemudian ikut bergabung bermain bersama anak-anak panti asuhan itu.
__ADS_1