
Siang itu Reyhan tengah disibukkan dengan semua pekerjaannya.
Dia bahkan sampai mengabaikan panggilan di ponselnya.
Tepat pukul lima sore, saat dia mulai bisa bersantai.
Diraihnya ponselnya hendak menghubungi Annisa.
Entah kenapa mendadak dia merasa sangat merindukan istrinya.
Dia mengernyitkan kening saat melihat 15 panggilan tak terjawab dari Bi Ijah.
Dan ada beberapa notifikasi pesan masuk, yang juga dari Bi Ijah.
'Den.. Non Annisa pingsan, dan sekarang sudah ada dirumah sakit XXXX. tolong segera kesini den.. Kasihan non Annisa.'
Reyhan nyaris saja menjatuhkan ponselnya saat melihat pesan tersebut.
"Pak, sebentar lagi kita ada meeting dengan.."
Belum sempat staffnya menyelesaikan kalimat Reyhan langsung menyelanya.
"Tolong batalkan semua agendaku hari ini dan tolong dijadwalkan lain waktu. jika klient menolak aku akan menanggung ganti ruginya. Dan tolong handle semua urusan disini. Aku harus segera kerumah sakit."
Tanpa berkata panjang lebar lagi Reyhan langsung bergegas keluar dari ruangannya dan pergi kerumah sakit tempat Annisa dirawat.
"Apa yang terjadi bi..? Kenapa Annisa sampai pingsan..?"
Tanya Reyhan setibanya dirumah sakit.
"Sebaiknya den Reyhan langsung berbicara pada dokter yang menangani non Annisa. bibi kurang paham dengan penjelasan dokternya.."
jawab Bi Ijah.
Reyhan segera menemui dokter Akiko, dokter spesialis kandungan di rumah sakit tempat Annisa dirawat.
"Watashi no tsuma wa genki desuka?"
(bagaimana kondisi istri saya?)
Tanya Reyhan pada Dokter Akiko.
"Anata no tsuma ni wa kōketsuatsu ga arimasu. Kore wa tashika ni arifureta kotodesuga, kashō hyōka shite wa ikemasen. Sore wa kanojo no ninshin ni akueikyō o oyobosu kanōsei ga aru tamedesu."
(istri anda mengalami hipertensi. Ini memang hal yang biasa terjadi, tapi jangan sampai dianggap remeh. karena itu bisa berpengaruh buruk pada kehamilannya.)
Jawab Dokter Akiko.
"Nani ga gen'indesu ka?"
(Apa penyebabnya?)
"Tsūjō, hirō ga gen'in de hassei suru ka, sutoresu ga gen'indearu kanōsei ga arimasu. Tokuni ninshin-chū no baai wa, tsuma no kanjō o mamotte kudasai."
(biasanya itu terjadi karena kelelahan, atau bisa juga dikarenakan stress. tolong jaga emosi istri anda, terutama saat dalam keadaan hamil.)
"Arigatō, dokutā."
(terimakasih, Dokter)
Setelah berbicara dengan dokter Akiko, Reyhan menuju keruang dimana istrinya dirawat.
Annisa masih belum sadarkan diri.
Selang infus sudah terpasang dipergelangan tangannya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi bi, kenapa Annisa bisa seperti ini..?"
tanya Reyhan pada Bi Ijah yang juga sedang berjaga diruangan tersebut.
"Bibi juga gak tahu den.. Tadi siang bibi lihat non Annisa sudah tergeletak pingsan diruang kerja aden. Bibi langsung minta bantuan beberapa orang ART dan membawa non Annisa kesini, karena bibi takut terjadi apa-apa sama non Annisa dan kandungannya. Bibi udah coba hubungi aden beberapa kali, tapi gak ada jawaban.."
Bi Ijah tampak merasa bersalah.
Reyhan terhenyak disalah satu kursi. ditatapnya istrinya yang tengah terbaring tak sadarkan diri, kemudian diusapnya wajahnya dengan kasar.
"Mas minta maaf sayang.. mas udah gagal menjaga kamu dan anak kita.."
Gumam Reyhan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Bibi pulang aja, biar aku yang jaga Annisa disini. dan tolong jangan katakan apapun pada keluargaku. Kalau mereka tanya, bibi bilang aja aku lagi bawa Annisa liburan."
Bi ijah mengangguk, kemudian berpamitan dengan Reyhan.
Reyhan menarik sebuah kursi, kemudian duduk disamping ranjang pasien.
Diraihnya ponsel didalam saku kemejanya, sambil membuka aplikasi Al-Qur'an dj ponsel.
Reyhan mulai melantunkan ayat-ayat suci, sambil berharap istrinya segera siuman.
