
Keesokan harinya, pukul tiga sore Reyhan kembali dari kantor. Annisa pun sudah bersiap, karena rencananya sore ini mereka akan berziarah ke makam ibu Annisa.
papa dan mama Reyhan juga akan ikut serta, mereka sudah tiba di Indonesia sejak pagi tadi.
"Mas.. habis ziarah nanti, boleh gak kita singgah ke suatu tempat..?"
tanya Annisa saat mereka sedang diperjalanan menuju makam.
"kemana..?"
tanya Reyhan.
"shopping ke mall..."
jawab Annisa enteng.
Reyhan mengernyitkan kening.
*Sejak kapan istriku doyan shopping..? bukannya dia paling anti sama yang namanya shopping, apalagi ke mall
batin Reyhan.
"Mas... kok kamu diam..?
bisa nemenin aku gak..?"
tanya Annisa sambil mengguncang lengan Reyhan yang sedang menyetir.
Reyhan tersenyum.
"yaudah.."
jawabnya sambil tetap fokus menyetir.
"ehh tapi habis itu aku juga pengen makan mie ayam di warung dekat rumah ibu mas.. mie ayamnya tuh enak banget looh.. kalo kamu coba pasti ketagihan.."
Reyhan semakin heran dengan tingkah istrinya tersebut.
sepanjang perjalanan tampaknya Annisa tak berhenti bicara, tentang apa saja.
dan itulah yang membuat suaminya merasa heran.
karena Annisa yang dia kenal biasanya adalah wanita yang kalem, dan pendiam.
untunglah papa dan mama naik di mobil berbeda, karena setelah ziarah mereka akan menghadiri acara ulangtahun salah satu rekan bisnisnya di hotel M.
jika tidak entah akan seberisik apa suasananya, terlebih lagi mamanya juga adalah orang yang senang banyak bicara.
begitulah pikir Reyhan.
Berbeda dengan Annisa yang semakin banyak bicara, Reyhan justru belakangan merasa sedikit tidak nyaman dengan kebisingan dan hiruk pikuk.
itulah alasan kenapa dia menolak saat papa dan mamanya mengajak mereka ikut menghadiri pesta ulang tahun rekan bisnis orangtuanya tersebut.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Setelah selesai ziarah, mereka menuju ketempat yang diinginkan oleh Annisa.
"Sayang.. kita gak lama kan..?"
tanya Reyhan saat mereka sudah tiba di parkiran sebuah mall terbesar dikota itu.
"ehmmm.. tergantung.."
jawab Annisa sambil tersenyum jahil.
Reyhan menarik nafas dalam.
*ampun dehh.. untung sayang
__ADS_1
batinnya.
hampir dua jam mereka mengelilingi mall tersebut, dan kedua tangan Reyhan sudah penuh menjinjing tas berisi barang-barang yang dibeli oleh istrinya. mulai dari baju, tas, sepatu, hingga aksesoris dan perlengkapan make up.
"sayang, untuk apa kamu beli ini semua..?"
tanya Reyhan yang tampak semakin heran, karena ini jelas diluar kebiasaan istrinya.
"ya untuk dipake lah mas.."
jawab Annisa.
Reyhan menelan ludah semakin tak mengerti dengan perubahan tingkah istrinya.
selain semakin bawel dan manja, sekarang justru melakukan kebiasaan yang dulu paling dia hindari.
Setelah Annisa merasa cukup dengan barang belanjaannya (atau lebih tepatnya karena merasa iba dengan suaminya yang sudah kesulitan membawa semua barang yang dibelinya) mereka hendak menuju parkiran.
Saat keluar dari mall, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan seorang pria paruh baya.
"Annisa.. Long time no see.."
Sapa pria tersebut.
Namun Annisa justru tampak bingung, karena dia tidak merasa mengenal pria tua itu.
Reyhan yang baru menyadari kemunculan pria itu karena terlalu ribet dengan barang-barang bawaannya sangat terkejut.
"Sayang, ayo kita pulang. Mas ribet nih.."
Ucapnya sambil menatap tajam pada pria yang tadi menyapa Annisa.
"Iya mas.."
jawab Annisa.
"Kita pasti akan segera bertemu lagi nona.."
