Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
124. Kegalauan Kirana


__ADS_3

Sudah satu minggu berlalu, Nabila sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit setelah dirawat selama dua minggu.


Namun gadis kecil itu masih harus istirahat total dirumah dan menjaga asupan makanannya.


Situasi juga berjalan normal seperti biasa, Dennis masih berkunjung setiap hari.


Sejak pembicaraan terakhir tentang pernikahan, mereka tidak lagi membahasnya.


"Nana.. gimana kelanjutannya kamu dengan nak Dennis..?"


Tanya ibu pada Kirana saat mereka tengah berbicang sore itu.


Kirana menarik napas dalam.


"Mungkin mas Dennis masih sibuk bu.."


jawab Kirana.


"Laah, piye toh ndok..? Bukannya kamu sudah setuju menikah dengan nak Dennis..?"


tanya Ibu.


"Iya bu.. tapi setelah pembicaraan terakhir, mas Dennis gak pernah mengungkit soal itu lagi.."


Sesungguhnya saat ini hati Kirana juga tengah gamang.


satu minggu berlalu, dan sejak dia mengatakan bersedia menikah dengan Dennis, lelaki itu kembali bersikap seperti biasa.


Cuek dan kaku, bahkan basa-basi juga tidak.


Dia juga sama sekali tidak pernah sekalipun membahas soal kelanjutan hubungan mereka akan seperti apa.


Dennis setiap hari datang berkunjung, namun hanya untuk menemui Nabila.


Setelah itu, dia pergi lagi.


Berhari hari terlewati seperti itu tanpa ada penjelasan, tentulah setiap wanita yang berada di posisi Kirana akan merasa gamang.


*Sebenarnya, apa yang mas Dennis inginkan? benarkah dia ingin menikahiku?


atau jangan-jangan, mas Dennis justru menyesal dengan keputusannya tapi dia tidak tega menyampaikannya padaku?


Hati Kirana terus bertanya-tanya.


"Nana, malam ini Reyhan mengadakan acara dinner, sekaligus syukuran atas kelahiran anak-anak mereka.


Kamu bisa ikut kan?"


Tanya Dennis sore itu, setelah bermain dengan Nabila tentunya.


"Baik mas.."


jawab Kirana kaku.


Entahlah, dia sendiri selalu merasa canggung setiap kali berbicara dengan Dennis. terlebih sejak percakapan terakhir mereka.


"Yasudah, habis isya nanti mas jemput kamu. Lagipula Annisa juga sangat ingin bertemu dengan kamu.."


Ujar Dennis.


*Jika bukan karena keinginan mbak Annisa, apakah kamu tetap akan mengajakku mas..?


batin Kirana.


Sudah lepas isya, Kirana sudah bersiap untuk berangkat.

__ADS_1


Baru saja Dennis mengirimkan pesan bahwa dia sudah dijalan.


"Bu, Dennis sama Nana pergi dulu ya.."


pamit Dennis pada Ibu Kirana saat menjemputnya.


"Iya.. hati-hati ya nak, jangan ngebut-ngebut.."


balas ibu sambil tersenyum.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam.


tak sepatah kata pun keluar dari keduanya.


Kirana hanya memandang keluar jendela, sedangkan Dennis menatap fokus ke depan karena sedang mengemudi mobil.


"Nana, kamu kenapa?"


Tanya Dennis membuka percakapan.


"Gak ada apa-apa kok mas.."


jawab Kirana datar, dengan tetal menatap keluar jendela.


Kirana tak tahu saja, pria cuek dan dingin yang ada disampingnya sangatlah peka.


Namun dia tetap bertingkah seolah tak ada apa-apa.


Setibanya di kediaman O-bachan, Dennis dan Kirana langsung disambut hangat.


Apalagi, banyak rekan bisnis yang juga turut diundang oleh Reyhan.


"Denisu-san, genkidesuka?"


sapa salah seorang rekan bisnis mereka.


"Kanamori-san, genkidesu. Ogenkidesuka?"


(Tuan Kanamori, kabarku baik. Bagaimana kabar anda?)


jawab Dennis sambil menjabat tangan Tuan Kanamori.


"Anata ga miru yō ni. Nē, kono on'nanoko wa anata no tokubetsuna tomodachidesu ka?"


