Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
113. Permintaan Kecil Nabila


__ADS_3

Dennis melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Malam itu dia merasa sangat bahagia.


Sudah sangat lama dia tidak merasakan kebahagiaan dan kehangatan keluarga seperti yang dia rasakan dengan keluarga Kirana.


Tiba-tiba dia teringat dengan pertanyaan Nabila sebelumnya.


"Kak Denis punya ayah..?"


Pertanyaan Nabila dan wajah sendunya saat mengatakan tentang ayahnya,


Dennis menarik napas panjang.


Ayah..


Dia sendiri bahkan tidak pernah tahu bagaimana rasanya disayangi oleh sosok ayah.


Hingga selama ini baginya, ada dan tidak ada sosok ayah dalam hidupnya tidak ada pengaruh apapun.


Tentu dia memiliki ayah.


Dan ayahnya, adalah ketua mafia paling disegani di Asia.


Ya, ayahnya adalah pimpinan Yakuza.


Sangat ironis memang, ketika Dia justru tidak pernah sekalipun merasakan kasih sayang dari ayahnya.


Setiap hari dia hanya di kawal oleh bodyguard-bodyguard yang sengaja dibayar oleh ayahnya. Setiap hari dia dihadapkan pada bahaya yang selalu mengintai.


Karena itulah dia selalu berpikir bahwa dia harus menjadi sosok yang cerdas dan tangguh.


Dia harus bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari ancaman yang setiap saat mengintai nyawanya.


Bahkan itu terjadi sejak dia masih diusia bocah.


Ketika anak seusianya asyik bermain gunduh, atau bermain layangan dan lain sebagainya, Dia justru harus bermain petak umpet dengan penjahat-penjahat bayaran yang mengincar nyawanya.


Ketika anak seusianya asyik menonton kartun super hero atau bermain pistol-pistolan, Dia justru harus menjadi hero untuk dirinya sendiri dan menggunakan pistol sungguhan.


Jika bagi kebanyakan anak seusianya menikmati waktu bersama keluarga adalah hal yang biasa,


itu tidak berlaku bagi Dennis.


Bahkan hanya sosok ibunya lah yang selalu memberinya semangat dan dorongan.


Dan hanya ibunya juga yang selalu mengingat hal-hal sepele tentangnya, termasuk hari ulangtahunnya.


Bagi Dennis, ibunya adalah sosok malaikat. Hanya karena ibunya lah, dia masih bisa tersenyum ceria dan menikmati hidupnya yang jauh berbeda dari anak-anak seusianya.


Namun sejak ibunya pergi, Dia seperti kehilangan tumpuan hidup.


Dia seperti seonggok daging dan tulang, tanpa perasaan.


Sejak itulah dia menjadi sosok yang dingin dan tertutup, bahkan sekalipun itu terhadap Aldo, adik kandungnya sendiri.


Hingga akhirnya pertemuannya dengan Reyhan, hidupnya mulai berubah.


Merasa dirinya dan Reyhan memiliki nasib yang sama, akhirnya mereka bersahabat.


Meskipun mereka telah lama saling mengenal, namun Dennis tidak pernah sekalipun membuka semua kisah hidupnya secara gamblang.


Tak seorangpun tahu apa yang dia pikirkan, apa yang dia rasakan.


Tapi hari ini, celah pintu hatinya seolah mulai terbuka.

__ADS_1


Jiwanya yang telah lama rapuh dan kehilangan arah, perlahan mulai menemukan jalan.


☆☆☆☆☆


Keesokan paginya, Dennis sedang bersiap kekantor saat tiba-tiba ponselnya berdering.


Diliriknya sekilas kelayar ponsel, senyumnya mengembang saat melihat nama Kirana tertera disana.


Tanpa berpikir panjang, Dennis langsung menerima panggilannya.


"Assalamualaikum.. Mas, lagi sibuk gak..?"


tanya Kirana.


Dennis berpikir sejenak.


