
Dennis memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi.
Akhirnya, dia tiba didepan sebuah gerbang besi yang sangat tinggi.
Gerbang tersebut tertutup, hingga bangunan yang ada didalamnya tidak terlihat.
Beberapa orang tampak siaga berjaga diluar.
Dennis turun dari sepeda motor, dan berjalan menuju gerbang.
"Doa o akete"
(Buka pintunya)
Titah Dennis dengan wajah dinginnya.
"Yangumasutā, tsuini anata ga modotte kimashita"
(Tuan Muda, akhirnya Anda kembali)
Sapa salah satu penjaga gerbang.
"Jōdanjanai! sugu ni mon o hiraku"
(Aku tidak bercanda! Buka gerbangnya segera.)
Hardik Dennis sambil menatap tajam penjaga gerbang.
Jika saja Dennis bukanlah anak sulung dari bos mereka, sudah pasti mereka akan menghadiahi bogeman padanya bahkan sebelum dia sempat bicara.
penjaga gerbang tersebut menuruti perintah Dennis, kemudian membuka pintu gerbang.
Tampaklah sebuah bangunan bergaya khas jepang.
rumah itu hanya satu lantai, namun tampak sangat luas.
taman asri dengan sebuah kolam kecil menjadi penyejuk mata di sisi kiri bangunan.
Dennis melangkah dengan tegas, diikuti tatapan dari orang-orang yang ada disekitar rumah tersebut.
Ya, ini adalah kediaman pimpinan mafia terbesar dan paling disegani di Asia : Yakuza.
Hal yang wajar jika banyak orang dengan wajah beringas dan berbadan kekar disekitar rumah ini, karena mereka adalah pasukan khusus yang sengaja dibayar mahal untuk menjaga keamanan di kediaman tersebut.
"Yōkoso, wakai masutā..Anata wa mada kaerimichi o oboete imasu"
(Selamat Datang Tuan Muda, Kau masih ingat jalan pulang)
Sapa seorang pria berusia 40an sambil tersenyum.
Pria itu bertubuh atletis. Kulitnya putih khas kulit ras jepang, dengan wajah damai yang tampak sudah mulai tua.
Tapi, jangan terkecoh...
Pria inilah yang berhasil menakhlukkan hampir seluruh dataran Asia.
Dia salah satu orang yang paling disegani, di kalangan 'dunia gelap'.
Dia adalah pemimpin Yakuza : Ayah Dennis.
Pria itu berdiri dihadapannya, sambil tersenyum sumringah.
Jika saja orang tidak mengenalnya, melihat wajah damainya tersebut orang akan mengira dia adalah sosok ayah yang lemah lembut dan penyayang.
"Kanojo wa dokodesu ka?"
(Dimana dia?)
Tanya Dennis dengan tegas.
"Nē, ano wakamono o isoga senaide"
(Hei, jangan buru-buru anak muda)
Ujar Ayahnya.
__ADS_1
"Asobi ni kite"
(Ayo bermain)
sambungnya sambil melemparkan sebilah pedang ke arah Dennis.
Dennis menangkapnya dengan mantap.
kemudian dia berdiri tepat dihadapan ayahnya.
Permainan dimulai.
Dennis berusaha mengimbangi gerakan ayahnya, sambil mencoba sebanuak mungkin menghindar dari sabetan pedang.
Harus dia akui, ayahnya adalah salah satu pemegang pedang terbaik yang dia kenal.
Bahkan, ayahnya bisa dengan mudah menghabisi banyak lawan hanya dengan satu tangan jika sudah menggunakan pedang.
Tapi, bukan Dennis namanya jika bermain tanpa perhitungan.
Dia mempelajari gerakan ayahnya.
Tentu saja, seorang samurai sejati memiliki pola gerakan yang unik. Tidak sembarang menebas.
sama seperti olahraga Karate.
Setelah berhasil membaca pola gerakan ayahnya sambil masih terus menghindar, Dennis berusaha mencari celah untuk meojokkan ayahnya.
Dan akhirnya,
Nyaris saja!
Kali ini pedang Dennis hanya berjarak satu senti dari leher ayahnya, dan dengan itu permainan berakhir.
