
Kejadian yang membuat Praz harus terkapar di ruang ICU, benar-benar membuat Morgan marah. Dengan menghilangkan rasa hormat pada Bara, dia datang ke rumah yang menjadi persinggahan Bara dan sang Mama, Ananta. Rumah yang tak di ketahui siapapun,kecuali mereka bertiga.
Braaaaak.......
Morgan datang dengan menendang pintu yang tertutup rapat itu, seketika Bara dan Darren terkejut dengan kedatangan Morgan, mereka tengah membahas tentang rencana mereka.
"Apa yang kau lakukan Morgan??" bentak Bara, dia benar-benar tak menyangka bahwa Morgan akan masuk dan mendobrak paksa pintu ruang kerja nya.
"Kenapa kau melakukan itu??!!! Kenapa hah???!!" bentak Morgan, Bara yang tak tau maksud kemarahan Morgan,hanya bisa mengerutkan keningnya saja.
"Apa maksud mu??'' tanya nya kemudian.
"Breeengsek!!!! jangan pura-pura tidak tahu kamu bajingaaan!!!" kata Morgan, kali ini bahkan dia sudah mencengkram krah baju Bara.
Darren yang melihat atasan nya dalam bahaya, hendak menolong nya,namun tangan Bara memberi isyarat agar diam di tempat.
"Kau yang berusaha membunuh Praz kan!???!!'' lanjut Morgan.
"Aku benar-benar tak paham Morgan! berhenti.....jangan seperti ini nak!" kata Bara sedikit melembutkan nada suaranya.
Morgan yang tak pernah di panggil dengan begitu lembut oleh Bara,seakan terbawa suasana, dia nampak melonggarkan cekrama nya di Krah baju Bara.Kemudian Morgan mundur ke belakang.
"Aku sudah bahagia......bisa bersama Mama dan kau saja,aku sudah bahagia" ucap Morgan lirih,
Sebenarnya traumanya kembali kambuh saat ini, namun dia mencoba menahan nya agar tak terlihat terpuruk di depan Bara. Bara nampak terdiam, dia dengan jelas mendengar apa yang di katakan oleh Morgan, lelaki itu nampak menyedihkan dia mata Bara, baru kali ini Bara melihat anak kandungnya sendiri terlihat seperti ini, Morgan biasanya hanya akan dengan datar dan cuek menanggapi Bara.
"Aku sudah lelah!.....tolong hentikan!....aku tidak butuh kekayaan dan kekuasaan......aku hanya butuh kalian dan orang yang sangat aku cintai!" lanjut Morgan,
Morgan berlalu dari sana, dia menghapus air mata nya yang turun tanpa dia minta, sesampainya di dalam mobil dia segera mencari obat pemberian Echa,dari dokter baru nya. Setelah merasa tenang, Morgan segera berlalu dari sana.Sedangkan Bara, nampak terdiam di kursi nya, Darren yang menyadari bahwa atasannya butuh sendirian, akhirnya pergi dari ruangan tersebut.
__ADS_1
"Aku sudah bahagia......bisa bersama Mama dan kau saja,aku sudah bahagia"
Kata-kata Morgan terngiang-ngiang di telinga Bara, setelah sekian lama, Morgan seakan mengatakan pada Bara,bahwa dia mengakui Bara sebagai ayah biologisnya, Hati Bara tiba-tiba menghangat,
"Aku sudah lelah!.....tolong hentikan!....aku tidak butuh kekayaan dan kekuasaan......aku hanya butuh kalian dan orang yang sangat aku cintai!"
Kata-kata itupun kembali terngiang di telinga Bara, dia merasa bimbang saat ini, Tujuan nya belum tercapai, namun tiba-tiba dia harus mendapatkan pengakuan dari Morgan secara tak terduga, memang Morgan tak langsung mengatakan bahwa dia bahagia mempunyai ayah seorang Bara, namun hal itu sudah membuat Bara sangat senang.Bara sedikit bersyukur saat ini, bahwa bukan dia yang berusaha membunuh Praz, asisten Morgan, dia tau betul bagaimana Morgan sangat tergantung dan sangat menyayangi asisten nya tersebut.Ada orang lain yang ternyata juga ikut bermain-main dengan nya.
"Tuan...?" panggil Darren yang tiba-tiba masuk.
''Berhenti dulu Ren! kita pikirkan cara lain nantinya!" jawab Bara,seakan tau apa yang akan di katakan oleh Darren.