"Waalaikumsalam.. Emm, gak juga sih.. Aku lagi siap-siap kekantor.. ada apa Kirana..?"


"Emm.. gini mas, kebetulan kan hari ini aku masak banyak.. Niatnya sih aku pengen nganterin untuk mas, tapi aku gak tau mas tinggal dimana.."


"Oh.. Yaudah, sebentar lagi aku kesana.."


jawab Dennis.


Saat diperjalanan Dennis tampak sumringah.


Dia bahkan mengendara mobil sambil bersenandung, hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.


Perhatian yang diberikan Kirana dan keluarganya, entah kenapa hal itu membuatnya merasa sangat bahagia.


Setibanya di apartemen Dennis disambut hangat oleh keluarga Kirana, terutama Nabila.


Mereka menikmati sarapan bersama pagi itu.


Tawar Nabila saat mereka baru saja menyelesaikan sarapan.


"Bila.. Kak Dennis kan mau berangkat kerja.. Bila main ludonya sama kakak aja ya.."


ucap Anjar.


Nabila menunduk, wajahnya tampak sedih.


Dennis berpikir sejenak. Dia tak tega melihat raut kecewa diwajah Nabila.


"Oke, ayo kita main.."


jawab Dennis.


Seketika wajah Nabila langsung terlihat sumringah.


"Mas, emang gak apa..?


kerjaan kamu gimana..?"


Tanya Kirana yang tampak sungkan.


"Gak apa.. lagian hari ini kerjaanku juga gak banyak, jadi bisa santai.."


jawab Dennis.


"Yang kalah harus nurutin permintaan yang menang ya.."


Ucap Nabila antusias.


Tentu saja Dennis sangat paham bagaimana cara bermain dengan Nabila.

__ADS_1


"Siappp tuan putri..."


jawab Dennis sambil mengacungkan jempolnya.


Dan akhirnya...


"Horeeee... aku menang lagi.. jadi, kak Dennis harus nurutin satu permintaanku.."


Ucap Nabila yang tampak sangat girang.


"Baiklah tuan putri.. Jadi, apa permintaannya..?"


Tanya Dennis.


"Mulai hari ini sampe seterusnya, Kak Dennis harus sarapan disini, dan makan malam disini.."


Jawab Nabila dengan sangat yakin.


Dennis tertegun mendengar permintaan Nabila.


"Kakk.. Kenapa diam..? Gak boleh ya..?


Yaudah deh, aku ganti permintaannya.."


Ucap Nabila dengan nada lirih. dari wajahnya tampak bocah itu kecewa.


Dia pasti sangat berharap keinginannya bisa dipenuhin oleh Dennis.


"Bila.. Kak Dennis kan pekerjaannya banyak, jadi gak bisa setiap hari main kesini.."


bujuk Kirana.


"Emmm.. tapi karena ini adalah titah tuan putri, Kak Dennis siap laksanakan.."


jawab Dennis tiba-tiba.


Kirana dan Nabila menatap Dennis, bahkan Nabila langsung memeluknya.


"Makasih tuan malaikat.."


Ucap Nabila.


Dennis mengusap kepala Nabila dengan lembut.


"Mas.. aku minta maaf ya, kalau permintaan Nabila memberatkan kamu.."


Ucap Kirana saat mengantarkan Dennis keluar apartemen.


"Gak apa kok.. lagian apartemen aku juga gak jauh dari sini.."


jawab Dennis sambil tersenyum.


"Aku jadi ngerasa gak enak sama mas Dennis, karena udah terlalu banyak ngerepotin.."


"Kamu gak ngerepotin kok.. Lagian, memang aku yang ingin melakukannya. Aku justru senang bisa menghabiskan waktu dengan keluarga kamu.."


jawab Dennis sambil tersenyum.


"Makasih banyak ya mas.."


Ucap Kirana sambil tersenyum tulus.


"Sama-sama.. Yaudah, aku berangkat dulu ya.."


Kirana tersenyum sumringah melihat mobil Dennis yang telah melaju.

__ADS_1


__ADS_2