
Pagi hari di rumah Hernandez
"Kenapa aku tidak melihat Arthur? kemana dia?"
tanya Aleysia sambil melirik kursi kosong milik Arthur.
"Tuan Arthur berada di apartemen nya nyonya Aleysia, semalam beliau dan asisten nya bertemu dengan klien dari Arta grup, mereka ber temu cukup larut!" Lita coba menjelaskan dan memang benar, pihak Arta grup meminta kerja sama dengan Hernandez corp. dan Arthur yang di tugaskan untuk menghandle semuanya.
"Bagaimana pekerjaan mu Bobby?" tanya Abigail, dia tahu banget bahwa keponakan yang satu ini sangat lamban, setidaknya bila di bandingkan dengan Arthur sepupunya.
"Tenang saja Tante, pekerjaan ku tak seberapa penting! jadi bila pun aku gagal aku tak akan mengecewakan kalian! benarkan? hahahahahaha!"
saut Bobby, lelaki slegean yang susah sekali di atur, dia bahkan tipe sepupu yang tak malu bila di bandingkan dengan Arthur.
Bagi dia, Arthur adalah sepupu kesayangan, selain Morgan,dan Syanas.
"Selesai kan saja makan kalian! aku ada meeting pagi ini, ayo Morgan!" kata Bara yang berdiri sambil melihat jam di tangannya.
"Bukankah masih ada waktu satu jam lagi Bara?" tanya Celia menghentikan acara makan nya.
"Iya Kak, tapi aku perlu membahas ini dengan sekertaris ku, dan aku sengaja meminta antar Morgan karena kita searah!" kata Bara.
"Hemm baiklah!"
Bara dan Morgan pun berlalu, mereka memang orang-orang yang cukup berpengaruh di Hernandez corp. selain Celia, Arthur dan juga Abigail. Aleysia lebih suka bermain di luar kantor, mengurus segala urusan yang bersangkutan dengan keluarga nya serta kesejahteraan keluarga nya sendiri tanpa ikut campur tangan ke dalam perusahaan, tak heran segala sesuatu yang bisa dia kerjakan akan dia lakukan tanpa bantuan suaminya. Sedangkan Viko yang tak sehebat menantu Hernandez lainnya lebih memilih untuk berada di belakang sang istri, yaitu Abigail.
Morgan memang tak sekuat Arthur posisinya, namun dalam hal kecerdasan otak, Arthur dan Morgan hampir seimbang, walaupun Arthur selalu selangkah lebih maju dari Morgan. Pembawaan Morgan yang lebih ramah dan sabar memberi nilai plus tersendiri bagi orang-orang yang ada di kantor Hernandez corp., namun ketegasan dan kewibawaan Arthur yang membuat nya lebih berkharisma.
Di Apartemen milik Arthur
Celia berjalan dengan anggun menuju apartemen milik anak nya, Tuhan lagi-lagi masih berpihak padanya, di saat pengacara membacakan isi surat wasiat Rosemary, dirinya sudah memikirkan cara untuk membuat posisi anaknya aman di dalam perusahaan, pengangkatan Arthur sebagai Ceo baru menggantikan dirinya tak boleh di batalkan, dia harus bisa menaikkan anak yang sudah dia persiapkan sejak dini dan bahkan dia didik sekeras mungkin.
Apartemen Arthur bukan apartemen biasa, penjagaan nya sungguh sangat ketat, dan Arthur menyewa apartemen tersebut yang hanya terdapat dua unit di setiap lantai apartemen tersebut.Satu milik Arthur dan satu milik Max.
__ADS_1
Celia tak pernah 100% mempercayai seseorang, pengalaman nya yang membuat dia tetap waspada dalam segala hal.
"Bagaimana? apa perempuan itu sudah kamu bawa ke sini Fila?" tanya Celia sambil berjalan keluar left menuju ke unit apartemen Arthur.
"Sudah Nyonya, dia dalam perjalanan ke sini!" jawab Fila
"Pastikan semua berjalan dengan baik Fila,....heh.....!!!! lagi-lagi Nyonya Rosemary Hernandez melibatkan orang luar dalam masalah keluarga kita sendiri!" ucap Celia.
Dengan gerakan cepat Fila membuka pintu apartemen yang juga dia ketahui password nya.
ceklek.......