(Seperti yang anda lihat. Hei, apakah gadis ini teman istimewa anda?)


Tuan Kanamori melirik pada Kirana yang beeada disamping Dennis sambil tersenyum.


Kirana membalas senyumnya.


"Hai. Kare wa watashi no shōrai no tsumadesu."


(Ya, Dia adalah calon istriku.)


jawab Dennis sambil menoleh kesampingnya, menatap sekilas pada Kirana.


"Totemo utsukushī on'nanokodesu anata wa totemo kōundesu Denisu-san..."


(Gadis yang sangat cantik, anda sangat beruntung Tuan Dennis.)


Ujar pria tersebut.


Kemudian Kirana dan Dennis menemui Reyhan dan Annisa.


"Kiranaaa.. Ya Allah, lama gak ketemu.. kamu apa kabar..?"

__ADS_1


tanya Annisa.


"Kabar baik mbak.. mbak sendiri gimana, kerepotan pastinya yaa ngurusin dua bayi sekaligus.."


Ujar Kirana.


"Apa kamu ingin melihat mereka..? ayo kita kedalam.."


Kemudian Annisa menarik lengan Kirana dan dengan antusias membawanya meninggalkan kerumunan tamu menuju lantai dua, tepatnya ke kamar pribadinya.


"Imutnya.. Masya Allah.. gemes lihatnya, apalagi kalau tertidur seperti ini.. benar-benar seperti malaikat kecil.."


gumam Kirana saat melihat si kembar yang sedang tertidur pulas.


"Kamu benar, mereka adalah malaikat kecil ummi dan abinya.."


jawab Annisa sambil tersenyum.


"Emm.. Mbak, mungkin ini waktunya gak tepat.. Ada hal yang ingin aku tanyakan.."


Ujar Kirana.


"Kamu mau tanya apa..?"


Annisa mengambil posisi duduk di sofa, sambil mempersilakan Kirana untuk ikut duduk.


"Anu.. emm.. itu soal.. emm.. mbak.. udah berapa lama mbak kenal mas Dennis..?"


Kirana tampak gugup.


Annisa tertawa kecil melihat Kirana yang salah tingkah saat menanyakan hal tersebut.


"Aku kenal dia, masa kuliah.. Karena dia adalah teman dekat suamiku. Tapi kalau mas Rey, udah kenal Dennis sejak kecil.."


Jawab Kirana.


"Mbak.. apakah.. apakah mas Dennis.. apa dia.. pernah dekat dengan seorang perempuan..?"


tanya Kirana.


"Dennis..? Emm.. Entahlah.. tapi sejauh yang aku kenal, dia memang gak pernah dekat dengan wanita.. yang ada dikepala dia itu cuma urusan perusahaan dan urusan mas Rey.."


Jawab Annisa polos.


"Mbak.. sebenarnya.. emm.."


"Kenapa Kirana..? Kok dari tadi kamu gugup begitu..?"


tanya Annisa.


Akhirnya Kirana menceritakan semuanya pada Annisa, termasuk kegamangan hatinya yang hingga sekarang masih bertanya-tanya.


"Kirana.. Dennis itu adalah lelaki yang tertutup. Dia sangat sulit mengekspresikan perasaannya kepada seseorang. Meskipun dia ahlinya bertindak konyol, tapi dia bukan sosok yang romantis. Bahkan dia tidak pernah mendekati wanita sebelumnya.. Mungkin karena itulah dia juga merasa canggung terhadap kamu.."


Annisa berusaha memberikan pemahaman pada Kirana.


"Tapi mbak, di satu sisi aku juga jadi merasa ragu.. apakah mas Dennis memang benar-benar serius dengan perkataannya.."


gumam Kirana.


"Kirana.. Dibalik sikapnya yang terkadang konyol, aku yakin Dennis bukanlah orang yang akan mempermainkan perasaan orang lain.. Kamu harus tetap berpikir positif ya, mungkin aja saat ini Dennis sedang banyak pekerjaan yang sangat menyira pikirannya.."


"Ya, semoga aja memang begitu ya mbak.."


Ucap Kirana dengan lirih.

__ADS_1


__ADS_2