Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
64. Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

Pagi itu Reyhan dan Annisa memulai aktivitas seperti biasa.


setelah melaksanakan sholat subuh, Annisa berjibaku didapur.


meskipun Reyhan sudah melarangnya untuk melakukan pekerjaan rumah, namun Annisa yang keras kepala justru bersikeras ingin memasak untuk suaminya.


"Mas.. boleh aku minta sesuatu..?"


tanya Annisa saat mereka sedang menikmati sarapan pagi itu.


"Kamu mau minta apa sayang..?"


tanya Reyhan sambil menatap Annisa dengan lembut.


"Ehmm.. aku.."


Sesaat Annisa tampak ragu menyampaikan keinginannya.


"Katakan.."


ucap Reyhan sambil menggenggam tangan istrinya dan tersenyum.


"Mas.. aku bosan dirumah.. lagian sebentar lagi aku skripsi.. jadi,, boleh kan aku ke kampus..?"


tanya Annisa.


Reyhan terdiam mendengar permintaan istrinya.


jika saja bukan karena situasinya yang seperti ini, Reyhan pasti akan mendukung apapun keinginan istrinya jika itu adalah hal yang baik.


Namun untuk saat ini, kembali ke kampus tampaknya bukanlah langkah yang tepat.


terlebih setelah dia tahu bahwa Hendrik, orang yang malam tadi mengintai disekitar rumahnya juga adalah mahasiswa dan pengelola perpustakaan di kampus milik keluarganya tersebut.


meskipun dia belum mengetahui apa niatnya melakukan pengintaian itu.


"Mas... boleh yaa..."


Annisa mencoba membujuk Reyhan yang masih terdiam.


"Jangan sekarang ya sayang.. situasinya belum stabil.."


jawab Reyhan.


"Tapi mas.. aku sebentar lagi harus mulai mengerjakan skripsiku.. dan ditambah lagi aku banyak tertinggal materi kuliah.. aku ingin menyelesaikan kuliahku mas.."


Annisa mulai menangis.


Dan benar, menangis adalah senjata pamungkas wanita saat keinginannya tidak bisa terpenuhi.


karena lelaki manapun pasti tidak ingin melihat wanitanya menangis.


Akhirnya Reyhan luluh.


dengan berat hati dia mengijinkan Annisa untuk kembali ke kampus.


meskipun dengan begitu dia juga harus bekerja larut malam dan kembali ke kampus, seperti saat mereka belum menikah.


"Yaudah.. mas juga akan kekampus mulai hari ini.."


jawab Reyhan.


"Mas ngapain kekampus..?


trus kerjaan mas gimana..?"


tanya Annisa yang tampak heran.


"Kamu lupa ya, nama mas juga masih terdaftar sebagai mahasiswa dikampus itu.."


jawab Reyhan.


"Jadi, mulai hari ini aku boleh masuk kampus lagi kan..?"

__ADS_1


Tanya Annisa dengan wajah sumringah.


Reyhan mengangguk sambil tersenyum, kemudian mengecup kening istrinya.


*Mas minta maaf sayang.. karena situasi dan posisi mas sekarang, kamu jadi kehilangan kebebasan kamu.. Mas akan selalu melindungi kamu, meskipun kamu gak pernah menyadarinya..


batin Reyhan.


Usai sarapan Reyhan meminta Pak Edo untuk menghandle semua urusan kantor.


Reyhan juga meminta Dennis untuk menempatkan beberapa orang kepercayaannya di kampus, terutama di perpustakaan dan mushola kampus karena kedua tempat itu adalah tempat favorit istrinya.


Selain itu jauh hari sebelumnya diam-diam Reyhan juga sudah menempatkan beberapa orang kepercayaannya di ruang dan jurusan yang sama dengan Annisa.


karena akan sangat janggal jika Dia yang mengambil jurusan Manajemen Bisnis berada diruang jurusan Manajemen Akuntansi.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Dan akhirnya, pagi itu mereka tiba di kampus setelah vacum untuk waktu yang lama..


(sama kayak author yang lama vacum.. maapken author yaa readers chuuu..)


Annisa sedang berjalan dikoridor kampus menuju ke ruang kelasnya, dan tanpa dia sadari Reyhan mengikutinya dari belakang.


"Nisaaa... yaampunn.. kamu kemana aja,, lama gak masuk.."


sapa Devi, salah seorang teman Annisa.


"Iya.. emm.. ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan.."


jawab Annisa gugup.


"Ehh.. dengar-dengar katanya kamu udah nikah sama anaknya Pak Arbiantoro ya..?"


Tanya Devi.


Annisa menunduk, wajahnya memerah.


"Ciiee.. malu-malu.. kalo iya juga gak apa-apa kali neng.. lagian satu kampus juga udah pada tau.."


