
"Max....aku ingin pulang" ucap Syahnaz lirih,
Syahnaz sedikit mengguncang tangan Max, dia benar-benar ingin pergi jauh dari pesta tersebut.Rasanya sakit dan rindu yang dia pendam selama empat tahun ini, kembali lagi, dan bahkan lebih sakit dari yang pertama ketika dia bisa melihat sosok sang Mama.Max tau akan perasaan Syahnaz saat ini, dia kemudian pamit pada sepasang pengantin di atas pelaminan, mengatakan bahwa Syahnaz sedang tidak enak badan.Morgan yang sedari tadi memperhatikan Syahnaz, tentu saja tidak percaya,dia tau betul bagaimana sifat sepupunya itu.Morgan menarik tangan Syahnaz ketika mereka berpamitan, membawanya ke dalam pelukannya.
"Kamu akan baik-baik saja, masih ada Max yang sangat mencintai mu.....aku mohon jangan menangis lagi" bisik Morgan, dan hal itu malah membuat Syahnaz terisak lirih, Echa mencoba menenangkan Syahnaz dengan ikut mengelus lengan Syahnaz yang berada di dalam pelukan Morgan.Echa tau betul, Morgan adalah sepupu Syahnaz yang paling dekat dengan Syahnaz di bandingkan dengan Bobby dan Arthur.
Setelah melepaskan pelukannya, Morgan mencoba tersenyum agar Syahnaz ikut tersenyum, dan Syahnaz yang tak mau merusak kebahagiaan sepasang pengantin baru itu pun ikut tersenyum kecil.Sebelum Max dan Syahnaz meninggalkan pesta, seseorang mendekati Max dan melaporkan sesuatu. Max sedikit terlihat tak percaya dengan apa yang didengarnya, kemudian dia memandang Syahnaz dari kejauhan yang nampak menatap dia juga, Syahnaz sengaja menunggu Max yang tengah berbicara dengan anak buahnya, terlihat anak buahnya melaporkan sesuatu kepada Max, setelah menyuruh anak buahnya untuk pergi Max mendekati Syahnaz.
"Ada masalah?" tanya Syahnaz terlihat khawatir.
Max tak menjawab, dia hanya mengangguk, kemudian mengambil tangan Syahnaz dan mengandeng nya menuju ke suatu tempat.
"Kita menginap di sini?" tanya Syahnaz sedikit cemas.
"Iya...aku ada urusan sedikit" Jawab Max.
"Aku di antar sopir saja, tidak apa-apa....aku ingin pulang saja Max" rengek Syahnaz,. sungguh dia tak ingin berlama-lama berada di lingkup keluarga Hernandez, karena Syahnaz tau betul ini adalah hotel keluarga Hernandez, cepat atau lambang dia tau bertemu lagi dengan Abigail.Mendengar rengekan dari Syahnaz, Max tiba-tiba merapatkan tubuh Syahnaz ke di dinding lift, Ya.. mereka sedang berada di dalam lift menuju kamar hotel yang di pesan asisten Max.Max menghimpit tubuh Syahnaz yang berada di dinding lift.
"Max...a-apa yang kamu lakukan?" ucap Syahnaz gugup, jantung nya berdetak tak karuan ketika tubuh nya dan Max bahkan tak berjarak sama sekali.
"Kau terlalu menggemaskan Naz!!" ucap Max dengan datar, sungguh Lelaki itu tak tahu bagaimana cara merayu wanita.
__ADS_1
"Max .....aku....hmpppptt..." ucapan Syahnaz terpotong oleh ciiiuman Max yang di lancarkan pria itu tiba-tiba, bahkan Syahnaz tak sempat membalasnya saking kagetnya.Setelah puas Max melepaskan ciuuman nya walaupun tanpa balasan dari Syahnaz.
"Max!!" pekik Syahnaz sambil mengelap sisa -sisa saliva Max akibat ciuuman dadakan nya.
"Kamu menggemaskan " kata itu keluar begitu saja dari mulut Max, bukan hal romantis, namun cukup membuat Syahnaz merona pipinya.Kemudian beberapa saat, bunyi pintu lift terbuka menyadarkan Syahnaz akan keberadaannya, Max buru-buru membawa Syahnaz keluar dari sana, menuju ke sebuah hotel, sesampainya di depan pintu kamar tersebut, Max berhenti tepat di hadapan Syahnaz,mereka saling berhadapan, dan Max memegang kedua bahu Syahnaz seakan meyakinkan Syahnaz akan sesuatu.
"masuklah aku akan masuk setelahnya,di dalam nanti, apapun yang kamu temui, semuanya demi dirimu" kata Max dengan ambigu.