"Anata wa hontōni watashi no kodomodesu"
(Kau memang benar putraku)
Ucap ayahnya sambil menepuk pundak Dennis.
(Sekarang tolong katakan. Dimana dia?)
Ayah Dennis tertawa nyaring.
"Anata wa nagaiai-ka ni imasendeshita.
Hanashimashou.."
(Kau sudah lama tidak pulang. Ayo bicara..)
pinta ayahnya sambil tersenyum. Dari mata itu jelas terpancar kerinduan yang besar terhadap putra sulungnya.
"Kare ga doko ni iru ka oshietekudasai"
(Tolong katakan dimana dia)
Ucap Dennis dengan wajah datar.
"Anata wa mada mae no yōdesu."
(Kau masih seperti dulu)
jawab ayahnya.
"Mochiron, watashi wa kawatte imasen."
(Tentu, aku belum berubah)
ujar Dennis
"Anata no nikushimi o fukumimasu ka?"
(Termasuk kebencianmu?)
Dennis menatap dengan nanar. Bagaimana dia bisa melupakan semuanya.
__ADS_1
Pria inilah, yang menjadi penyebab kematian tragis ibu dan adik perempuannya.
Karena keegoisannya, seluruh anggota keluarganya setiap saat berada dalam bahaya.
Jika saja dulu dia tidak membuat keputusan yang gegabah dengan menuruti keinginan kakeknya, tentu ibu dan adiknya masih ada dan saat ini mereka masih menjadi keluarga yang harmonis.
Untuk apa dulu dia kembali kerumah ini setelah meninggalkannya?
Dia kembali kesini bahkan sebelum Dennis terlahir.
lalu untuk apa dia pergi, jika akhirnya dia kembali?
Dan karena dialah, Dennis juga terjebak dalam permainan ini.
"Kare o watashi ni kaeshite kudasai."
(Kembalikan dia padaku.)
Ujar Dennis dengan wajah dingin.
"Henkyaku shimasu. Shikashi jōken-tsuki"
(Aku akan mengembalikannya. Tapi dengan satu syarat.)
"Jōken wa nanidesu ka?"
(Apa syaratnya?)
tanya Dennis.
"Wakai shujin o kono-ka ni modoshite kudasai."
(Kembalikan tuan muda kami kerumah ini.)
Dennis menatap tajam pada ayahnya.
"Anata ga kyohi shita baai, kodomo wa shinudeshou."
(Jika kau menolak, anak itu akan mati)
"Kono kureijīna gēmu o yamete! Watashi wa anata ga asobu koto ga dekiru ningyōda to omoimasu ka?"
(Hentikan permainan gila ini! Apa kau pikir aku adalah boneka yang bisa kau mainkan?)
Hardik Dennis. sorot matanya memancarkan amarah.
"Kore wa gēmude wa arimasen. Kore wa 23-nen mae ni watashi ni okotta kotodesu."
(Ini bukan permainan. Inilah yang terjadi padaku 23 tahun yang lalu.)
jawab Ayahnya sambil tersenyum.
Dennis menatap ayahnya dengan nanar.
"Kaeranakereba tsuma o ushinau.Sonotoki kanojo wa anata o ninshin shite ita."
(Jika saat itu aku tidak kembali aku akan kehilangan istriku. Saat itu dia sedang mengandungmu.)
Dennis masih diam tak bergeming.
"Oshietekudasai, dochira no kettei ga mottomojūyōdesu ka?"
(Katakan padaku, keputusan apa yang paling penting?)
Dennis tertegun. Dia mencoba mencerna setiap perkataan ayahnya.
Benar, situasi inilah yang dulu harus dihadapj oleh ayahnya.
Disatu sisi dia tidak ingin kembali, namun di sisi lain dia juga tidak ingin kehilangan istri dan calon bayinya.
Dan akhirnya, itulah yang menyebabkan dia harus mengambil satu keputusan yang egois : 'pulang'.
Ya, Dia kembali pada keluarga ini.
Dan dia bisa hidup sedikit lebih lama dengan istri dan anak-anaknya. itulah sisi egoisnya.
__ADS_1