Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
114. Apakah Dia Istrimu?


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Dennis tampak berbeda dari biasanya.


Dan hak itu membuat tanda tanya besar semua staff dan karyawan ReRe Coorporation, terutama sekretarisnya.


"Pak, kayaknya belakangan ini banyak berubah ya.."


Ucap Shella pagi itu sesaat setelah melihat Dennis yang tiba dengan senyum sumringah.


"Itu perasaan kamu aja."


Jawab Dennis datar.


"Jangan-jangan.. Bapak kagi jatuh cinta ya..?"


Pertanyaan Shella sontak membuat Dennis terkejut.


Matanya membulat sempurna.


"Kalo saya lihat dari ekspresi bapak sekarang, sepertinya itu benar.."


Ucap Shella yang semakin gencar menggoda atasannya itu.


"Apaan sih.. sok tau kamu Shell.."


Sanggah Dennis sambil membenahi posisi dasinya.


"Ya taulah pak.. Karena dulu saya juga merasakan seperti itu waktu pertama kali jatuh cinta sama suami saya.."


jawab Shella meyakinkan.


"Jadi, siapa gadis yang beruntung itu pak..?"


tanya Shella.


Dennis menatap singkat kepada Shella yang tampak sangat ingin tahu.


"Mau tau aja kamu.."


jawab Dennis sambil ngeloyor pergi.


Shella tertawa geli melihat tingkah atasannya tersebut.


"Dugaan saya pasti benar pak.."


Ucap Shella dan hal itu didengar oleh Dennis.


"Aku..? Jatuh cinta..? ngaco..."


Gumam Dennis saat baru saja memasuki ruangannya.


tiba-tiba wajah Kirana yang sedang tersenyum terbayang dibenak Dennis. Dan entah kenapa hal itu justru membuatnya bahagia.


"Astagaa.. aku mikir apa coba.."


Gumamnya sambil menepuk jidatnya.


"Shella.. apa jadwal saya hari ini?"


Tanya Dennis melalui sambungan telepon internal.


"Pertemuan makan malam dengan pimpinan Mitsui Financial Group pak.."


jawab Shella.


Dennis berpikir sejenak.


"Apakah pertemuannya penting..?"


"Tidak pak, hanya pertemuan makan malam biasa.."


jawab Shella.


"Kalau begitu bisakah dibatalkan..?


Atau diganti waktunya.. bagaimana kalau siang ini..?"


tawar Dennis.

__ADS_1


"Tapi pak.. sepertinya tidak etis jika kita membatalkan atau meminta waktunya diganti.."


saran Shella.


Dennis berpikir lagi.


Biar bagaimanapun Shella benar. Meski hanya makan malam biasa, tentu hal ini akan berpengaruh pada rencana kerjasama mereka nantinya.


"Yasudah, dimana pertemuannya..?"


Tanya Dennis lagi.


"Di restoran XXXX pak.."


Jawabnya.


"Kalau begitu saya minta tolong sama kamu, sekarang kamu pergi ke restorannya untuk reservasi tempat, dan minta mereka untuk menyajikan masakan Indonesia.."


"Baik pak.."


jawab Shella.


"Aneh.. gak biasanya pak boss begini.."


gumam Shella.


Setelah berbicara dengan sekretarisnya, Dennis menghubungi Kirana.


"Assalamualaikum.. ada apa mas..? tumben telepon di jam segini..?"


Tanya Kirana saat menerima panggilan telepon dari Dennis.


"Waalaikumsalam.. Emm.. begini Kirana, malam ini aku mau ajak kalian makan diluar.."


"Tapi mas, kamu kan tau sendiri.. Ibu gak bisa makan masakan jepang.."


"Kamu tenang aja, kita tetap makan masakan Indonesia kokk.."


jawab Dennis meyakinkan.


"Yaudah deh, nanti aku sampein ke ibu.."


"Oke, habis isya aku jemput ya..


Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam mas.."


waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika Dennis baru saja tiba di apartemen yang ditinggali oleh keluarga Kirana.


