Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
122. Dan Ternyata...


__ADS_3

"Watashi ga kyohi shita baai, anata wa hontōni kodomo o korosu tsumoridesu ka?"


(Jika aku menolak, apa kau akan benar-benar menghabisi anak itu?)


Tanya Dennis.


Ayahnya hanya tertawa sumringah.


"Ima shiritai sore o kokufuku suru hōhō?"


(Sekarang aku ingin tahu, bagaimana caramu mengatasi ini?)


Ucap Ayahnya.


Kali ini Dennis yang tertawa sumringah.


"Anata wa mada anata ga saikyō no hitoda to omoimasu ka?


Soretomo, watashi wa nani mo dekinaito mada omoimasu ka?Hon'no sū-bu mae ni, watashi no te no ken wa anata no atama o hotondo kiriotoshimashita."


(Apakah kau berpikir kau adalah orang terkuat?


atau kau berpikir aku tidak bisa melakukan apapun?


Baru beberapa menit yang lalu, pedang ditanganku hampir memenggal lehermu.)


Ucap Dennis dengan nada sarkas.


"Sōda ne soshite, watashi wa yūki o motte anata ni keirei shimasu. Shikashi, watashi ga daredearu ka o wasurenaide kudasai."


(Benar juga. Dan aku salut dengan keberanianmu.


Tapi jangan lupa siapa aku.)


"Taoka Kazuo-shi, Watashi wa machigainaku kodomo o tsuremodoshimasu. Kono basho ni chi ga atte mo."


(Tuan Taoka Kazuo, Aku pasti akan membawa anak itu kembali. Biarpun harus ada pertumpahan darah di tempat ini.)


jawab Dennis dengan sarkas.


"Honto? Sore de, anata wa nani o shimasu ka?"


(Benarkah? jadi, apa yang akan kau lakukan?)


Tanya ayahnya dengan senyuman mengejek.


"Watashi wa tazunenakereba narimasen.


Moshi anata no buka no hotondo ga anata o uragittara?"


(Aku yang harusnya bertanya. Bagaimana jika sebagian besar bawahanmu justru mengkhianatimu?)


Kali ini giliran Dennis yang tersenyum mengejek.


Ayahnya tampak tak mengerti.


Dia menggaruk dagunya sambil berpikir.


"Taoka Kazuo-shi, Shimasu kaitai suru Ōkina himitsu.Kono-ka o mamotte iru hito, Anata no bukade wanai. Karera wa watashi no bukadesu."


(Tuan Taoka Kazuo, aku akan membongkar rahasia besar. Orang yang berjaga dirumah ini, bukan anak buahmu. Mereka adalah anak buahku.)


Ujar Dennis dengan tegas dan yakin.


senyum diwajah ayahnya memudar. Kali ini pria itu tampak gusar.


"Nagaiai utagatte imashita, Kore wa machigainaku okorimasu.Sorekara watashi wa sore o kanzen ni junbi shimashita. Jissai, koko dakede wa arimasen.

__ADS_1


Hotondo subete no mafiagurūpu, Buka ga haitta shizukani."


(Aku sudah lama menduga, ini pasti akan terjadi. Maka aku sudah mempersiapkannya dengan matang. Sebenarnya, bukan hanya disini. Hampir di semua kelompok mafia, anak buahku telah masuk secara diam-diam.)


"Bikkuri shimashita. Anata wa watashi o haruka ni koete imasu."


(Aku sangat terkejut. Kau telah jauh melampauiku.)


Ucap ayah Dennis.


Namun, pria itu justru tersenyum penuh arti.


"Kare wa anata no kyōdai no heya ni imasu. Itte kare o tsurete kite."


(Dia ada di kamar adikmu. Pergi dan bawa dia.)


Dennis menatap ayahnya dengan tatapan bingung.


"Orokana shōnen, naze soko ni ita no?"


(Bocah konyol, kenapa kau diam disana?)


Hardik ayahnya sambil tertawa sumringah.


"Watashi wa anata o asobini shōtai shitai dakedesu.


Anata ga watashi yori zutto kashikoi koto o hokori ni omoimasu. Anata wa hontōni watashi no kodomodesu, Soshite ima, anata wa otonadesu.