Keesokan paginya, Annisa mulai siuman.
saat membuka mata, dia melihat sekeliling berwarna putih.
"Aku dimana.."
Gumamnya.
Reyhan yang sejak semalam terjaga disampingnya langsung merengkuh Annisa.
jawab Reyhan sambil tersenyum haru melihat istrinya yang sudah mulai siuman.
"Mas Rey.."
Annisa tampak terkejut melihat Reyhan ada didekatnya.
Tiba-tiba dia kembali teringat benda-benda yang dia temukan diruang kerja Reyhan.
"Mas.. tolong jawab dengan jujur, apa benar Kosasih adalah mantan supir pribadi mas..?"
Reyhan mengernyitkan kening.
Istrinya baru saja siuman, namun dia justru menanyakan hal yang sangat mengejutkan.
"Sayang, kenapa kamu tanya soal itu..?"
tanya Reyhan.
"Jangan membalas pertanyaan dengan pertanyaan mas..jawab saja pertanyaanku.."
Ujar Annisa dingin.
Meski masih bingung dengan sikap istrinya, namun Reyhan berusaha berpikir positif.
"Iya sayang, dia mantan supir mas.."
jawab Reyhan.
"Apakah dia orang yang pernah mencoba menculik mas 18 tahun lalu..?"
Reyhan mengernyitkan kening, kemudian mengangguk sambil menatap Annisa dengan tatapan bingung.
__ADS_1
"Apakah peristiwa percobaan penculikan yang berakhir dengan kecelakaan itu terjadi di Jl. XXX pada tanggal 10 april..?"
Reyhan tampak mulai paham arah pembicaraan Annisa, namun sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya.
Reyhan hanya tertegun, dan tak tahu harus mengatakan apa.
"Tolong jawab mas.. apa itu benar..?"
tanya Annisa.
"Sayang.. tolong jangan berpikir hal yang tidak-tidak.. kamu harus ingat, sekarang kamu sedang mengandung.."
"Bagaimana aku tidak memikirkan hal yang tidak-tidak, jika suamiku sendiri menyimpan terlalu banyak rahasia dariku..?"
Annisa mulai berteriak.
"Sayang, tolong jangan seperti ini.. kamu boleh marah sama mas, tapi tolong.. jangan menyakiti anak kita yang ada didalam rahim kamu.."
"Lalu apa kamu sendiri tidak menyakiti mas..?
kamulah yang menyebabkan ini semua..!!"
"Astaghfirullah Annisa Ramadhani.. Jangan meninggikan suara dihadapan suami kamu."
Reyhan mencoba tetap tenang, meskipun tak dapat dipungkiri emosinya juga mulai tersulut.
"Iya, itu memang benar. Dan kalau kamu ingin tahu kenyataan yang sebenarnya, kecelakaan itulah yang menyebabkan ayah kamu kritis dan akhirnya meninggal. itu kan yang ingin kamu dengar?"
Annisa terhenyak. Dadanya terasa sesak. Bahkan sesaat sebelumnya dia berharap itu semua tidak benar. Namun kali ini justru hal yang paling dia takutkan benar adanya.
"Kenapa mas... Kenapa kamu menutupi ini semua dari aku..? Dan kenapa kamu malah menikahiku..? Apakah kamu melakukan ini semua untuk menutupi rasa bersalah kamu?"
Annisa mulai terisak.
"Sayang.. mas minta maaf. ini gak seperti yang kamu pikirkan.. tolong percaya sama mas.."
"Gimana aku bisa percaya sama kamu mas..? bahkan kamu sudah menyembunyikan hal sebesar ini dariku.. gimana aku bisa percaya..?"
"Mas tahu mas salah.. tapi tolong percaya sama mas.. mas punya alasan kenapa mas belum ceritain semua ini sama kamu.."
Annisa menggeleng.
"Gak mas.. aku gak bisa.."
ujarnya sambil terisak.
Reyhan menarik napas dalam.
"Jadi, apa yang kamu inginkan sekarang?"
tanya Reyhan
Annisa tertegun sejenak, kemudian memejamkan matanya.
"Talak aku mas.."
Reyhan terkejut bukan kepalang mendengar perkataan Annisa.
Bagaimanapun juga dia adalah manusia biasa, yang juga punya ego dan batas sabar.
"Talak..? Kamu minta mas talak kamu..?
Sadarlah Annisa Ramadhani.. sekarang kamu sedang mengandung anak kita.. dan jangan pernah berharap mas akan menalak kamu, karena mas tidak akan pernah melakukan itu. Kamu akan tetap menjadi istri mas, sampai kapanpun."
Reyhan berdiri, kemudian meninggalkan Annisa yang sedang menangis.
__ADS_1