Arthur (Sang Penguasa)

Arthur (Sang Penguasa)
Menuju pernikahan Morgan dan Echa


__ADS_3

Arthur tengah sibuk dengan kedua buah hatinya, bayi yang baru genap berusia 2 bulan itu nyatanya benar-benar membuat Arthur dan Aldric tak bisa lepas dari bayi mungil yang di beri nama Ayana tersebut.


"Biarkan dia bersama ku Dad" kata Al yang sudah duduk merapat pada adiknya yang tengah membuka matanya.


"apa kau tidak ingin bermain di apartemen Uncle Max? biasanya kalau hari libur seperti ini kau akan datang ke sana" saut Arthur,yang nyatanya tak mau mengalah, dia ingin menggendong Ayana, namun sepertinya sangat sulit,karena Al tidak mengijinkan nya.


"Apa Daddy mengusirku?" tanya Al tak suka dengan perkataan Daddy nya.


"Tidak... Daddy hanya bertanya" jawab Arthur.


"Tapi Daddy terdengar seperti mengusir ku" ucap Al dengan wajah datar nya, sungguh mereka seperti manusia kembar yang berbeda usianya.


Nayla yang sedari tadi hanya menjadi pendengar hanya geleng-geleng kepala, dia sering kali melihat perdebatan kecil antara anak dan ayah itu sejak kelahiran Ayana. Aldric jadi sering mangkir dari panggilan neneknya untuk berkunjung ke kediaman Hernandez.Celia pada akhirnya sering mengalah dan mendatangi Aldric. Arthur belum berniat pindah dari apartemen milik nya, Nayla pun begitu, Max yang di minta untuk mengikuti mereka jika mereka harus pindah ke tempat yang lebih besar, ternyata menolak permintaan pasutri tersebut, hingga akhirnya Arthur mengurung kan niatnya untuk membangun rumah pribadi nya dengan anak dan istrinya.


"Berhenti berdebat! aku sampai bosan mendengarnya! Bee biarkan mereka bermain berdua" sela Nay.


"Tidak! bayi mungil seperti ini belum bisa di ajak bermain" jawab Arthur seraya membawa Ayana ke dalam gendongan nya.


"No Daddy!! turunkan,.....aku mau melihat dia Daddy" teriak Al sambil melompat -lompat ingin meraih sang adik yang berada di gendongan Arthur.Melihat ulah mereka berdua, Nay sampai memijit pelipisnya sendiri, dia begitu heran melihat Arthur yang suka sekali menjahili anaknya sendiri.

__ADS_1


Di tempat lain Syahnaz sedang duduk di hadapan seseorang, beberapa kali Syahnaz meremas tangan nya sendiri, walaupun sudah empat tahun lamanya, tetap saja, Syahnaz merasa sangat canggung bertemu dengan anggota keluarga Hernandez.Rasa di hati Syahnaz tentu saja bercampur aduk, antara senang,sedih,kecewa semuanya bersatu menjadi satu.


"Pulang lah Naz" ucap Morgan,


ya... Morgan yang sedang duduk di depan Syahnaz, gadis yang dari dulu sampai sekarang tetap di anggap nya sebagai sepupunya, Morgan tak pernah membedakan Syahnaz dengan Bobby dan Arthur yang jelas-jelas sepupu kandungnya, Morgan tak peduli walaupun Syahnaz tidak ada hubungan darah sama sekali dengan nya.Baru beberapa hari yang lalu, Morgan mengetahui keberadaan Syahnaz.


"Aku sudah berada di rumah ku Kak, kemana lagi aku harus pulang?" jawab Syahnaz sendu.


"Walaupun tak pernah mengatakan apapun, tapi Tante Abigail pasti sangat merindukan anaknya" kata Morgan, dia berusaha membujuk Syahnaz untuk kembali ke keluarga Hernandez dengan menggunakan nama Abigail.Syahnaz hanya menggelengkan kepalanya.


