
"Bos.. aku udah cek langsung ke alamat apartemen yang tertera di data pemilik sepeda motor itu, dan ternyata memang benar Hendrik tinggal disana.
Tapi memang aneh menurutku bos..
bagaimana mungkin anak seorang petani bisa tinggal di apartemen mewah itu.."
Dennis menceritakan hasil penemuannya pada Reyhan.
"Apa menurutmu si tua bangka itu ada dibalik semua ini Den..?"
tanya Reyhan sambil mempersilahkan Dennis untuk duduk dengan isyarat tangan.
"Bisa jadi bos.. dan aku pun merasa janggal dengan alibinya.."
jawab Dennis.
"Alibi..?"
Reyhan mengernyitkan kening.
"Tadi aku mergokin dia ketika akan masuk ke gedung apartemen itu. awalnya dia tidak mengaku, tapi setelah kupaksa akhirnya dia mengakui bahwa memang dia yang kemarin mengintai rumahmu. tapi dia bilang dia justru tidak tahu jika itu adalah rumahmu. dia hanya merasa tertarik dengan desain bangunannya."
"Desain bangunan..? Bukankah dia mahasiswa di jurusan Manajemen..?"
Reyhan keheranan.
"Nah itulah yang membingungkan bos.. jika memang dia tertarik dengan desain bangunan, kenapa dia tidak mengambil kuliah jurusan arsitektur.. dia justru memilih jurusan manajemen.."
"Den.. tolong awasi Hendrik.. kurasa memang dia mencurigakan. sebenarnya aku ingin menemuinya secara langsung dan mendesaknya untuk bicara.
tapi sepertinya Nisa sangat mempercayainya. aku tidak bisa bertindak gegabah.. bahkan kejadian di perpustakaan hari ini entah dengan cara bagaimana Hendrik berhasil mendramatisir situasi sehingga Nisa justru menyalahkanku.."
"Hahaha.. kurasa wajar jika istrimu bersikap begitu. lagipula tentulah orang lain akan menyalahkanmu.. selama ini satu kampus mengenalmu karena sikapmu yang arogan dan suka semena-mena.. Hanya saja mereka tidak berani bicara karena takut di DO.."
Ledek Dennis.
"Sialan kau.."
ujar Reyhan sambil menepuk lengan Dennis.
"Jadi, apa rencana selanjutnya..?"
tanya Dennis dengan wajah serius.
"soal itu, kita gak bisa omongin disini. aku takut tiba-tiba Nisa muncul dan mendengar semuanya.."
ujar Reyhan.
Dan benar saja, tak lama kemudian Annisa muncul dengan wajah ditekuk.
"Mas Rey..."
panggil Annisa.
"Iya sayang.."
Jawab Reyhan sambil mengerling pada Dennis, dan dibalas dengan anggukan.
"Aku lapar.."
Ucapnya sambil duduk di samping Reyhan.
"Yaudah, mas minta bi Minah masak ya.. kamu mau makan apa..?"
tanya Reyhan.
Annisa menggeleng.
"Aku maunya makan masakan mas.."
jawab Annisa sambil tersipu malu, terlebih karena Dennis juga mendengarnya.
"Don't worry Annisa.. suamimu ini cheff handal.. aku sendiri curiga, jangan-jangan selama ini diam-diam dia juga menjadi koki restoran bintang lima.."
Dennis sesumbar sambil tersenyum sumringah.
Sementara Reyhan yang salah tingkah hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yaudah.. kamu mau mas masakin apa..?"
tanya Reyhan.
__ADS_1
"emm... kayaknya hari ini aku lagi pengen makan ikan gurame goreng dan cah kangkung, lengkap dengan sambal terasi.."
jawab Annisa.
*alamakk.. sambal terasi.. gimana cara bikinnya coba.. kenapa dia gak pengen makan steak, spaghetty, atau seafood gitu..
Batin Reyhan.
"Mas.. kok diam..?"
Annisa mengguncang lengan Reyhan, sementara Dennis hanya tersenyum menahan tawa.
Reyhan melirik ke arah Dennis, seolah meminta bantuan.
Namun Dennis mengangkat kedua tangannya sambil tertawa.
"Ayolah cheff Reyhan.. tunjukkan kemampuanmu pada istrimu.."
Ledek Dennis.
Reyhan mendelik ke arah Dennis dengan tatapan mematikan.
"Sayang.. kamu gak pengen makan steakz atau seafood aja gitu..?"
Reyhan berusaha memberi penawaran, dan Annisa justru menekuk wajahnya pertanda tidak setuju.
"Itu namanya ngidam bos.. harus diturutin loh.. kata orang-orang tua dulu kalo ngidamnya gak kesampean ntar anaknya lahir ileran.."
Dennis masih meledek sambil menahan tawa.
"Nah.. Dennis aja paham.."
Sambung Annisa.
"Yaudah deh.. mas kalah.."
jawab Reyhan sambil menarik nafas dalam.
dan melirik ke arah Dennis.
tatapannya seolah berkata
"Sialan kau Den, bukannya membantu malah ngomporin.. pake bilang aku cheff handal segala"
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Sementara itu ditempat lain...