Celia masuk ke dalam apartemen, di sana Max sudah menunggu, melihat Celia dan Fila datang Max menundukkan kepalanya sebentar sebagai tanda hormat, dan Celia langsung melihat seorang gadis cantik duduk dengan tenang di sofa ruang tamu tersebut. Nayla baru saja di telepon oleh Bunda nya, bahkan sang Bunda juga mengatakan dia akan segera menemui Nayla karena orang suruhan Arthur datang menjemput. Melihat seorang wanita yang anggun dan cantik datang, Nayla nampak berdiri dan menundukkan kepalanya tanda hormat.
"Jadi kamu Dinayla Saraswati?"
tanya Celia sambil berjalan dan duduk di depan Nayla, Nayla mengikuti Celia duduk, sedangkan Arthur berada di sisi lain dari sofa yang mereka duduki.
"Benar Nyonya" jawab Nayla dengan nada lembut dan tenang.
tanya Nayla, bukan tanpa alasan Nayla mengatakan tuan penguasa! karena sedari kemarin lagak Arthur benar-benar seperti penguasa, dia memerintah dan meminta Nayla seenaknya saja.
"Hahahahahaha apa dia nampak seperti seorang penguasa?" tanya Celia dengan tawanya, namun tawanya nampak lebih terdengar menyeramkan.
"Langsung ke topik saja nyonya! kami merasa tak mengenal Anda-anda semua, dan saya serta Bunda saya merasa tidak berbuat masalah atau apapun yang menyinggung Anda-anda sekalian bukan?" kata Nayla.
"Tentu saja kita punya masalah yang belum terselesaikan Nona Nayla! kan kita akan menyelesaikan di sini! saat ini juga! bagaimana?" kata Celia.
Nayla diam saja, jujur dia masih bertanya-tanya apa sebenarnya yang ingin wanita di depannya ini bahas, hingga pintu apartemen di ketuk, Fila berjalan untuk membuka pintu dan Dewi nampak masuk di belakang Fila.
"Bunda?" kata Nayla sambil menghampiri Bunda nya.
"Kamu gak papa Nay?" tanya Nayla
__ADS_1
"Tidak apa Bun"
"Silahkan duduk Dewi!" sebuah suara membuyarkan temu kangen ibu dan anak tersebut.
Dewi perlahan duduk di depan Celia, dia menatap ke arah bekas majikan nya itu, 18tahun, seakan tak pernah mengubah kecantikan wanita di depannya itu.
"Apa kabar Nyonya?" tanya Dewi
"Cukup baik, entah beberapa menit ke depan!" kata Celia
"Ada masalah apa Nyonya melibatkan kami? rasanya sudah cukup peristiwa lampau Nyonya, saya dan anak saya tak ingin terlibat kembali dengan keluarga Anda!" kata Dewi
"Sayangnya bukan aku yang melibatkan mu Dewi, salah kan saja nyonya Rosemary, mertua ku itu Dewi!" kata Celia dengan tenang.
"kalau begitu, kita kubur saja permasalahan apapun yang berhubungan dengan nyonya Rosemary bersama dengan jasadnya nyonya" usul Dewi.
"Hahahahahaha..... Dewi.... rupanya kau tumbuh dengan sangat baik!" kata Celia dan sekilas melihat ke arah Nayla
"Dan kau mendidik dia dengan sangat baik juga Dewi!" lanjutnya.
"Terimakasih pujian Anda nyonya" saut Dewi
"Kau tau Dewi, aku memberikan perlindungan mutlak pada anakmu ini, karena jika kau tak bisa menjaganya dan menolak keinginan Rosemary,maka setelah keluar dari apartemen ini, bisa jadi besok kau akan mengubur kan jasad anak mu!"
Nayla yang tak paham hanya diam sambil menoleh ke arah Bunda nya, Dewi nampak menimbang sesuatu.
"Kau tau betul keinginan Rosemary....ya kan Dewi?"
Dewi nampak terdiam, sungguh dia sangat dilema, kata mengubur kan anaknya terus terngiang di telinga Dewi, kalau bukan Celia yang menginginkan nyawa Nayla, pasti anggota keluarga yang lain dan Dewi tak tau siapa, yang pasti saat ini Celia menjadi sekutu nya. melihat gelagat Dewi, Celia tau Dewi tak ada pilihan.
"Arthur!" panggil Celia
"Ya Mom!"
__ADS_1
"Kau siap melamar Nayla?"
bersambung.....