
Di sinilah semua orang sekarang berada,di pemakaman seseorang yang menjadikan beberapa hati hancur karena dendam yang selama ini dia tanamkan di hatinya. Hari ini adalah hari pemakaman Zeno, di sana nampak seluruh keluarga Hernandez datang untuk terakhir kalinya,mereka setuju untuk mengubur segala dendam yang ada dalam hati mereka bersama dengan jasad Tuan Zeno.Aldo dan juga Viko pun sepakat untuk mengakhiri segalanya,sedangkan Arthur berpikir bahwa Aldo dan juga Viko sama-sama dibohongi oleh sang Papa pun akhirnya memutuskan untuk memaafkan mereka berdua,dengan catatan mereka harus meninggalkan negara ini berikut aset dan harta seluruh keluarga Carter, dan tanpa perlawanan sama sekali Viko dan juga Aldo menyetujuinya. Namun karena makam sang Mama berada di sana maka, Zeno di makamkan di samping sang istri sebagai permintaan terakhir dari Aldo dan juga Vigo kepada keluarga Hernandez, setelahnya mereka akan melupakan sebab kematian Alex, Agam dan juga Bara,serta menutup dendam selama bertahun-tahun lamanya itu di hari ini, di pemakaman Tuan Zeno.
Setelah beberapa saat kemudian, seluruh keluarga Hernandez meninggalkan tempat pemakaman, begitu pula dengan Aldo dan juga Viko. Aldo segera berangkat ke luar negeri hari itu juga setelah asistennya mengurus semua pemindahan aset miliknya, sedangkan Viko harus mengurus beberapa urusan karena tidak mungkin dia berangkat hari itu juga. Syahnaz sedari tadi sudah mengikuti sang Mama, mencoba terus mendekatkan diri dengan Abigail. Dia berjalan berjarak 1 sampai 2 meter di belakang Abigail, Syahnaz tetap berharap bahwa Abigail akan menerimanya.
Abigail yang tahu betul bahwa dari kemarin Syahnaz mencoba untuk mendekatinya terus akhirnya berhenti di samping mobilnya. Dia meminta kepada seluruh saudaranya untuk meninggalkan dirinya bersama Syahnaz, Aleysia, Ananta dan juga beberapa anggota keluarga Hernandez pun meninggalkan pemakaman tersebut dan membiarkan Abigail bersama dengan Syahnaz.
"Ma....." panggil Syahnaz.
"jangan memanggilku dengan nama itu lagi Nona Syahnaz" saut Abigail.
"Ma....."
Syahnaz nampak masih mencoba memanggil nama Mama pada Abigail, bahkan Syahnaz mulai mencoba untuk mengikis jarak dengan sang mama, namun baru beberapa langkah saja Syahnaz maju mendekati sang Mama, Abigail sudah mengangkat tangannya untuk sebagai tanda berhenti. Syahnaz yang memang pada dasarnya anak yang sangat menurut pun berhenti, air matanya sudah tak terbendung lagi,bahkan matanya sekarang terlihat sangat bengkak karena dari kemarin dia tak bisa berhenti untuk menangis, sejak kejadian itu Syahnaz begitu sulit bertemu dengan Abigail, walaupun Syahnaz masih tinggal satu rumah di keluarga Hernandez.
"Aku membebaskan mu Nona Syahnaz, pergilah...sama halnya seperti Papa mu meninggalkan rumah ku" ucap Abigail, dia berkata tanpa memandang ke arah Syahnaz, memakai kacamata hitam nya dan melesat masuk ke dalam mobil nya.
__ADS_1
Menyadari itu semua, Syahnaz langsung bergerak cepat dia menggedor kaca mobil dan mengejar mobil Abigail sambil berteriak-teriak memanggil sang mama, namun Abigail tetap pada pendiriannya.Bahkan dia meminta sopir untuk segera meninggalkan tempat tersebut, Syahnaz tetap berlari untuk memenangkan hati Sang mama, dia sama sekali tidak siap jika harus kehilangan Abigail, dia tidak mau kehilangan sang Mama,wanita yang begitu sangat mencintai dan menyayanginya sejak kecil, Cinta dan kasih sayang Abigail sampai membuat Syahnaz lupa bahwa dia bukanlah anak kandung Abigail.
"Mamaaaa.....jangan tinggalkan Syahnaz ma.... Syahnaz dengan siapa ma...... Mamaaaaa..." Syahnaz terus berlari sambil berteriak.
"Mamaaaaa.....tolong hukum Syahnaz maaa....tapi jangan tinggalkan Syahnaz!!!"