"Jangan buang waktu mu Kak, aku tidak akan kemana-mana" kata Syahnaz,


Selama empat tahun belakangan ini, tak pernah ada bahu yang benar-benar dia gunakan untuk bersandar, Syahnaz tetap mencoba tegar di hadapan Robert dan istrinya juga di depan Bella.Bella gadis yang masih berusia 22 tahun itu,tidak kalah menderitanya dari diri nya, di perbudak oleh paman dan bibinya selama hampir seumur hidupnya, Bella bisa terbebas dari sang Paman,karena Paman nya mempunyai hutang pada Robert, akhirnya setelah mendengar cerita dari beberapa orang, Robert meminta Bella sebagai pembayaran utang dan sejak satu tahun lalu, Bella benar-benar sama seperti Syahnaz yang di anggap anak sendiri oleh Robert dan istrinya.


"Setidaknya datang lah ke pernikahan ku, walaupun hanya sebentar" pinta Morgan yang masih memeluk Syahnaz, karena menyadari Syahnaz tak ingin pulang kembali ke keluarga Hernandez.Dan Syahnaz hanya bisa mengangguk saja. Akhirnya Morgan memutuskan untuk pergi dari sana, meninggalkan Syahnaz yang masih bingung, apakah benar dia memutuskan untuk datang ke pernikahan Morgan dan Echa, Karena di sana jelas dia akan bertemu dengan keluarga besar Hernandez termasuk Abigail di dalamnya, wanita yang setiap malam selalu dia rindukan.


Beberapa hari kemudian tepatnya 2 hari sebelum hari pernikahan Morgan, Syahnaz nampak duduk dengan gelisah di kamar hotel yang dia dan Bella pesan.Hari ini rencananya mereka akan bertemu dengan Sam, untuk melihat tempat yang akan mereka hias dengan bunga pesenan Sam, Syahnaz benar-benar masih bimbang dengan keputusan nya untuk datang atau tidak ke pernikahan Morgan.


"Apa kau sudah memutuskan untuk datang?" tanya Bella yang baru saja selesai mandi.

__ADS_1


"Entahlah.... menurut mu?" tanya balik Syahnaz, dia hanya menceritakan sepenggal kisah tentang keluarga Hernandez pada Bella.


"Aku rasa kamu harus hadir..... bagaimana?...jangan memandang mereka, pandang lah Tuan Morgan yang jauh-jauh menemui mu" saut Bella menyakinkan Syahnaz.


"Sudahlah, ayo kita ke bawah, Tuan Sam sudah menunggu, kau tau.....aku senang menginap di sini....ini pertama kali aku menginap di hotel mewah......." lanjut Bella, dia bahkan sampai berlari-lari kecil ke arah jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan kota, dan Syahnaz hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis yang 6 tahun lebih mudah dari nya itu.


Dan di sinilah Bella dan Syahnaz berada saat ini, duduk di sebuah restoran yang juga masih berada di kawasan hotel, mereka sedang menunggu Sam,dan asistennya yang sedang menemani Bella dan Syahnaz saat ini.Setelah menunggu sekian menit, Sam datang dengan melebarkan senyumnya kepada kedua gadis tersebut.


"Maaf menunggu lama nona-nona" sapa Sam


"Tidak Tuan, kami baru saja sampai, dan terimakasih atas fasilitas hotel yang Anda berikan " saut Syahnaz,dan Bella mengangguk sebagai tanda setuju akan perkataan Syahnaz.


"Tidak masalah Nona Syahnaz, aku senang jika bisa membuat Anda senang" ucap Sam dengan tatapan yang penuh arti, hal itu justru membuat Syahnaz salah tingkah sendiri, Bella yang melihat nya hanya tersenyum tipis, Namun berbeda dengan seorang lelaki yang tengah berdiri tak jauh dari mereka,Lelaki itu nampak mengepalkan tangannya kuat-kuat melihat wajah Syahnaz yang terlihat tersipu dan salah tingkah.


"Panas Max?"


Sungguh pertanyaan yang membuat Max menatap tajam pada si pemilik suara tersebut.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2