"Ihh.. kamh apaan siih.. udah yuk masuk.."


Ujar Annisa sambil menjawil lengan Devi dan menariknya kedalam kelas.


Setelah memastikan Annisa berada ditempat yang aman, Reyhan bergegas menuju parkiran sepeda motor untuk mencari sepeda motor milik Hendrik.


Namun sayangnya, motor yang dia cari justru tidak ada.


Akhirnya Reyhan memutuskan untuk mencarinya di gedung Perpustakaan.


Sesampainya di gedung Perpustakaan, Reyhan langsung menemui Hendrik.


"Apa benar sepeda motor dengan plat nomor ini milikmu..?"


Tanya Reyhan dengan tatapan tajam sambil melemparkan selembar kertas yang berisi data kepemilikan sepeda motor atas nama Hendrik Setiawan.


Hendrik terkejut dengan kedatangan Reyhan yang secara tiba-tiba, terlebih dengan eksprrsinya yang terlihat marah.


"Se-sepeda motor..? Rey.. Ka-kamu mungkin salah sangka.. aku.. aku tidak punya sepeda motor.. aku ini, hanya anak buruh tani.. mana mungkin.. aku.. punya sepeda motor.."


Jawab Hendrik gugup.


"Tapi semua data ini buktinya.."


Reyhan menunjuk dengan keras kertas yang sudah tergeletak diatas meja.


"Rey.. itu.. itu mungkin.. emm.. mungkin cuma kebetulan.. yaa bisa jadi kan.. bisa jadi kami punya nama yang sama.."


Jawab Hendrik masih dengan gugup.


"JANGAN COBA-COBA MEMBOHONGIKU HENDRIK...!!! AKU TAHU KAU MENYIMPAN SEPEDA MOTOR ITU DI SEBUAH APARTEMEN..!!"


Bentak Reyhan dan membuat situasi di perpustakaan sedikit ricuh.

__ADS_1


"Sepeda motor..? apartemen..? omong kosong apa ini Rey.. kau pikir mentang kampus ini milik keluargamu kau berhak berbuat semena mena..?


aku memang cuma anak seorang petani, tapi kau tidak berhak menuduhku apalagi merendahkanku seperti itu..!!


memang begitulah dirimu Rey, pria yang sombong, angkuh..!!!"


Hendrik mulai terbawa emosi dan situasi semakin memanas.


beberapa orang mahasiswa yang sedang berada di ruang perpustakaan bahkan mulai berdesas desus.


"Mas Rey..? Kak Hendrik..? ada apa ini..?"


Tanya Annisa yang tiba-tiba saja muncul.


"Sayang.."


"Annisa.."


Ucap Reyhan dan Hendrik bersamaan.


Reyhan terdiam mematung.


"Mas.. ada masalah apa..? apa yang aku dengar barusan..? apa yang kamu lakukan..?"


Tanya Annisa dengan tatapan menyelidik.


"Emm.. bukan.. gak ada apa-apa kok sayang.. Hendrik cuma salah paham, makanya dia ngomong begitu.."


jawab Reyhan sambil melirik ke arah Hendrik.


"Nisa, maaf soal perkataanku barusan. tapi aku benar-benar tidak terima dengan tuduhan suamimu.


bagaimana mungkin dia menuduhku menyembunyikan sepeda motor, dan apartemen..?


Nisa.. kamu juga tahu kondisi keluargaku kan.."


Ujar Hendrik.


"Tapi data itu buktinya dan emang jelas-jelas..."


"Mas Rey, cukup..!! Mas kenapa sih..? Mas punya masalah apa sama Kak Hendrik sampe Mas melakukan ini..?"


Annisa menyela perkataan Reyhan dengan ekspresi wajah yang tampak kesal.


"Sayang.. ini gak seperti yang kamu pikirkan.."


Reyhan mencoba membela diri.


"Aku udah gak ada kelas, Kita pulang sekarang..


Kak Hendrik, maaf soal ini.."


Kemudian Annisa menarik lengan Reyhan dan membawanya pergi.


Sementara itu dari kejauhan, seseorang tampak tersenyum sumringah.


Siapakah dia Readersss...???


tunggu di episode berikutnya yaa..


Mohon maaf jika diriku lama tenggelam dibalik kesibukanku..


dan sebenarnya ini juga disempat-sempatin untuk up..


jadi mohon dimaklumi yaa readerss..


maaf jika novel ini tidak sesuai dengan ekspektasi kalian..


dan makasih banyak untuk kalian yang tetap mendukungku dan novel ini..


untuk kalian yang mau sampein kritik dan saran, kalian juga bisa bergabung di grup chat ku yaa..


jangan lupa dukung terus "Ana Uhibbuka Fillah"

__ADS_1


tekan like, favorite, dan votenya..


makasiiihhhh...


__ADS_2