"Maaf tuan, tampaknya anda salah orang. istri saya tidak mengenal anda."
jawab Reyhan dengan tatapan tajamnya yang belum lepas dari pria tersebut yang anehnya justru tersenyum sumringah.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
"Mas.. aku ngerasa aneh deh sama bapak tadi.. aku rasa wajahnya kayak familiar... tapi entah dimana, aku rasa aku pernah kenal dia.."
Ucap Annisa saat mereka sedang dalam perjalanan.
"Kamu yakin kamu kenal dia..?"
tanya Reyhan terkejut.
"Entahlah.. aku juga gak yakin sih mas.."
"Mungkin itu cuma perasaan kamu aja, atau mungkin memang dia mirip dengan orang yang pernah kamu kenal.."
Jawab Reyhan yang berusaha terlihat setenang mungkin.
"Tapi... dia tau nama aku mas.. jelas tadi dia nyebutin nama aku.."
Annisa mengernyitkan kening.
"yaudah gak usah kamu pikirin,
mungkin aja kamu juga mirip dengan seseorang yang dia kenal.. kan sering terjadi begitu.."
Reyhan berusaha meyakinkan Annisa untuk tidak memikirkan kejadian itu.
"Mas... kok kita belok kiri..? harusnya kekanan..."
__ADS_1
Ucap Annisa saat menyadari Reyhan membelokkan setir kekiri.
Reyhan tampak bingung.
*Lah, kan emang harusnya belok kiri
batinnya.
"Kamu lupa ya..? Aku pengen makan mie ayam di warung dekat rumah ibuu...."
Annisa mulai kesal.
"Astaghfirullah... maaf sayang, mas sampe lupa.. yaudah, kita kesana sekarang.."
Kemudian Reyhan memutar balik arah mobilnya.
Sepanjang perjalanan, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
*Aneh.. aku yakin aku pernah kenal sama bapak tadi.. tapi dimana yaa..
Batin Annisa sambil berusaha keras mengingatnya.
*Kenapa dia ada disini.. jangan-jangan dia memang sengaja membuntutiku dan Annisa.. atau mungkin memang dia selama ini menyuruh orang untuk menjadi mata-mata.. aku harus lebih waspada kali ini, jangan sampai Annisa bertemu lagi dengannya..
batin Reyhan.
akhirnya mereka sampai ditempat yang dituju. Namun karena sudah memasuki waktu maghrib, mereka menuju masjid terlebih dulu.
"Pak, Mie ayamnya dua ya.."
Reyhan memesan makanan kepada pemilik warung sementara Annisa sudah lebih dulu duduk di salah satu meja disudut warung.
Meski hanya warung pinggir jalan dengan gerobak sorong yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan kursi meja kayu yang disusun seadanya, namun warung itu tak pernah sepi pengunjung.
Selain karena rasa makanannya yang sangat lezat, pemilik warung juga dikenal sangat ramah terhadap pelanggannya.
"Udah lama gak main kesini mbak.. gimana kabarnya..?"
sapa Pak Dul, pemilik warung Mie Ayam tersebut dengan ramah sambil menyuguhkan pesanan mereka.
"Alhamdulillah kabar baik pak.. bapak gimana kabarnya..?"
tanya Annisa
"Alhamdulillah baik juga mbak.. yasudah, saya tinggal dulu ya.. mau melayani pembeli.."
Kemudian pak Dul kembali menuju gerobaknya.
"Kamu sering kemari..?"
Tanya Reyhan
"Iya.. kan gak jauh dari rumah.."
Jawab Annisa sambil mulai menikmati makanannya yang sudah ditaburinya dengan sambal rawit, saos dan acar.
"Sayang.. jangan banyakan makan pedas loh.. ingat, kamu lagi hamil.."
Reyhan mencoba mengingatkan.
Annisa hanya tersenyum.
Saat sedang menikmati makanannya, lagi-lagi Annisa mengingat pertemuan dengan pria tua di mall.
Sedangkan Reyhan, meski tampaknya terlihat tenang namun dia juga sedang memikirkan cara agar kejadian tadi tidak terulang lagi.
dia sangat paham jalan pikiran istrinya. jika peristiwa tadi sampai terjadi lagi, pasti Annisa akan berusaha untuk mencari tahu.
*Dennis.. aku harus bicara dengannya
__ADS_1
batin Reyhan.