
Annisa sudah tiba di kampusnya, dengan perasaan yang masih bingung dan penasaran.
"siapa sebenarnya orang itu..? dan apa tujuannya..?"
gumam Annisa
"duarrr...!!"
Dwi mengagetkan Annisa yang sedang berjalan di koridor.
"Astaghfirullah Dwi.. kamu nih kebiasaan deh.."
omel Annisa.
"hehehee.. maaf neng.. lagian kamu tuh, dari tadi aku panggil bukannya nyahut malah bengong kayak orang kesambet.."
jawab Dwi sambil tertawa.
kemudian Annisa menceritakan peristiwa yang baru dialaminya sambil menyerahkan kertas yang diberikan oleh si penguntit kepada Dwi.
"hem... biasanya siih Dennis nih jagonya membongkar teka-teki.. tapi kok dari semalam aku juga gak lihat dia ya.."
ujar Dwi
"Mungkin dia bareng Mas Rey.. katanya siih ada kerjaan diluar kota.. kamu kan tau sendiri, Dennis itu orang kepercayaannya.."
jawab Annisa.
"Mungkin juga siih.. yaudah, aku kekelas dulu yaa.. sekarang jam nya Bu Mirna.. kalo sampe telat, habislah aku.."
kemudian Dwi berjalan sedikit tergesa karena jam perkuliahan sudah dimulai.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
"Gimana Den.. udah ada orang yang lu curigain..?"
Reyhan berbincang dengan Dennis disebuah caffe.
Dennis menggeleng.
"Padahal udah dua hari gua sengaja biarin Nisa keluqr rumah sendirian, bahkan gua pake alasan keluar kota segala untuk lebih meyakinkan.. tapi kenapa sampe sekarang si tua bangka itu belum menunjukkan tanda-tansa atau reaksi apapun..?"
Pletakk!!
Dennis menyentil kening Reyhan.
"Gimana dia mau bereaksi kalo ente masih nguntitin Nisa mulu bos..?
apalagi dengan dandanan mencolok begitu, siapapun pasti langsung yakin kalo ente sengaja nguntit.. ente kira si tua bangka sebego itu mau berbuat sesuatu didepan muka ente.."
Omel Dennis.
"Hoii anak kancil.. Nisa itu istri gua.. dan gua gak mau sampe terjadi apa-apa sama dia.."
Ujar Reyhan.
"Tapi gak pake cara nguntitin dia kemana mana juga kadal.. yang ada ente justru ngerusak rencana.. kalo begini terus kita gak bakal pernah bisa mengungkap masalah ini.."
Reyhan terdiam sejenak.
"jadi gua harus gimana..?"
Tanya Reyhan.
"Sesuai rencana awal, biar aku yang urus semuanya.
kau tinggal terima beres.
lagian aku juga udah meminta beberapa anak buahku untuk ngikutin Annisa diam-diam.."
"Men ya itu mah sama aja.. tetap nguntit juga kan.. lagian lu yakin anak buah lu bisa dipercaya..? kali ternyata mereka justru kerja sama sama si tua bangka itu gimana..?"
"Justru itu kesempatan bagus bos.. aku malah berharap ada penyusup.."
Reyhan menatap Dennis dengan bingung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"sumpah ya ide lu itu gila bener.. tapi kalo sampe Annisa tergores seujung kuku, gua sendiri yang bakal obrak abrik si tua bangka itu.."
Gumam Reyhan.
"terserah ente dah.. yang jelas sekarang biar ane ambil alih dulu.."
jawab Dennis pasrah.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
"Mas Rey kemana yaa.. dari pagi gak ada kabar, chat juga gak dibalas.. apa dia sebegitu sibuknya..?"
__ADS_1
Gumam Annisa saat sedang beristirahat di kantin.
"Nis.. woii Nis.."
Dwi berkali-kali memanggil Annisa, namun tampaknya dia justru sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Plak"
Dwi memukul pundak Annisa dan membuatnya terkejut.
"Nis.. kamu kenapa siih..? seharian ini banyak bengong.."
protes Dwi.
Annisa menggeleng.
"Aku cuma kepikiran Mas Rey aja Dwi.. gak biasanya dia gak asa kabar begini.."
jawab Annisa dengan wajah lesu.
"Ciiieee... jadi ceritanya kangen suami niih.."
Ledek Dwi.
"Bukan itu.. masalahnya Mas Rey sampe sekarang sama sekali gak ada kabar.. aku cuma khawatir aja.."
Jawab Annisa yang wajahnya mulai memerah.
"Iyaa deh khawatir... khawatir kalo suami kecantol gadis lain gitu maksudnya.."
Dwi masih meledek sambil terkekeh dan membuat Annisa semakin salah tingkah.
"Eeh ngomong-ngomong Nis, aku boleh tanya sesuatu gak..?"
Tanya Dwi yang tampak serius.
"Tanya apa..?"
