Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
05. Ana Uhibbuka Fillah (S2)


__ADS_3

empat bulan berlalu, dan kini usia kandungan Kirana memasuki bulan ke enam.


Mereka semua tak sabar menunggu kelahiran Dennis junior.


Bahkan Kirana sudah mempersiapkan semua keperluan bayi sejak jauh-jauh hari, karena saat masih dalam masa mengidam Kirana pernah mengidam ingin belanja semua keperluan bayi.


Pagi itu Dennis sudah bersiap berangkat ke kantor.


Namun baru saja dia akan pergi, Kirana meraih tangannya dan tidak mengijinkannya pergi.


"Mas, dirumah aja ya."


Kirana memasang wajah manjanya untuk membujuk Dennis.


Meskipun merasa tak tega meninggalkan Kirana, namun saat itu Dennis harus segera berangkat.


Dia sudah berjanji pada Reyhan untuk menemaninya menemui salah seorang investor asing di Korea Selatan.


Tentu saja Dennis tidak mengatakan hal itu pada Kirana.


Karena yang akan mereka temui adalah seorang rekan bisnis yang pernah menaruh hati padanya dulu.


"Jika wanita itu bersedia menanamkan modal untuk proyek baru kita, tentu itu akan jadi keuntungan besar. Kita akan lebih mudah untuk mengembangkan bisnis kita di Korea. Kau tahu sendiri kan, dia adalah salah satu pebisnis paling berpengaruh di Korea."


Ucapan Reyhan kembali terngiang.


Jauh didalam lubuk hatinya, terkadang dia merasa iri pada Reyhan yang memiliki jiwa bisnis ulung. Dibawah kepemimpinannya, ReRe Coorporation semakin berkembang pesat dan semakin banyak membuka cabang di negara-negara tetangga.


Tak hanya itu, dia juga membuka peluang bisnis di segala sektor.


Mulai dari properti, kuliner, hingga retail.


Bahkan Reyhan juga menginvestasikan sebagian uang pribadinya untuk pertambangan berlian.


-----


"Bro, lu udah jadi salah satu pebisnis paling sukses, bahkan nama lu nampang di majalah F**b*s sebagai salah satu pebisnis paling tajir di dunia tiga tahun berturut-turut. Itu harta juga kagak bakal habis tujuh turunan.


tapi kayaknya lu belum puas juga?"


Tanya Dennis suatu ketika.


"Entahlah Den, aku hanya mengikuti naluriku sebagai seorang pebisnis.


Lagipula, ada sisi baiknya juga kan.


Dengan membuka proyek-proyek baru, kita juga membuka lapangan pekerjaan bagi orang yang membutuhkan.


Ya, hitung-hitung sekalian membantu orang lain gak ada salahnya kan."


Jawab Reyhan sambil tersenyum.


-------


"Sayang, hari ini mas ada meeting penting. Boleh ya.."


Dennis mencoba membujuk Kirana.


Sejak mulai mengandung, istrinya memang banyak berubah.

__ADS_1


Sikapnya jadi lebih manja, mudah merajuk, bahkan sangat mudah cemburu meskipun pada karyawannya sendiri.


Kirana hanya memanyunkan wajah pertanda tidak setuju.


"Malam nanti, mas punya kejutan spesial untuk kamu."


Ucap Dennis yang tak kehabisan akal.


Mendengar kata kejutan spesial, wajah Kirana langsung sumringah. Bahkan matanya tampak berbinar.


"Kejutan apa?"


Tanya Kirana tampak penasaran.


"Kalau mas kasih tahu sekarang, namanya bukan kejutan."


jawab Dennis.


Kirana kembali memanyunkan bibirnya.


"Yaudah, mas berangkat ya."


Dennis mengecup singkat kening Kirana setelah Kirana menyalim tangannya dengan perasaan tak rela.


beberapa jam sudah berlalu, sore itu Kirana mulai gelisah.


Diraihnya ponsel di atas nakas, ini ketiga kalinya dia mencoba menghubungi suaminya namun masih gagal.


Padahal biasanya sesibuk apapun Dennis selalu menyempatkan diri untuk mengabarinya minimal satu jam sekali.


"Aneh.. sejak pagi ponsel mas Dennis gak bisa dihubungi."


Kirana kembali meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian menemui Anjar di dapur.


Sejak Kirana hamil besar, Anjar yang menawarkan diri untuk membantu semua pekerjaan rumah.


Karena Kirana tidak ingin mempekerjakan ART.


"kenapa muka ditekuk gitu kak?"


Tanya Anjar yang sedang mempersiapkan masakan untuk makan malam.


"Maa Dennis, sampe jam segini gak ada kabar. Ponselnya juga gak bisa dihubungin."


Jawab Kirana.


"Ya mungkin Dennis masih sibuk Na, kamu tahu sendiri kan suami kamu itu kalau udah fokus dengan kerjaannya, lupa sama yang lain."


Jawab Ibu yang tiba-tiba saja muncul.


"Tapi bu..."


"Na, jangan terlalu cemas begitu. Percaya aja sama suami kamu. Lagipula kalau pekerjaannya selesai dia pasti langsung pulang kok."


Jawab ibu Kirana sambil tersenyum.


Kirana menarik napas panjang, kemudian berjalan meninggalkan dapur dengan langkah gontai.


Ibu dan Anjar gak mengerti. Perasaanku mengatakan ada sesuatu, tapi entah apa. semoga itu bukan hal yang buruk.

__ADS_1


Batin Kirana sambil mendudukkan tubuhnya di sofa kamarnya.


Kembali diraihnya ponsel di atas nakas, lalu mencoba menghubungi suaminya untuk kesekian kali.


Dan akhirnya,


Tersambung...


"Assalamualaikum.. Mas, kamu dimana? Kok jam segini belum pulang? Kamu udah makan? Apa pekerjaan kamu masih banyak?"


Kirana memberondong dengan pertanyaan begitu panggilannya dijawab.


"Hai, Apakah kamu istri Dennis?"


Terdengar suara wanita yang menjawab panggilannya dengan aksen Korea yang khas.


Kirana terkejut.


"Siapa kamu? Kenapa ponsel suami saya ada di kamu?"


Tanya Kirana dengan nada tak suka.


"Namaku Kim Youra. Maaf kalau saya bersikap lancang, tapi ponsel milik suamimu tertinggal di apartemenku."


Jawab wanita tersebut.


"Dimana suamiku?"


Tanya Kirana yang sebisa mungkin menahan amarahnya.


"Tadi dia ada disini, tapi sekarang tidak. Dia baru saja pergi."


Jawab wanita tersebut dengan santai.


"Baru saja pergi? Itu artinya sebelumnya dia ada di apartemenmu?"


Tanya Kirana memastikan.


"Bukankah aku sudah mengatakannya?


Ya, dia baru saja pergi dari apartemenku."


Jawab wanita tersebut.


Kirana langsung mengakhiri percakapannya.


Batinnya mulai bergejolak.


Siapa wanita itu? Dari cara dia berbicara, sepertinya dia bukan orang Indonesia. Lalu, apa yang mas Dennis lakukan di apartemen wanita itu? Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Apa jangan-jangan, mas Dennis punya wanita lain..


Airmata Kirana membanjiri wajahnya.


Dadanya terasa sangat sesak mengingat percakapannya dengan wanita bernama Kim Youra.


Kirana mencoba berdiri, namun tiba-tiba pandangannya terasa buram.


Dan akhirnya..


"Brukkk"

__ADS_1


Kirana ambruk di lantai dikamarnya dengan posisi telangkup.


__ADS_2