Syahnaz hanya mengerutkan keningnya saja, tanda tak mengerti apa yang dikatakan oleh Max, namun dia menyadari bahwa Max akan meninggalkannya di kamar hotel itu sendiri.
"kau meninggalkan aku disini sendiri Max?" tanya Syahnaz sedikit takut,
Kemudian Max membuka pintu tersebut, lalu menyuruh Syahnaz untuk masuk, Syahnaz yang awalnya ragu-ragu akhirnya memilih untuk masuk setelah mendapatkan kecupan di keningnya dari Max, kemudian Max menutup itu kembali. Syahnaz masuk perlahan ke dalam kamar hotel itu, dia melihat ke sekeliling kamar,sampai pandangannya menangkap sosok yang begitu sangat dirindukannya, wanita yang bertahun-tahun dia anggap sebagai mama kandungnya itu sedang berdiri membelakanginya melihat tatanan kota dari jendela besar yang ada di sana.Entah mengapa kaki dan tangan Syahnaz tiba-tiba gemetar,dia merasa terjebak di dalam kamar hotel itu oleh Max, karena Syahnaz masih berpikir bahwa Abigail tidak ingin menemuinya, lalu bagaimana bisa Max mempunyai akses masuk ke dalam kamar hotel perempuan tersebut.
Perlahan tapi pasti, Syahnaz melangkah mundur menuju ke pintu kamar hotel tersebut, pandangan matanya tak lepas dari sosok wanita yang ada di depannya,lebih tepatnya punggung wanita yang ada di depannya, karena memang Abigail sedang membelakanginya, begitu sampai di dekat pintu, Syahnaz segera membuka pintu tersebut, Namun suara dari pintu tersebut seakan membangunkan Abigail dari lamunannya, serta merta Abigail membalikkan tubuhnya melihat ke arah Syahnaz yang sedang menatapnya sambil memegang pegangan pintu kamar hotel tersebut dengan niat untuk membukanya.
tiba-tiba Syahnaz melepaskan pegangan tangannya, hingga pintu itu tertutup kembali. dia bisa melihat bagaimana tatapan mata Abigail kepadanya, tatapan mata rindu dan cinta yang pernah dia rasakan bertahun-tahun yang lalu, bertahun-tahun lamanya hingga sebuah insiden melenyapkan pandangan penuh cinta dan rindu itu 4 tahun yang lalu,namun saat ini, Syahnaz melihatnya kembali, tubuhnya benar-benar gemetaran menahan tangisannya yang hampir pecah, namun Syahnaz sudah bukanlah Syahnaz yang lemah seperti dulu lagi, setidaknya itulah yang ada di pikiran Syahnaz,dia harus bertahan untuk tidak menangis di depan Abigail.
"kau ingin pergi lagi?" ucap Abigail melihat Syahnaz yang hendak pergi.
Syahnaz tak bisa menjawabnya, dia hanya menggeleng kecil ketika Abigail mendekatinya secara perlahan, sungguh kakinya tak bisa dilangkahkan sekarang, ingin rasanya lari dari sana, namun hatinya berkata lain, dia ingin memeluk wanita yang ada di depannya itu. dia benar-benar merasa sangat rindu dengan Abigail,sang mama tiri yang sudah dianggapnya sebagai mama kandungnya sendiri.
__ADS_1
"Kau ingin meninggalkan aku lagi?" tanya Abigail sambil terus mendekati Syahnaz, dan lagi-lagi Syahnaz hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kau tidak pernah rindu pada Mama mu?" kalau ini pertanyaan Abigail sukses membuat dua wanita itu menangis secara bersamaan, Syahnaz dengan sedikit berlari menyambut tubuh Abigail, memeluknya sangat erat, seakan-akan tidak ingin kehilangannya lagi.
"Aku rindu... sangat rindu " ucap Syahnaz.
"Bolehkah aku memanggil Mama??"
"Bolehkah.....Masih bolehkah??" pertanyaan Syahnaz sontak membuat Abigail memukul pelan kepala Syahnaz yang ada di dalam pelukannya.
"Dasar anak bodoh!! Mana ada anak yang tidak boleh memanggil Mama nya dengan sebutan Mama!!!" saut Abigail.
"Mama!!"
"Mama!!"
"Mama!!"
Syahnaz mengulang-ulang terus panggilan nya pada Abigail, pertemuan ibu dan anak yang sangat mengharukan membuat keduanya seakan tak bisa melepaskan pelukannya.Ya...sudah saat nya, Syahnaz bahagia!!!!.
bersambung
__ADS_1