"Baiklah Tuan, saya permisi......!" pamit Darren dari ruangan tersebut.
Setelah kepergian Darren, ponsel Bara berbunyi, di sana nampak nama sang istri tertera di layar ponsel nya.
"Ada apa?" tanya Bara, setelah mengangkat panggilan teleponnya.
"Apa ada yang penting?" tanya Bara.
"Apa pernikahan anakmu tidak penting Bara?" tanya balik Aleysia.
"Bukan begitu! bukankah kau sudah mengurus nya?" tanya Bara, yang tak mau Aleysia curiga padanya.
"Tapi kau mengabaikan Bobby" kata Aleysia, Bara hanya diam.
Entah sejak kapan, hubungan anak dan Papa itu terlihat renggang, Aleysia sebenarnya sudah cukup menyadari semuanya, namun dia juga tak bisa membuktikan bahwa Bara tak lagi menyayangi Bobby, karena pada kenyataannya, Bara juga meluangkan waktu untuk Bobby sesekali, walau pun intensitas nya masih kalah dengan waktu nya untuk Morgan.Namun Bara yang meyakinkan Aleysia, bahwa Morgan hanya alat nya untuk membahagiakan Bobby,membuat Aleysia tak lagi menaruh curiga.
"Aku ada janji dengan nya malam ini" kata Bara, kebetulan sekali dia memang akan bertemu dengan Bobby untuk makan malam berdua.
__ADS_1
"Baiklah.....Aku tutup dulu telpon nya!" kata Aleysia, dan tanpa menunggu jawaban dari Bara, Aleysia menutup panggilan telepon nya.
Bara benar-benar menepati janji nya bertemu dengan Bobby, Bobby bahkan sudah datang terlebih dahulu sebelum sang Papa.Dia nampak menatap dengan senyuman manisnya ketika lelaki tersebut terlihat di pintu masuk restoran mewah tersebut.Bara berhenti sejenak, melihat wajah Bobby yang nampak berbinar melihat nya.Kemudian dia melanjutkan jalannya menuju meja sang anak.
"Sudah lama?" tanya Bara, Darren yang ada di samping Bara, seketika berlalu dari sana, memilih kursi agak jauh dari mereka.
"Tidak.....aku tadi ada meeting di daerah sini, jadi sekalian saja" jawab Bobby.
"Kau ingin apa?" tanya Bara sambil melihat menu di tangannya.
"Aku sudah memesannya untuk Papa...... makanan kesukaan Papa!" kata Bobby, sambil melihat ke arah kanan nya dan seorang pelayan datang menghidangkan makanan tersebut.
Bara nampak terdiam melihat makanan yang di hidangkan di hadapannya, benar....ini adalah makanan favorit nya, dan dia hanya akan makan bila Bobby yang mengajak nya ke restoran tersebut, karena Bara jarang bahkan hampir tidak pernah kesana sendirian.
"Pa.... Papa?" panggil Bobby yang melihat sang Papa terlihat terdiam.
"Hemmmm...... Papa suka ini!" kata Bara dengan senyum di wajahnya, Bobby dengan senang hati menanggapinya.
Bobby tak pernah suka dengan Bara bila berada di perusahaan, terlalu terlihat ambisius, namun di saat berduaan seperti ini, Bobby sangat menyukai sosok Bara yang terlihat humble dan menyenangkan.Mereka terbawa suasana dan bercerita berdua, Bobby nampak berkeluh kesah dengan pernikahan nya yang akan di laksanakan sebentar lagi.
"Patuh lah pada Mama mu!" nasehat Bara.
"Hemmmm..... sangat sulit" kata Bobby.
Bara nampak diam, dia tau cinta memang tak bisa di paksakan, hati kita berlabuh dimana juga tak bisa di tebak!Dia merasa iba pada Bobby, namun keputusan Aleysia sangat tidak bisa di ganggu gugat, apalagi ini juga menyangkut keselamatan dan kesehatan jantung Aleysia.Apalagi Bara juga pernah di posisi Bobby, atau bahkan masih di posisi itu.
"Berbuat lah yang terbaik untuk orang yang kita sayangi, walaupun jalan nya akan sedikit salah!" kata Bara kemudian, dan Bobby hanya melihat ke arah sang Papa dengan mata penuh tanya.
__ADS_1
bersambung