
beberapa hari berlalu sejak Annisa memulai konselingnya dengan Dokter Rina, yang saat ini justru lebih dianggapnya seperti sosok seorang kakak.
perkembangannya pun semakin membaik.
bahkan dokter Rina sendiri sudah meyakinkan semua orang terutama Reyhan, jika Annisa tak lagi membutuhkan konseling darinya.
"Annisa memang terlihat lemah, tapi dia memiliki jiwa yang jauh lebih tegar dari yang bisa kalian bayangkan.."
begitulah komentar dokter Rina setiap kali Reyhan dan yang lain bertanya tentang kondisi Annisa.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
pagi itu Annisa memulai aktivitasnya seperti biasa.
namun tak ada Reyna ataupun Lisa yang menemaninya, karena dia sudah merasa yakin dirinya baik-baik saja.
tentunya gadis itu juga tidak ingin merepotkan mereka lebih lama lagi.
Annisa sudah bersiap mengunci pintu dan akan pergi ke kampus ketika tiba-tiba seseorang muncul dan mengagetkannya.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
Annisa berbalik, dan melihat Reyhan sudah berdiri dihadapannya.
tiba-tiba Annisa merasa salah tingkah, kemudian menundukkan pandangannya dengan pipi memerah.
Reyhan yang melihat hal tersebut merasa gemas, kemudian tertawa kecil.
"kamu mau sampe kapan berdiri kaku disitu dengan tampang kayak tomat merah merekah begitu..?
tanya Reyhan sambil masih tersenyum merasa lucu.
belum sempat Annisa menjawab, suara pekikan Reyna dari dalam mobil yang terparkir tak jauh sari tempat mereka berdiri menyadarkan gadis itu.
"udahan dulu dong lirik-lirikannya.. udah telat niih.."
ujar Reyna sambil terkikik geli melihat tingkah Reyhan dan Annisa yang tampak canggung satu sama lain.
"yuk, barengan aja.. tuan putri didalam kereta kencana kayaknya udah mulai kesal menunggu.."
ujar Reyhan sambil mempersilahkan Annisa jalan lebih dulu.
"yaudah, yuk.."
sambut Annisa.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
sesampainya dikampus, Annisa sudah disambut oleh Lisa sahabat baiknya, juga Clara dan Dwi yang belakangan ini semakin dekat dengannya.
ini adalah hari pertama Annisa kembali kekampus sejak dia dirawat dirumah sakit.
"yaampun Nisa... seneng banget akhirnya kamu balik ngampus lagi.."
ucap Lisa kegirangan sambil memeluk sahabatnya itu.
"alhamdulillah.. makasih yaa temen2.. berkat kalian juga yang selama ini sering jenguk dan nemenin aku.."
jawab Annisa yang tak kalah girangnya dan membalas pelukan Lisa, Dwi dan Clara. (dan author ngebayangin mereka berpelukan ala teletubies gitu dong yakk..😂😂)
dari kejauhan, seseorang memperhatikan mereka sambil tersenyum simpul.
hari itu perkuliahan berlangsung seperti biasa, meski Annisa sempat libur selama kurang lebih dua minggu namun toh gadis itu tetap bisa mengikuti mata kuliahnya dengan baik, Clara yang rutin menjenguknya sambil membawakan materi kuliah yang diberikan dosen karena mereka satu fakultas.
"akhirnya... selesai juga kelas hari ini.. yuk ngafe yuk.."
celetuk Clara yang kemudian dibalas anggukan oleh Lisa yang sudah bergabung bersama mereka.
ketiga gadis itu sedang berjalan menyusuri koridor kampus menuju taman.
"maaf ya,, kayaknya aku gak bisa ikutan deh.. kalian kan tau sendiri, selepas kuliah aku masih harus ngajar les privat.."
jawab Annisa.
"yaudah siih ajakin aja Reyna sekalian,, dia pasti seneng banget tuh.."
ujar Lisa sambil memelas.
"idihh.. ya iya dia sih seneng2 aja.. tapi masalahnya tanggung jawab aku ke orangtuanya nih.."
Annisa bergidik.
__ADS_1
"kalo aku yang kasih ijin, kayaknya gak ada masalah tuh.."
ucap Reyhan yang tiba-tiba sudah berdiri tepat dibelakang Annisa.
Annisa yang terkejut refleks berbalik dan memukul lengan Reyhan dengan buku yang sedari tadi dipegangnya.
"kamu nih kebiasaan ya, nongol tiba-tiba kayak jin.."
omel Annisa.
sementara Reyhan hanya tertawa geli melihat ekspresi gadis itu.
"nah, Reyhan kan udah kasih ijin tuh.. jadi boleh dong kita ngafe.. yuk..."
rengek Clara
"yaudah, tapi aku ke mushola dulu ya.udah masuk dzuhur kan, sekalian aku ajakin Dwi juga..."
Annisa akhirnya mengalah.
"eh tapi kalo Rey mau gabung juga gak masalah siih.."
ujar Lisa sambil tertawa.
"upss... maaf ladies,, aku gak mau kegantengan dan kemachoanku luntur hanya karena aku duduk satu meja dengan para wanita.."
jawab Reyhan yang langsung kabur begitu saja.
ketiga gadis itu hanya tertawa melihat tingkah Reyhan.
"Nis.. kamu yakin menolak orang kayak Rey..?
dia laki-laki yang baik loh.."
gumam Lisa
"baik apanya, dia itu mahasiswa paling tengil dikampus ini tau Lis.."
jawab Annisa ngasal.
"dia memang tengil Nis.. tapi dia gak pernah mendekati perempuan lain, selain kamu.."
sela Clara.
lanjutnya.