"Ehmm kamu sama Reyhan,, udah begituan belum..?"
tanya Dwi sambil berbisik.
"begituan apa maksudnya Dwi..?"
tanya Annisa polos.
Dwi menepuk jidatnya.
Annisa menggeleng, dengan wajah bingung.
"Maksud aku,, melakukan hubungan suami istri.."
Dwi kembali berbisik.
"Astaghfirullah Dwi...!!!"
Annisa terkejut dan wajahnya semakin memerah.
Sementara Dwi yang sadar akan kepolosan sahabatnya semakin gencar menggodanya.
"Eh kok malah astaghfirullah sih..? udah sah, udah halal juga.."
Celetuk Dwi sambil cengengesan.
"Nis.. Reyhan itu laki-laki normal.. setiap malam kalian tidur dikamar yang sama, aku yakin dia udah cukup sabar menahan hasratnya.. kalo aku jadi Reyhan, mungkin aku udah memaksa minta hak ku..atau, aku cari pelarian.."
bisik Dwi sambil terkekeh kemudian pergi meninggalkan Annisa.
"Reyhan.. setelah ini mungkin kamu harus berterimakasih padaku.."
gumam Dwi
*Dwi ngomong apaan siih.. merinding dengarnya.. tapi... kayaknya Dwi bener.. apa selama ini Mas Rey gak ada masalah dengan itu..? atau jangan-jangan...
Astaghfirullah.. aku mikir apaan siih.. gak mungkin lah mas Rey cari pelarian.. aku yakin Mas Rey suami yang setia.
Batin Annisa.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Malam itu usai shalat Isya, Annisa hendak turun kebawah dan makan malam bersama para ART.
karena mertuanya sedang ada diluar negeri. sedangkan Reyna, sudah sejak sebulan lalu dipindahkan ke sekolah asrama terbaik di London.
Namun saat akan keluar kamar, Annisa justru berpapasan dengan Reyhan.
"Mas Rey..?"
__ADS_1
Annisa menatapnya heran.
bahkan Annisa sampai mengucek matanya, mengira dia sedang berhalusinasi.
Reyhan menggenggam kedua tangan Annisa, kemudian mengecup lembut keningnya.
"Assalamualaikum sayang.."
sapa Reyhan.
Annisa yang masih sedikit canggung menundukkan wajahnya yang sudah merah.
"Waalaikumsalam mas.."
jawabnya.
"Mas, kok udah pulang..?
bukannya mas bilang pergi seminggu..?"
tanya Annisa heran.
Reyhan menggeleng.
"Kenapa..?"
tanya Annisa penasaran.
"Because i'm your guardian angel.."
jawab Reyhan sambil tersenyum dan mengecup tangan Annisa.
Annisa membulatkan mata, seolah tak percaya.
"jadi... ja-jadi..."
belum sempat Annisa menyelesaikan kalimatnya, Reyhan langsung menarik Annisa kedalam pelukannya.
"Sayang.. Mas kangen kamu.."
Ucap Reyhan sambil mengecup pucuk kepala Annisa yang juga membalas pelukannya.
"Mas kemana aja.. kenapa seharian gak ada kabar..?"
protes Annisa yang masih memeluknya dengan erat.
"Maaf.. ada beberapa hal yang harus mas urus.."
jawab Reyhan sambil mengelus kepala Annisa.
tiba-tiba Annisa teringat ucapan Dwi siang tadi.
"Mas... Icha minta maaf..."
Gumam Annisa sambil menangis.
Reyhan yang tidak mengerti mencoba menenangkannya.
"Sayang.. kamu baik-baik aja..?
apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu..?"
tanya Reyhan yang sedikit cemas mendengar Annisa terisak dipelukannya.
"Mas.. maafin Icha.. selama ini Icha udah jadi istri durhaka.. Icha udah mengabaikan tanggung jawab Icha sebagai istri.. Icha minta maaf..."
Annisa semakin terisak.
"Sayang.. kamu ngomong apa..? kamu bukan istri durhaka.. justru kamu adalah istri terbaik.. istri soleha.. dan mas beruntung bisa menjadi suami kamu.."
jawab Reyhan yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas.. Icha siap untuk mengabdi, dan menjalankan tanggung jawab Icha sebagai istri sepenuhnya.."
Ucap Annisa lirih.
Reyhan melepaskan pelukannya, kemudian menatap wajah sendu Annisa dengan tatapan penuh cinta.
"Mas.. Icha siap untuk memberikan hak mas sebagai suami.."
bisik Annisa dan membuat Reyhan tersenyum bahagia.
kemudian tanpa aba-aba, Reyhan menggendong Annisa kekamar.
Setelah membaringkan Annisa diatas ranjang, Reyhan mengecup keningnya sambil membaca doa.
(eeaakkk...eeeaaakkk... lanjut adegan 21+ yaak.. silahkan bayangkan sendiri..Author masih terlalu polos..😂😂😂)
__ADS_1
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