"Biar gimanapun juga mereka harus tahu soal ini.. jangan sampai orang-orang yang tidak bersalah menjadi korban. Aku harus segera memberitahu mereka.."
Seorang wanita berpenampilan lusuh berdiri di gerbang kantor ReRe Coorporation.
Seorang satpam menghampirinya dan memberikan selembar uang dua puluh ribuan karena mengira wanita itu adalah pengemis.
Wanita itu menutupi kepalanya dengan kerudung hingga menutup sebagian wajahnya.
Sedangkan sebagian wajahnya yang terlihat, kulit dan dagingnya tampak terkelupas.
mungkin akibat luka bakar.
"Maaf pak, saya bukan pengemis.. tolong, serahkan saja surat ini kepada tuan Reyhan.."
ujar wanita tersebut menolak uang yang diberikan oleh satpam, dan justru malah memberikan selembar kertas pada satpam itu.
"Tapi Pak Rey sedang tidak ada ditempat. mungkin beberapa hari kedepan beliau juga tidak akan datang kekantor."
Jawab satpam tersebut.
"Tolong pak.. ini sangat penting.. tolong segera sampaikan surat ini kepada Bos bapak.. saya mohon.."
Satpam tersebut tampak menimbang, dan akhirnya menerima surat dari wanita itu.
"Maaf, tapi ada urusan apa anda mengirimkan surat kepada pak Rey..?"
tanya satpam tersebut.
"Pokoknya berikan saja surat itu segera, dia akan mengerti setelah membacanya. itu sangat penting dan dia pasti akan berterimakasih karena surat itu."
Jawab wanita itu dan langsung pergi meninggalkan gerbang kantor ReRe Coorporation.
Satpam tersebut masih terpaku, hingga pak Edo menghampirinya.
__ADS_1
"Masih muda udah ngelamun.. nanti jodohnya jauh.."
ledek pak Edo sambil menepuk pundak satpam tersebut.
"Pak.. mau pulang..?"
tanya satpam tersebut.
"Tidak.. sore ini saya ada meeting dengan klien menggantikan pak Rey.. tapi sebelum itu saya akan kerumah pak Rey mengambil beberapa berkas yang diperlukan."
jawab Pak Edo.
"Kebetulan bapak mau kesana.. tolong sekalian sampaikan surat ini pak.."
Satpam tersebut menyerahkan selembar surat yang dititipkan oleh wanita tadi.
"Surat..?"
Pak Edo tampak heran.
"Tadi ada wanita berpenampilan lusuh datang kesini dan menitipkannya.. dia bilang surat itu sangat penting dan harus segera disampaikan kepada pak Rey.."
jawab satpam tersebut.
"Yasudah.."
Pak Edo menerima surat tersebut, meski dengan perasaan yang bingung.
Saat diperjalanan, Pak Edo memberanikan diri untuk membaca surat tersebut.
dan betapa terkejutnya pak Edo saat mengetahui isi surat tersebut.
"TUAN REYHAN ARBIANTORO, WASPADALAH. LINDUNGI ISTRIMU. DIA YANG AKAN MENJADI TARGET BERIKUTNYA."
Itulah isi surat yang diberikan satpam tadi, yang ditulis dengan huruf kapital.
tangan Pak Edo gemetar.
kilasan peristiwa penyerangan yang terjadi beberapa minggu lalu masih tergambar jelas dibenaknya.
meskipun Pak Edo tidak sepenuhnya mengetahui permasalahan bosnya itu, namun setidaknya dia sangat paham jika keluarga Arbiantoro jelas memiliki musuh.
Pak Edo langsung meraih ponselnya, mengambil gambar surat tersebut dan mengirimkannya melalui pesan whatsapp kepada Reyhan dan Dennis.
"Pak Sapto, tolong putar balik ke kantor.. ada hal yang harus saya cek.."
Pak Edo memberi perintah pada Pak Sapto, Supir kantor yang akan mengantarnya.
"Baik Pak.."
jawab Pak Sapto dan kemudian dengan sigap memutar balik posisi mobil.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
"Lelucon apa ini..??"
Reyhan tampak syock setelah melihat gambar yang dikirim oleh Pak Edo.
Tanpa sadar dia menjatuhkan pisau yang tadi dipegangnya hingga menimbulkan suara berisik.
"Mas.. ada apa..?"
Tanya Annisa yang langsung menemui suaminya yang sedang memasak didapur.
"emm.. bukan apa-apa sayang.
sebentar ya, Mas mau telfon pak Edo dulu.."
jawab Reyhan.
Meski dia berusaha tenang, namun kecemasan tergambar jelas dari wajahnya.
"Mas Rey kenapa..? apa jangan-jangan ada masalah di kantor..?"
gumam Annisa.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Hayoo hayooo... kira-kira ada yang bisa nebak siapa wanita misterius itu..??
😂😂😂
__ADS_1
tunggu di episode berikutnya yaa..😉