
Entah berapa lama pertarungan sengit berlangsung, hingga akhirnya Aparat Kepolisian berhasil meringkus semua anak buah Tuan Kosasih, beserta barang bukti berupa senjata, dan puluhan kg daun ganja kering, Pil berjenis XTC, dan sabu-sabu.
Banyak korban tewas akibat pertarungan tersebut, termasuk Tuan Kosasih yang tewas akibat tembakan dikepalanya.
Dennis dan Pak Edo memapah Reyhan yang sudah tidak sadarkan diri dan segera membawanya ke rumah sakit.
Tak jauh berbeda, lokasi penyekapan Reyna juga tampak sangat kacau.
banyak korban yang tewas dan terluka.
Bahkan Pak Bambang juga tewas akibat sabetan benda tajam yang mengenai dadanya.
Bima mengalami luka berat di bagian kepala akibat hantaman benda tumpul, sedangkan Joe keadaannya tak jauh berbeda.
Banyak luka ditubuhnya.
situasi di kedua tempat sudah mulai kondusif setelah gabungan Aparat Kepolisian dan TNI mengambil alih untuk menghentikan pertarungan.
Dennis dan Pak Edo sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Keadaan Reyhan tampaknya semakin buruk.
wajahnya pucat. Darahnya telah banyak terkuras akibat luka tembakan.
Bahkan sebuah peluru masih bersarang di bahunya.
Waktu pun seolah berjalan sangat lambat.
Pukul empat pagi, Annisa tampak cemas.
sejak malam tadi hatinya tidak tenang.
begitu juga dengan o-bachan dan ibu mertuanya.
Reyna yang sudah tiba sejak malam tadi tak henti mondar-mandir karena khawatir.
Sedangkan Tuan Restu,
beberapa saat yang lalu beliau pergi bersama beberapa orang setelah mendapat kabar dari salah seorang anak buahnya.
Entah kabar apa yang dia dengar, tapi sepertinya itu bukan kabar yang baik.
wajah Tuan Restu yang lelah semakin terlihat pucat setelah mendengar entah apa yang disampaikan oleh anak buahnya.
"Sepertinya situasi sudah mulai tenang disana."
Aldo membuka keheningan diruangan itu.
"Bagaimana keadaan mas Rey dan yang lain..?"
Tanya Annisa
Aldo terdiam sejenak. Biar bagaimanapun juga, dia sudah berjanji pada Reyhan dan Dennis untuk tidak mengatakan apapun.
"Kita akan segera mengetahuinya.."
Jawab Aldo sambil menarik nafas dalam.
Dia tidak sanggup mengatakan bahwa Reyhan saat ini sedang tidak sadarkan diri akibat tertembak.
Tiga jam kemudian, Reyhan dan yang lain belum juga kembali.
Annisa semakin panik.
Berkali-kali dia mencoba menghubungi suaminya, namun selalu gagal.
begitu juga dengan Dennis.
"Aldo.. tolong jelaskan sekarang, apa sebenarnya yang sedang terjadi..?
Kenapa sampai sekarang Mas Rey dan yang lain belum juga kembali..?
Bukankah tadi kau bilang situasi disana mulai tenang..?"
Annisa menodong Aldo dengan banyak pertanyaan.
"Nona.. tenanglah.. mereka pasti sedang diperjalanan.."
Jawab Aldo berusaha menenangkan.
"Aldo.. tolong jawab dengan jujur.. apa sebenarnya yang sedang terjadi..?"
__ADS_1
tanya Bu Nirmala yang tak kalah cemas.
Sementara o-bachan dan Reyna hanya diam.
O-bachan, sudah sangat paham situasi yang terjadi saat ini.
O-bachan adalah putri tunggal dari salah satu pengusaha paling berpengaruh di Asia. Dengan latar belakang tersebut, berhadapan dengan mafia dan semacamnya sudah menjadi hal yang lumrah baginya.
Sedangkan Reyna, meski dia tidak memahami sepenuhnya namun setidaknya dia mengetahui bahwa keluarganya sedang dalam bahaya.
Seseorang ingin membalas dendam entah karena kesalahan apa, dan yang mengejutkan adalah..
Orang tersebut gembong narkoba jaringan internasional yang selama ini diburu oleh Interpol.
Dia mengetahuinya saat dia disekap. Bima yang menceritakan semuanya.
Aldo tertegun. Di satu sisi dia tidak mungkin mengingkari janjinya. Tapi dia juga tidak tega melihat kecemasan wanita-wanita dari keluarga Arbiantoro.
"Maaf nyonya, tapi saya tidak bisa mengatakannya.
Lebih baik anda bertanya langsung pada Tuan setelah dia kembali nanti."
Jawab Aldo.
Tak ingin berlama-lama merasa terpojok dan karena situasi sudah terkendali, Aldo keluar dari ruangan tersebut.
