
Waktu berlalu begitu saja, saat ini Baby Al tengah merayakan ulang tahun nya yang ke 4, bocah kecil itu bahkan sudah sangat mahir berbicara, sayangnya, Aldric tak beda jauh sifat nya dari sang Daddy dan juga Uncle kesayangan nya, Max.Nayla kadang kesal dan heran sendiri dengan tingkah laku anaknya.Aldric terlihat sibuk menerima kado dari beberapa teman sekolah nya yang di undang,Ya di usia 4 tahun kurang, Aldric sudah ikut kelas kepribadian dan ketrampilan untuk anak seusianya.
"Selamat ulang tahun Kak Al" ucap Queenza, gadis mungil yang tak sampai setahun jarak usia mereka.
"Terima kasih Queen" kata Al
"Queen cantik sekali hari ini?" goda Al
"Hihihihi terima kasih Kakak" jawab Queen yang nampak malu-malu.
Queen adalah adik kesayangan Aldric,hanya dengan Queen lah, Aldric bisa tersenyum,bahkan sesekali menggoda adik sepupunya Aldric di dampingi neneknya, Celia tak pernah lepas dari sang cucu, Celia bahkan sering membawa Al ke rumah besar Hernandez, apalagi kehamilan Nayla saat ini, lebih menyusahkan daripada kehamilan pertama.Nayla yang di vonis mengalami Preeklamsia di kehamilan nya saat ini, membuat Arthur lebih posesif dan menjaga Nay, bahkan Max,ikut serta menjaga adik angkat nya tersebut.
"Duduklah sayang" ucap Arthur ketika tidak bisa melihat Nay yang terus saja berdiri menyambut tamu anak-anaknya.
"Bee....aku baik-baik saja, ini juga belum lama berdiri" saut Nayla.
"Tapi sayang..... Dokter bilang kamu harus banyak istirahat, tidak boleh kecapekan!" ucap Arthur yang mulai gemas dengan tingkah sang istri.
"Oh ya Tuhan Bee! aku tidak akan melahirkan normal, jadi tenang lah...aku akan baik-baik saja, dan kita akan melakukan operasi 1 Minggu lagi, jadi biarkan aku menikmati pesta anakku Bee!" ucap Nay dengan perasaan sedikit kesal.
__ADS_1
sebenarnya Nayla hanya ingin ikut merayakan hari ulang tahun anaknya, Aldric yang sedari tadi di dampingi neneknya, terlihat sangat senanssg, walaupun tak terlalu terlihat ekspresi senyum di wajahnya, namun binar bahagia masih terpancar di wajah mungil nya.Sejak hamil, Nay lebih sering membiarkan Aldric bersama Max, atau di bawa pulang Celia, karena jujur saja kehamilan nya kali ini sedikit membuat Nay kesusahan.Untung saja Aldric begitu pengertian, dia juga sangat antusias menantikan kehadiran calon adiknya. Acara berjalan sangat lancar, semua teman-teman Aldric yang memang berasal dari kalangan atas terlihat sangat antusias, bahkan beberapa dari orang tua mereka memanfaatkan momen tersebut untuk mengenalkan bisnis mereka ke sesama tamu.
Nayla terlihat tak begitu nyaman sejak beberapa menit yang lalu, dan kali ini dia menuruti suaminya untuk duduk manis setelah acara inti selesai, para tamu sedang menikmati hidangan yang disajikan.Max beberapa kali memergoki Nayla meringis menahan sakit, bahkan Nayla sampai memegang erat kursi yang di dudukinya.Max yang mengetahui itu,memberi kode pada Arthur, seketika Arthur paham, dan pamit undur diri dari percakapan dengan beberapa tamu nya.
"Siapkan mobil Max, dan hubungi dokter kandungan nya!" perintah Arthur segera, setelah mengetahui kondisi sang istri.
"Bee...maaf...." ucap Nayla yang sekarang berada di dalam gendongan sang suami, dia merasa bersalah karena tadi tak menuruti perintah suami nya agar tak terlalu capek.
"Tidak apa sayang...... Max cepat!!"
Max dengan segera menuju rumah sakit kota tempat di mana Nay telah di tunggu oleh dokter kandungan nya, bahkan sang dokter sudah menyiapkan ruang operasi untuk Nay.Walaupun sudah mengalami kontraksi,namun Arthur tak mau ambil resiko, dia tetap meminta operasi Caesar untuk kelahiran anak keduanya.Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sampai di rumah sakit dan di sambut oleh dokter kandungan Nayla, Nayla segera di larikan ke meja operasi.
"Duduklah Ar, kau membuat aku semakin cemas!" perintah Max ketika melihat Arthur mondar-mandir seperti setrikaan di depannya.
"Bagaimana istri dan anakku?" tanya Arthur langsung.
"Semuanya berjalan lancar tuan, anak Anda seorang perempuan,dan Mamanya juga sehat" ujar sang dokter.
Begitu mendapatkan berita dari dokter, Arthur langsung bernafas lega, dan setelah beberapa saat menunggu,Nayla akhirnya dibawa ke ruang rawat VVIP yang sudah disiapkan oleh Arthur sebelumnya, Max kalau Arthur belum makan sama sekali,akhirnya membelikan makanan untuk Arthur dan setelah memberikan makanan tersebut, Max kembali ke ruang administrasi untuk menyelesaikan segala sesuatu yang berhubungan dengan Nayla.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan nya Dok? tolong selamat kan dia...hanya dia yang aku punya Dok!!"
Samar-samar Max mendengar suara di lorong sebelah,Max tidak bermaksud menguping,namun perbincangan mereka sampai ke telinga nya.
"Maafkan kami Nona, kami sudah berusaha, tapi Tuhan berkehendak lain, semoga Anda sabar Nona"
Perempuan itu nampak duduk jongkok di lantai setelah kepergian dokter tersebut, Max yang tadinya hendak pergi, akhirnya mendekati perempuan itu karena merasa kenal dengan suara nya.
"hiks....hiks..... jangan tinggalkan aku sendiri " ucapnya sambil memeluk lututnya sendiri.
Max berdiri tepat di depan nya,hingga terlihat sepatu mengkilap miliknya di depan perempuan tersebut.
"Bangun!" perintah Max.
Perlahan perempuan itu mendongak, melihat ke arah suara, ketika melihat siapa yang ada di depannya, tangisnya semakin menjadi.
"Mereka meninggalkan aku,...semua orang meninggalkan aku hiks....hiks...."
"Aku bilang bangun!!" perintah Max lagi, ketika perempuan tersebut semakin menjadi tangisnya.
__ADS_1
"Syahnaz!!! bangun!!"
bersambung....