
Para undangan terlihat tengah berdatangan satu demi satu, Morgan juga nampak terlihat menyambut mereka, sedang kan Echa masih berada di ruang make up di temani oleh Nay dan juga Alice.Alice menatap Echa dengan haru, dia memang lebih lama mengenal Echa dan tau kisah cinta Morgan dan Echa yang penuh dengan tantangan.Di antara mereka bertiga, bisa di bilang Nayla lah yang paling beruntung mendapatkan jodoh, Arthur tak pernah sedikitpun menyakiti hati Nayla, sedangkan Alice,harus berjuang merasakan sakit hati terlebih dahulu dari Bobby, sebelum Bobby benar-benar menyadari perasaannya pada Alice, walaupun setelah nya Bobby terlihat bucin akut pada Alice.Namun Echa, lebih dari sakit, di paksa berpisah dengan sang kekasih, di paksa merasakan benci pada sang kekasih,bahkan hampir kehilangan nyawanya beberapa kali hanya demi sang kekasih. Echa pantas bahagia bersama orang yang di cintai nya, dan hari ini saatnya telah tiba.
"Alice......" ucap Echa ketika melihat mata Alice yang berkaca-kaca.
"Aku hanya terharu..... kamu akhirnya bahagia.......aku sangat bahagia melihat mu Cha...." saut Alice dan akhirnya, air matanya tumpah juga.Nayla memeluk bahu Alice dan sedikit mengusap nya, memberikan ketenangan pada Alice.Di antara mereka bertiga, memang Alice yang paling cengeng dan mudah menangis, dan mereka memaklumi itu semuanya.
"Dan usap air mata mu, karena kamu tidak cantik dengan make up belepotan" ucap Echa sambil membersihkan air mata Alice dengan tisu, dan mereka tertawa kecil bersama.Beberapa saat kemudian, mereka di panggil karena pengantin perempuan harus naik ke atas pelaminan,dengan hati senang mereka bertiga melangkah menuju ruang pesta.
Berbeda jauh dengan tiga wanita tersebut, Syahnaz nampak meremas beberapa kali gaun yang di pakainya, Max yang menyadari hal itu, segera menutup kembali pintu mobil nya,karena sebenarnya mereka sudah sampai di parkiran mobil di hotel tersebut.
"Kenapa?" tanya Max.
"Max....bisa kah.... bisakah aku datang belakangan saja, maksud nya....aku akan memberi selamat pada Kak Morgan nanti saja" ucap Syahnaz dengan gugup.
__ADS_1
"Kau datang sebagai calon istri ku, bukan sebagai anggota keluarga Hernandez" saut Max, dia tau betul apa yang di khawatir kan oleh Syahnaz.
"Tapi Max....."
"Stsssst.....kau hanya perlu menggenggam erat tangan ku" Max segera menghentikan ucapan Syahnaz.
seperti biasa Max akhirnya bisa memaksa Syahnaz untuk keluar dari mobil menuju ke ruang pesta di mana keluarga besar Hernandez menggelar pesta pernikahan Morgan dan Echa, dengan sangat megah. Max berjalan dengan merangkul pinggang Syahnaz, mencoba memberikan ketenangan kepada wanita yang dicintainya itu, Max sangat tahu betapa gugupnya Syahnaz saat ini, Max tahu yang dipikirkan Syahnaz saat ini adalah bagaimana reaksi Abigail bila melihat dirinya, sungguh Syahnaz masih memikirkan tentang sakit hati yang di derita oleh wanita yang bertahun-tahun dianggap sebagai mama kandungnya sendiri itu.
Meriahnya pesta pernikahan tersebut,membuat Syahnaz terkesima, akhirnya setelah bertahun-tahun tak pernah lagi mendatangi sebuah pesta megah, kali ini dia datang lagi ke pesta seperti ini, dan kali ini dia datang sebagai pasangan lelaki yang sudah bertahun-tahun dia cintai.
Mendengar kata sayang seorang Max, membuat Syahnaz menolak seketika,dan dia melihat dengan lekat mata Max yang seakan mengatakan bahwa dia akan terus menggenggam erat tangan Syahnaz.
"Syahnaz....." panggil Nayla dari kejauhan
__ADS_1
Mendengar nama gadis yang bertahun-tahun dia rawat, Abigail terpaku di tempatnya,tanpa berani membalikkan badannya, saat ini dia sedang dalam posisi membelakangi Syahnaz dan berbincang dengan Nayla dan anggota keluarga Hernandez lainnya. Namun Nayla sepertinya sangat sengaja mengeraskan suara nya, dia berjalan menuju ke arah Max dan Syahnaz.
"Apa kabar Syahnaz?" tanya Nayla berbinar, akhirnya setelah sekian tahun, Max datang ke pesta dengan menggandeng seorang wanita.
"Aku baik Nay, bagaimana dengan mu?" tanya Syahnaz, Namun dia mencuri pandang ke arah Abigail yang tak berpaling sama sekali.
melihat punggung wanita yang sangat di rindukan nya, rasanya Syahnaz ingin sekali memeluknya, namun Syahnaz sadar,pasti Abigail tidak bersedia di peluk oleh Syahnaz, setidaknya itulah yang di pikirkan oleh Syahnaz saat ini.Sedangkan apa yang di pikirkan oleh Syahnaz,jauh berbeda dengan apa yang di pikirkan Abigail, Abigail perlahan memejamkan mata nya,demi mendengar suara anak gadisnya, sungguh wanita paruh baya itu sangat merindukan anaknya , empat tahun lamanya,membuat Abigail banyak berpikir dan menyesali perbuatannya yang memutuskan hubungan dengan Syahnaz.
"Bigail..." panggil Aleysia.
Abigail memilih pergi dari sana, rasanya kakinya sudah tak sanggup lagi untuk berdiri.Namun Syahnaz yang melihat kepergian Abigail berpikir bahwa Abigail masih marah, Syahnaz menoleh ke arah Max.
"Max....aku ingin pulang" ucapnya lirih.
__ADS_1
bersambung