"Meski situasinya sudah kondusif, kalian harus tetap waspada. jangan sampai lengah sedikitpun. Aku akan menyusul Tuan Restu ke rumah sakit."
titah Aldo kepada beberapa orang bodyguard yang berjaga diluar ruangan.
Kemudian Aldo pergi dengan menggunakan sepeda motor sport miliknya dengan kecepatan tinggi.
Beberapa jam yang lalu...
"Aldo, tetaplah berjaga selagi kami belum kembali. Reyhan tertembak dan dia tidak sadarkan diri. saat ini kami sedang diperjalanan menuju rumah sakit."
Dennis berbicara pada Aldo menggunakan alat komunikasi yang masih terpasang ditelinga mereka.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Pukul delapan pagi, Aldo tiba di rumah sakit.
"Pasien atas nama Reyhan Arbiantoro saat ini sedang di ruang Operasi."
jawab Resepsionis tersebut.
Aldo bergegas menuju ruang Operasi.
Setibanya didepan ruang Operasi Aldo bertemu dengan Dennis.
"Bagaimana keadaannya..?"
Tanya Aldo.
"Kondisinya kritis. Saat ini tim Dokter sedang melakukan Operasi untuk mengeluarkan proyektil dari tubuhnya. Tuan Restu juga ada didalam untuk melakukan transfusi darah. Akibat tembakan itu Reyhan kehilangan banyak darah."
Aldo duduk disamping Dennis yang tampak sangat terpukul.
"Dia pasti akan baik-baik aja.."
Ujar Aldo sambil menepuk pundak saudara kandungnya itu.
"Ya.. semoga saja.."
Jawab Dennis lirih.
Sementara itu di kediaman O-Bachan...
"Kemana Aldo..?"
Tanya Annisa pada salah seorang bodyguard yang berjaga didepan.
"Dia pergi Nona.."
Jawab bodyguard tersebut.
"Apa kalian tahu sesuatu..?"
Annisa menatap beberapa bodyguard dengan tatapan menyelidik.
Bodyguard tersebut langsung menggeleng.
__ADS_1
"Maaf nona.. kami hanya ditugaskan untuk menjaga keamanan keluarga anda selama Tuan Restu dan Tuan Reyhan pergi. Kami tidak tahu apa-apa.."
jawab bodyguard tersebut.
Annisa menarik nafas dalam.
"Yasudahlah.."
Kemudian Annisa kembali ke ruangan bersama keluarganya.
Hatinya semakin tak tenang. Entah apa yang membuatnya begitu gelisah dan takut.
"Nisa.. tidurlah.. kau butuh istirahat.. kasihan calon cucu mama, pasti dia juga lelah.."
Bujuk ibu mertuanya.
Annisa menggeleng.
"Bagaimana aku bisa tidur ma.. Mas Rey belum ada kabar.."
Annisa mulai panik.
"Kamu harus tenang.. jangan terlalu banyak pikiran.. itu akan berpengaruh buruk pada kandunganmu.."
O-bachan berusaha menenangkan Annisa, namun tidak juga berhasil.
Annisa keluar dari ruangan dan bermaksud berjalan disekitar rumah untuk mengurangi kecemasannya.
dan tiba-tiba tanpa sengaja, dia mendengar percakapan dua orang bodyguard yang sedang berjaga didapur.
"lalu bagaimana kondisi tuan Rey sekarang..?"
"Yang kudengar tuan Rey dalam keadaan kritis. Dia kehilangan banyak darah akibat luka tembak dibahunya."
"PRANGGG..!!!"
Annisa terkejut hingga menjatuhkan gelas minuman yang dibawanya.
Kedua bodyguard tersebut tak kalah terkejut, melihat Annisa yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Tolong.. tolong jelaskan.. apa.. apa yang.. kalian bicarakan..?"
Annisa mulai gugup. tubuhnya bergetar hebat.
"Nona.. Maaf, sepertinya nona salah menduga.. yang kami maksudkan adalah, Rey.. Rey teman kami.. dia.. dia sedang kritis setelah tertembak.."
"JANGAN BERBOHONG..!!! Aku mendengarnya dengan jelas.. kalian menyebut 'Tuan Rey'..
ku mendengar kalian menyebut nama suamiku.."
Annisa mulai histeris dan membuat suasana rumah sedikit ricuh.
"Sekarang tolong katakan, apa itu benar..?
Apa benar suamiku dalam keadaan kritis..?"
Sambungnya.
Annisa memegang petutnya yang mulai terasa sakit.
"Maaf nona.. tapi.."
"JAWAB SAJA BENAR ATAU TIDAK..!!"
Annisa semakin histeris.
"Be.. be.. benar.. Nona.."
jawab bodyguard tersebut dengan gugup.
O-bachan, bu Nirmala dan Reyna turun kedapur karena mendengar ada keributan.
"Ada apa ini..?"
tanya Bu Nirmala.
dan tiba-tiba...
"BRUKK!!"
Annisa ambruk dilantai.
__ADS_1