Annisa terdiam. gadis itu tak menampik, toh yang dikatakan Clara benar adanya. dan itulah yang menjadi pertanyaan terbesar baginya.
dengan apa yang dia miliki, Reyhan bisa memilih gadis yang jauh lebih baik dari dirinya. tapi kenapa pria itu justru bersikeras ingin menikahinya..?
apa yang Reyhan lihat dari dirinya..?
"Nisa.. kamu kok malah bengong sih..."
Lisa mencawel lengannya.
"yuk kita samperin Dwi dulu di mushola, habis itu kita susul Clara ke parkiran."
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
di cafe...
"akhirnyaaaa.... udah lama banget gak nyeruput vietnam drip.."
ujar Clara saat pesanannya datang.
"Kak Ara sering kesini sama kak Rey ya..?"
tanya Reyna pada Clara
"yaa gak terlalu sering juga sih.. sebenernya ini tempat tongkrongannya Rey sama Denis.. waktu itu kakak gak sengaja nguntit mereka sampe sini.."
jawab Clara polos.
"eh tapi kamu tau darimana Rey sering kesini..?"
tanya Clara pada Reyna.
"ya tau lah, ini kan dulu tempat favoritnya papa.. dulu papa pernah ngajakin Ina sama kak Rey kesini waktu ngerayain ulangtahun kak Rey yang ke 14.. dan sejak itu kak Rey jadi sering kesini.."
jawab Reyna.
"oh iya, ngomong2 gimana kabarnya papa sama mama kamu Na..?"
__ADS_1
tanya Annisa sambil mencolek saus dengan kentang goreng yang dia pesan.
"alhamdulillah papa sama mama baik.. sekarang papa lagi di Jerman, ada urusan bisnis sih katanya..
kalo mama seperti biasa, sibuk dengan bisnis produk kecantikannya.."
jawab Reyna polos.
kelima gadis itu menghabiskan waktu dengan mengobrol banyak hal. dan tak terasa sudah pukul setengah enam sore, mereka bergegas untuk pergi.
"Nis.. kalo aku jadi kamu, aku bakal pertimbangkan untuk menerima Rey.."
ujar Clara sambil tersenyum, kemudian pergi lebih dulu.
*Clara benar.. mungkin udah waktunya aku pertimbangkan lagi..
batin Annisa
"Cha.. Clara benar.. Reyhan gak mungkin berniat buruk terhadap kamu.. terlebih lagi kamu juga kenal dia dan keluarganya.. bahkan Reyna udah menganggap kamu kayak kakaknya sendiri.."
ujar Lisa saat mereka berjalan keluar dari cafe.
"Kak.. aku emang gak begitu tau gimana kak Rey diluar sana.. tapi, aku tau persis gimana khawatir dan cemasnya kak Rey terhadap kakak belakangan ini.. dan belum pernah kak Rey sekhawatir itu terhadap orang lain kecuali keluarganya sendiri.."
timpal Reyna
"lagian dia juga gak punya alasan untuk mempermainkan kamu kan Nis.. kalo diposisi dia bisa mendapatkan banyak wanita dengan mudah, pastilah dia udah jadi laki-laki brengsek yang suka gonta-ganti pasangan.. tapi dia gak begitu Nis.. dan jujur, awalnya karna sikapnya itulah yang bikin aku kagum sama dia.."
Dwi mulai angkat bicara.
Annisa hanya terdiam, dia berusaha mencerna perkataan ketiga sahabatnya itu.
*apa sebenarnya yang dia inginkan dariku..?
aku bukan anak orang kaya, aku juga gak secantik Clara ataupun Dwi yang menggilainya..
apakah dia benar-benar tulus dengan niatnya..?
pertanyaan-pertanyaan itu menggelayuti hatinya.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Malam itu selepas sholat Isya, Annisa berniat untuk membuka materi kuliahnya siang tadi. ada tugas yang perlu dia kerjakan dan tiba-tiba satu notif masuk ke ponselnya, chat dari Rayhan.
"tolong keluar sebentar.. aku didepan pintu.. lima menit aja.. pliss.."
begitu isi pesannya.
Annisa yang merasa bingung kemudian keluar dari kamar menuju pintu.
dan saat dia membuka pintu,
Reyhan sudah berada didepan pintu sambil memwgang kotak kecil berisi cincin berlian yang waktu itu pernah akan dia berikan sebelum Annisa pingsan mendadak.
"Annisa Ramadhani, ini untuk kesekian kalinya aku memintamu.. dan ini yang terakhir.. aku janji setelah ini jika memang kamu menolakku, aku gak akan pernah mengganggu kamu lagi.. tapi setidaknya, tolong izinkan aku meyakinkanmu untuk terakhir kalinya.."
Reyhan menatap dengan penuh harap.
Annisa sangat terkejut, tidak menduga kedatangan Reyhan saat itu adalah untuk mengungkapkan perasaannya.
tak dapat dia pungkiri, perlahan-lahan keteguhan pria itu mulai meluluhkan hatinya.
terlebih setelah yang terjadi belakangan ini.
dan entah sejak kapan,
namun dia merasa jantungnya beddetak tak normal setiap kali Reyhan ada didekatnya.
bahkan wajahnya pun merona, seolah tak dapat menyembunyikan apa yang dia rasakan.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
assalamualaikum temen-temen..🤗🤗
di cut dulu yaa adegannya..🤣🤣
dan mohon dimaafkan kevakumanku sekian lama..
berhubung kerna banyak hal yang harus kulakukan, dan pikiranku terpecah antara urusan ini dan itu,
jadi gak bisa fokus dengan novel ini..
tetap dukung "Ana Uhibbuka Fillah" yaa readersku sayangg...
__ADS_1
gomawo...🤗🤗🤗