Hassei shita subete no koto o owabi mōshiagemasu. Watashi wa itsumo kō iitaidesu, Shikashi, anata wa satte nidoto modotte kimasendeshita. Mata, au tabi ni watashi o sakete kudasai. Kore ga anata to hanasu yuiitsu no hōhōdesu."


(Aku hanya ingin mengajakmu bermain. Aku bangga kau lebih pintar dariku. Kau memang putraku, dan sekarang kau sudah dewasa. Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi.Aku selalu ingin mengatakan ini, tapi kau pergi dan tidak pernah kembali. Kau bahkan menghindariku setiap kali bertemu. Inilah satu satunya cara untuk bicara denganmu.)


Pria tua itu menitikkan airmata, namun dia segera menepis dengan tangannya.


Dennis tertegun mendengar semua perkataan ayahnya.


Hingga dia bahkan tidak tahu harus berkata apa.


(Hei anak bodoh, jangan lupa perkenalkan gadis itu padaku. Kalau tidak awas kau!)


Pria itu kembali tegas seperti sebelumnya


"Nani?"


(Apa?)


Dennis tampak heran.


"Watashi wa anata no keikaku o shiranai to omoimasu ka? Anata wa on'nanoko to kekkonshimashita ga, shōrai no yome o shōkai shimasendeshita."


(Apakah kau pikir aku tidak tahu rencanamu?


Kau akan menikahi seorang gadis, tapi kau tidak mengenalkan calon menantu kepadaku.)


"Dō yatte shitte imasu ka?"


(Bagaimana Kau tahu?)


"Sono shōnen wa watashi ni itta."


(Bocah itu memberitahu padaku.)


"Nabila-chan..?"


(Nabila?)


Tanya Dennis heran.

__ADS_1


"Mochiron, kare to wa nagai ma shiriatta. Anata wa tenshi-tachi no yuiitsu no shihai-shada to omoimasu ka?"


(Tentu saja, Aku sudah mengenalnya sejak lama. Apa kau pikir hanya kau satu-satunya tuan malaikatnya?)


"Shikashi, kore wa dono yō ni kanōdesu ka? Watashi wa itsumo kare o mite imasu."


(Tetapi bagaimana ini mungkin? aku selalu mengawasinya.)


Gumam Dennis.


Ayahnya tertawa sumringah.


"Anata wa sore o tadashiku mimashita ka?"


(Apa kau yakin sudah mengawasinya dengan benar?)


Ayahnya menaikkan sebelah alis sambil tersenyum mengejek.


"Ē to... Anata wa hontōni..."


(Astaga.. Kau benar-benar..)


Dennis kehilangan kata.


Akhirnya Dennis meninggalkan ayahnya yang masih tertawa sumringah.


Dia menuju ke kamar almarhumah adiknya, tempat Nabila berada sekarang.


Dari luar pintu dia bisa mendengar suara Nabila yang sedang tertawa bersama beberapa pria.


Dennis membuka pintu tersebut, dan melihat Nabila sedang menonton kartun Minion sambil rebahan di ranjang.


Dua orang pria dan satu orang wanita yang ada didalam ruangan tersebut menggunakan seragam putih. Ternyata mereka adalah tim medis.


"Tuan malaikattt...."


Nabila tampak sumringah.


"Bila.. kamu baik-baik aja kan..? mereka gak melakukan apapun kan..?"


Dennis tampak masih cemas.


"Tidak.. aku menemui paman malaikat.."


jawab Nabila.


"paman malaikat..?"


Dennis tampak heran.


"Iyaa.. paman malaikat itu ayahnya tuan malaikat.."


Jawab Nabila dengan polos.


"Bila, apa kau mengenal orang itu?"


tanya Dennis menyelidik.


"Tentu saja, aku sangat mengenalnya. Kak Nana juga kenal dengan paman malaikat.. Paman malaikat sering mengunjungiku.."


jawab Nabila


*Bagaimana ayah bisa melakukannya? bukankah aku sudah meminta beberapa orang untuk berjaga disekitar rumah sakit?


Batin Dennis.


"Baiklah, sekarang ayo kita pulang.. Kak Nana pasti sangat mencemaskanmu.."

__ADS_1


Kemudian Dennis menggendong Nabila dan membawanya pergi dengan mobil mercedes benz, karena akan sangat beresiko jika dia membawa Nabila dengan sepeda motor besarnya.


Dia meninggalkan sepeda motornya dirumah ayahnya.


__ADS_2