
Sudah tiga hari sejak Nabila dirawat di Rumah sakit dan kondisinya semakin membaik.
Dennis juga rutin mengunjunginya setiap hari sambil membawakan apa yang disukai Nabila.
Sore itu, hanya ada Kirana yang menjaga Nabila di rumah sakit.
Anjar dan ibunya baru saja pulang, setelah beberapa hari menemani Nabila.
Bahkan jika Kirana tidak memaksa, mungkin ibu akan tetap bersikeras untuk tinggal.
Dennis baru saja tiba sambil membawa boneka teddy bear berukuran besar.
Saat melihat Dennis memasuki ruangan, Kirana hendak keluar. Sejak beberapa hari yang lalu Kirana memang berusaha menghindari Dennis.
"Ne, purinsesu..Sono josei no nani ga mondaina nodesu ka?"
(Hei tuan putri, Apa yang salah dengan wanita itu?)
Tanya Dennis sambil menunjuk ke arah Kirana yang akan keluar dari ruangan tersebut.
Nabila mengangkat kedua tangannya.
"Kak Nana, jangan pergi.."
Ucap Nabila.
Akhirnya Kirana mengalah, dan mengambil posisi duduk di sofa.
"Tatakatta?"
(kalian bertengkar?)
tanya Nabila.
Dennis mengangkat tangan, persis seperti yang dilakukan Nabila.
Nabila tertawa geli.
"Kare to kekkon shite mo daijōbudesuka?"
(Apakah kau senang jika aku menikah dengannya?)
tanya Dennis sambil duduk di sisi ranjang pasien.
Nabila mengangguk mantap sambil tersenyum.
matanya tampak berbinar.
"Shikashi, kare ga watashi to kekkon shitakunai baai wa dō narimasu ka?"
(Tapi, bagaimana jika dia tidak mau menikah denganku?)
Tanya Dennis sambil melirik ke arah Kirana yang sedang membaca (melihat-lihat) majalah fashion yang terletak diatas meja.
"Kare wa surudeshou.Kare wa watashi no yōkyū ni shitagawanakereba naranai."
(Dia harus mau. Dia harus menuruti permintaanku.)
jawab Nabila dengan yakin.
"Moshi sōnara, kare ni watashi to kekkon suru yō ni tanonde kudasai."
__ADS_1
(Kalau begitu, mintalah agar dia bersedia menikah denganku.)
"Yoshi, tenshi.Watashi wa kare to hanashimashita. Anata ga saisho ni dekakemasu."
(Baiklah, tuan malaikat. Akj akan bicara dengannya. Kau keluarlah dulu).
Kemudian Dennis keluar dari ruangan tersebut.
"Kak Nana.."
Kirana menoleh.
"Bila punya satu permintaan.."
Kirana beranjak dari sofa, kemudian berjalan mendekati ranjang pasien.
"Bila mau minta apa..?"
Tanya Kirana sambil tersenyum.
"Bila ingin kakak menikah dengan tuan malaikat.."
Ucap Nabila.
"Tuan malaikat..?"
Kirana mengernyitkan kening.
"Iya, tuan malaikat.."
jawab Nabila sambil menunjuk Dennis yang justru tersenyum masam.
"Ayolah kakk.. kakak menikah dengan tuan malaikat.."
Nabila mulai merengek.
Kirana menghela napas panjang.
"Bila.. pernikahan itu bukan sebuah lelucon, bukan sebuah permainan.. pernikahan itu sakral, untuk mempersatukan dua orang manusia. Nanti kalau Bila udah besar, Bila pasti paham maksud kakak.."
Ujar Kirana.
"Lalu apa salahnya dengan tuan malaikat?
tuan malaikat baik, tuan malaikat sayang sama Bila, sayang sama ibu dan kak Anjar.. Tuan malaikat juga selalu menolong kita.. Kenapa kakak gak mau menikah dengan tuan malaikat?"
tanya Nabila.
"Bila.. hanya karena tuan malaikat adalah orang yang baik, bukan berarti kakak harus menikah dengannya.. kasihan tuan malaikat jika harus selalu direpotkan dengan kita.."
jawab Kirana.
"Tapi.. Bila ingin kakak menikah dengan tuan malaikat.. dia juga bersedia menikah dengan kakak.. Kenapa kakak tidak bersedia?"
Nabila semakin merengek.
"Bila, kakak akan bicarakan ini dulu dengan tuan malaikat.
Bila tunggu sebentar ya."
Kemudian Kirana keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
"Mas.. apa yang kamu bicarakan dengan Nabila?"
tanya Kirana.
"Mas cuma bilang, mas ingin menikahi kamu. tapi kamu menolak.."
Jawab Dennis enteng.
"Mas.. apa sih mau kamu sebenarnya? untuk apa kamu melakukan ini semua? Kamu pikir pernikahan itu sebuah lelucon?"
Kirana mulai kesal.
"Lalu apa kamu pikir mas juga sedang bergurau?"
Ucap Dennis.
Kirana menarik napas panjang.
"Mas.. tolong.. Jangan lakukan ini.. Aku gak ingin mas menikahiku hanya karena alasan konyol.."
"Alasan konyol..? Kirana, apakah kamu tidak ingin melihat Nabila bahagia?"
"Nabila sudah cukup bahagia selama ini mas, jadi tolong jangan terlibat terlalu jauh dalam kehidupan kami.."
"Belum Kirana.. Nabila belum bahagia. Selama ini dia hanya berusaha terlihat ceria dihadapan kalian, karena dia tidak ingin membuat kalian sedih.. Kamu adalah kakaknya, apakah kamu tidak memahami perasaannya..?"
"Mas, aku adalah kakaknya. dan aku tahu apa yang dia inginkan."
jawab Kirana.
"Tidak Kirana.. Kamu tidak tau.. Bahkan kamu tidak pernah tau.. Apa kamu tau jika selama ini Nabila merindukan sosok ayahnya..?
Apakah kamu tau selama ini Nabila sangat ingin merasakan bagaimana kasih sayang seorang ayah..?"
Kirana tertegun mendengar ucapan Dennis.
"Kirana.. aku tahu pernikahan itu bukan lelucon..
lalu, pernikahan seperti apa yang kamu inginkan?
apa kamu inginkan sosok pria sempurna, yang datang menghampirimu dengan buket mawar merah lalu mengungkapkan cinta dengan cara yang romantis?
haruskah aku juga melakukannya?"
Kirana terdiam.
"Kamu tahu Kirana, bukan bagaimana cara kita mengawali.
tapi yang terpenting adalah, bagaimana cara kita memandang dan menata masa depan."
"Mas... apakah kamu mencintaiku..?"
Kali ini giliran Dennis yang dibuat tertegun.
"Tolong jawab dengan jujur, apakah mas mencintaiku?"
"Jika memang itu sangat penting bagi kamu, baiklah.
Kirana Larasati, aku mencintai kamu. Dan ini bukan lelucon. aku mohon, menikahlah denganku.."
Ucap Dennis sambil menatap dalam Kirana.
__ADS_1