"tuan malaikat, kita mau kemana..?"


tanya Nabila antusias.


"Kita mau makan malam direstoran.."


jawab Dennis.


"Tapi kan restoran disini makanannya gak enak.."


"Tuan putri gak perlu cemas, karena kak Dennis udah siapkan makanan kesukaan tuan putri..."


Wajah Nabila tampak berbinar.


Akhirnya mereka tiba di restoran, dan sudah ditunggu oleh tuan Inuyasha.


"Oyasuminasai inu yasha, yūshoku e no go shōtai arigatōgozaimasu."


(Selamat malam Tn. Inuyasha, terima kasih atas undangan Anda untuk makan malam.)


sapa Dennis.


"Konbanwa Denisu-san, kitekurete arigatō. Ogenkidesuka?"


(Selamat malam Tuan Dennis, terima kasih sudah datang. Apa kabar?)


"Yoi nyūsu"

__ADS_1


(Kabar baik)


"Kazoku to issho ni kimashita ka?"


(Apakah anda datang dengan keluarga anda?)


"Hai, koreha watashinokazokudesu."


(Ya, ini keluarga saya)


"Kono bijin wa anata no okusandesu ka?"


(Apakah wanita cantik ini istrimu?)


tanya Tuan Inuyasha sambil melirik pada Kirana


Dennis tersenyum sambil mengangguk.


Untunglah Kirana tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.


Namun Anjar dan Nabila justru tersenyum geli.


"Suwatte kudasai"


(Silakan duduk)


Ucap Tuan Inuyasha sambil memberi isyarat dengan tangan


"Inu Yasha-san, kodomo wa imasu ka?"


(Tuan Inuyasha, apakah anda mempunyai seorang anak?)


tanya Nabila tiba-tiba.


Tuan Inuyasha tertawa mendengar pertanyaan polos Nabila.


"Chīsana on'nanoko, watashi wa nihongo o hanasu no ni odoroite imasu. Mochiron, watashiniha 3-ri no kodomo ga imasu. Sorera no 1tsu wa anata to onaji kurai ōkīdesu."


(Gadis kecil.. Aku terkejut kau bisa berbicara bahasa jepang. Tentu saja, aku mempunyai tiga anak. Dan salah satunya dia seusia denganmu)


jawab Tuan Inuyasha.


"Anata wa totemo shiawasede kōundenakereba narimasen.."


(Anda pasti sangat senang dan merasa beruntung)


Ucap Nabila.


"Denisu-san, anata no imōto wa totemo kashikoi.."


(Tuan Dennis, adik anda sangat cerdas)


puji Tuan Inuyasha sambil tersenyum.


Akhirnya mereka selesai menikmati jamuan makan malam saat itu sambil berbincang hangat.


"Chīsana on'nanoko, jikai wa musume o shōkai shimasu. Anata wa machigainaku shin'yū ni naru koto ga dekimasu."


(Gadis kecil, lain kali aku akan memperkenalkan putriku. kalian pasti bisa jadi teman yang akrab)


Ucap tuan Inuyasha sambil menunduk berhadapan dengan Nabila.


"Mochiron kare ni aitaidesu.."


(Tentu saja, aku ingin bertemu dengannya)


jawab Nabila sambil tersenyum.


"Wahh.. Bila bahasa jepangnya makin jago ya.."


Puji Kirana saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Iya dong.. Kita kan sekarang tinggal di jepang, jadi kita harus belajar bahasa jepang juga.."


jawab Nabila sesumbar.


"Dengerin tuh kak kata Bila.. kita harus belajar bahasa jepang.. Jadj kita tau apa yang oranglain bicarakan, apalagi kalau pembicaraan itu ada hubungannya sama kita.."

__ADS_1


sambung Anjar sambil melirik Dennis.


Dennis tersenyum sumringah sambil meletakkan telunjuknya di bibir memberi isyarat agar Anjar dan Nabila tutup mulut.


__ADS_2