Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
125. Salah Paham


__ADS_3

"Gimana persiapan pernikahan kamu dengan Kirana Den..?"


Tanya Reyhan saat mereka sedang berbincang diantara ramainya tamu undangan yang hadir.


"Alhamdulillah,semua udah oke. Tapi..."


Dennis mengecilkan volume suaranya.


"Aku bingung gimana cara nyampeinnya ke Kirana.."


bisiknya.


Sontak saja hal itu membuat Reyhan tergelak.


"Astagaaa... Orang jenius sepertimu pun bisa kebingungan juga.. tapi tunggu, jadi kau belum mengatakannya pada Kirana..?"


Banyak mata menatap mereka karena suara gelak tawa Reyhan mengundang perhatian beberapa tamu yang hadir.


Beruntunglah mereka adalah warga lokal (Jepang) dan tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.


Jika tidak, mungkin saat ini Dennis sudah kehilangan muka dihadapan para investor dan rekan bisnis yang selama ini mengenalnya sebagai Mr. Perfect.


Dennis mengheleng dengan pelan.


"Dasar ****.. Lu mau nikahin orang, udah buat persiapan matang tapi lu belum bilang ke orangnya..


iya kalo dia mau, kalo dia nolak gimana..?"


Ujar Reyhan.


"Dia mau.. aku udah bilang aku ingin menikahinya, dan dia menerimanya.."


jawab Dennis polos.


"Ya tapi lu kagak bilang waktunya secepat ini juga kan panjulll..."


"Jadi aku harus gimana sekarang?"


Tanya Dennis.


"Ya gak ada cara lain lagi, lu harus bilang sama dia segera.. Itupun kalo dia setuju.. Kalo gak, ya lu harus berusaha keras untuk yakinin dia. sampe gila-gilaan bila perlu.."


jawab Reyhan sambil mengangkat bahu.


"Ya ampun.. ternyata seribet ini berurusan dengan makhluk bernama wanita.."


gumam Dennis.


"Itu belum termasuk hal-hal sepele lainnya yang sebenarnya gak masalah, tapi bisa jadi masalah bagi wanita.. Nanti lu bakal rasain juga, waktu dia PMS, waktu dia ngidam, atau waktu dia ngambek-ngambek dan cemburu gak jelas.. wanita itu biasanya cuma bilang 'gak apa-apa' dan itu kode keras yang harus bisa kita pecahkan sampe rambut ubanan.."


Ujar Reyhan.


"Dan kau merasakan itu juga..?"


Tanya Dennis sambil menaikkan sebelah alis.


"Ya, begitulah kira-kira.."


jawab Reyhan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kuhaturkan salam penghormatan tertinggiku padamu Paduka, karena masih bersabar menghadapi makhluk bernama wanita dengan segala keribetannya.."


Ucap Dennis sambil mengatupkan kedua tangan.


"Sialan lu maesaroh.."


balas Reyhan sambil menepuk lengan Dennis.


"Tapi, ada rasa nyaman dan ketenangan jiwa yang hakiki bila kita bersama makhluk bernama wanita.


Ketenangan yang tidak akan kita dapati diluaran.


Apalagi kalau dia tersenyum malu-malu, atau menggoda dengan manja-manjanya..


Dan kalau dia bersedih atau kecewa, dunia kita akan terasa berhenti berputar.."


Ucap Reyhan dengan senyum penuh arti.


Dennis mengangkat tangannya dan meletakkannya di kening Reyhan.


"Kalo kurasa-rasa, suhunya beda.. kayaknya nih lu udah kena virus bucin boss.."


Balas Dennis dengan tatapan meledek.


"Gua serius maemunah..! ntar lu pasti bakal rasain sendiri.."


jawab Reyhan sambil menepis tangan Dennis dan si pemilik tangan hanya tertawa geli.


☆☆☆☆


Saat diperjalanan pulang, lagi-lagi mereka hanya berdiam diri tanpa bicara apapun.


tanya Dennis tiba-tiba.


"Em.. Gak apa-apa kok mas.."


jawab Kirana kalem.


*Yasalammm.. Kode pertama.. habislah aku..


Batin Dennis.


"Na, kalo ada sesuatu ngomong aja.. jangan disimpan sendiri.."


ujar Dennis.


"Ya aku memang gak apa-apa mas.. emang kenapa sih..?"


tanya Kirana.


"Iya mas tau kamu gak apa-apa.. tapi kalau memang ada apa-apa kamu gak perlu sungkan, bicara aja sama mas.."


jawab Dennis.


"Mas kenapa sih..? Kok tiba-tiba jadi aneh gitu.. Kan dari awal aku udah bilang gak apa-apa, ya itu artinya aku memang gak apa-apa.. kenapa harus ada apa-apa..?"


Kirana mendengus kesal.


*Ampun makkk... seribet inikah makhluk bernama wanita.. kurasa lebih baik aku menghadapi seratus orang mafia ketimbang satu wanita begini..

__ADS_1


Batin Dennis.


Dennis menghela napas dalam.


"Yaudah, oke.. Kamu gak apa-apa.."


jawab Dennis asal.


"Tuh kan, sekarang kamu malah begitu.. Mas sebenernya kamu kenapa sih? Aneh deh hari ini.."


Omel Kirana.


*Allah... cobaan macam apa ini.. sabar hati.. sabarrrr... ingat, ini wanita...


batin Dennis.


"Gak ada apa-apa kok.."


jawab Dennis datar.


Akhirnya mereka tiba di apartemen.


"Na.. Ada yang perlu mas sampein sama kamu.."


Ucap Dennis. Wajahnya tampak serius.


"Yaudah, ngomong aja mas.."


jawab Kirana yang berusaha bersikap wajar.


"Tapi aku mau ibu, Anjar dan Bila juga ada disini.."


Kemudian Kirana memanggil keluarganya yang sudah berada di kamar masing-masing dan berkumpul diruang keluarga.


"Nak Dennis, katanya ada yang mau diomongin.. Mau ngomong apa..?"


Tanya ibu Kirana sambil menguap, karena memang tadi Kirana membangunkannya saat sudah terlelap.


"Maaf ya bu, jadi ganggu waktu istirahat ibu selarut ini.. tapi aku memang harus menyampaikan ini.."


jawab Dennis.


"Yasudah, gak apa.. Kamu mau bicara apa..?"


tanya ibu Kirana diikuti tatapan penasaran ketiga anaknya.


"Sebelumnya aku minta maaf, karena aku melakukan ini tanpa persetujuan dan tanpa sepengetahuan Ibu dan keluarga. Tapi aku harap, Ibu dan keluarga bisa memakluminya.."


Ujar Dennis.


Kemudian Dennis meraih sesuatu dari dalam sakunya, yang bentuknya persis seperti surat undangan dengan dominasi warna abu-abu dan putih. Kartu itu tampak mewah dan berkelas, dengan tulisan 'the wedding party' diatasnya.


Dennis meletakkan surat undangan tersebut di atas meja.


Kirana tercekat. Lidahnya kelu tak mampu bicara.


*Jadi ini alasannya kenapa mas Dennis gak pernah membahas soal pembicaraan waktu itu.. karena dia memilih menikah dengan orang lain.. Kalau memang dia memiliki wanita lain, kenapa dia memintaku menikah dengannya.. Ya Allah.. Kenapa jadi seperti ini..


Batin Kirana dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2