Syahnaz terus berlari, berharap dia bisa meluluhkan hati Abigail, di dalam mobil, Abigail melepaskan kaca mata hitam nya, menangis sejadi-jadinya di sana, dia masih bisa mendengar teriakan Syahnaz memanggil nama nya, walaupun tak sepenuhnya.Anak yang sangat dia sayangi, nyatanya bisa mengkhianati nya, itulah yang ada di kepala nya saat ini, dan juga karena sakit hatinya pada Viko, hingga Abigail memutuskan untuk membuang segala sesuatu yang berhubungan dengan Viko termasuk Syahnaz.
Syahnaz berjongkok di tengah jalan ketika melihat mobil Abigail sudah keluar dari pekarangan pemakaman besar tersebut,dari kejauhan Viko nampak memandangi anaknya tersebut, Jujur saja dia merasa iba dengan apa yang dialami oleh Syahnaz, karena keegoisan Zeno, Viko harus menyakiti Syahnaz dan membuat Syahnaz kehilangan orang yang paling dia sayang.Syahnaz kehilangan segala-galanya, Karena Abigail adalah segalanya untuk Syahnaz. Viko berjalan mendekati sang anak,dia sedikit berlari melihat anaknya hanya bisa menangis sambil memeluk lututnya sendiri.
"Syahnaz mau Mama.....mau Mama pa" ucap Syahnaz di sela-sela tangisannya.
Viko meneteskan air matanya, merentangkan tangan nya untuk sang anak, Syahnaz berdiri dan berhambur ke pelukan sang Papa.
"Kita pulang......kita pulang ke rumah Papa" ucap Viko sambil mengelus kepala Syahnaz yang semakin terisak.
__ADS_1
Pada akhirnya Syahnaz dan Viko pulang. Kehancuran sebenarnya saat ini adalah hati Syahnaz, dalam sekejap dia kehilangan kehidupannya, dia kehilangan Abigail, tempatnya bermanja dan bercerita, isakan nya semakin menjadi ketika dia mengenang bagaimana sayang nya Abigail padanya, hingga hari -hari dia lalui hanya berdiam diri di kamar di rumah Viko.dan hari ini adalah hari di mana keluarga Viko akan meninggalkan negara ini. Mereka berada di bandara saat ini.
"Terima kasih atas semua kebaikan dan cinta Papa, Syahnaz tak akan melupakan semua nya, biarkan Syahnaz memilih hidup Syahnaz sendiri Pa" ucap Syahnaz,
Tidak ada lagi air mata, Syahnaz berjanji akan memulai hidup baru nya .Viko sedari tadi sudah memasang kaca mata hitam nya, dia tak sanggup jika harus melihat wajah Syahnaz, walaupun bukan anak kandung nya, namun dia membesarkan anak tersebut,sampai sang istri meninggal dunia kala itu.
"Baik-baik di sini, tolong kunjungi kami" pinta Erika sedikit memohon.
"Aku tidak bisa janji, tolong jaga Papa ku, dia sedikit cerewet, suka memakai sepatu saat tidur, susah bangun pagi dan dia.....dia akan sedikit menyusahkan di pagi hari" kata Syahnaz, karena Syahnaz yakin, Erika jarang bertemu Viko di pagi hari, karena dulu ketika masih menjadi suami Abigail, Viko selalu saja pulang ke rumah,dia tak pernah menginap di tempat lain kecuali keluar kota.
Mereka saling berpelukan, untuk terakhir kalinya, Viko memohon pada Syahnaz untuk ikut dengan nya, namun dengan tersenyum, Syahnaz menanggapi Papa nya.
"Aku akan baik-baik saja, tenanglah pa, setelah dari sini,aku akan membuka lembaran baru hidupku, benar-benar baru tanpa kalian di masa lalu yang bersamaku"
Syahnaz sengaja berpisah dengan sang papa karena ingin melupakan segalanya.Dia tidak ingin bersama dengan Viko, kalau dia tidak bisa bersama dengan Abigail,maka dia tak ingin juga bersama Viko,dia berpikir baginya keluarga kecilnya itu sangat berharga,dia tidak bisa membayangkan kalau dia ikut dengan Viko dan terus melihat keharmonisan keluarga tersebut, Syahnaz pasti akan memikirkan bagaimana sakitnya hati Abigail. Karena itu, Syahnaz memutuskan untuk hidup sendiri, melupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan Abigail serta melupakan Viko.Syahnaz melepas kepergian Viko dengan senyuman dan lambaian tangan, ini adalah terakhir kalinya dia melihat papa nya,walaupun terlihat membencinya tapi Syahnaz tau, Viko menyayangi nya.
__ADS_1
bersambung