Arthur (Sang Penguasa)

Arthur (Sang Penguasa)
Titik terang kehancuran musuh


__ADS_3

Ariel sudah bersiap untuk pergi, sedangkan Praz baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membelit di pinggang nya, jangan lupakan senyum penuh kemenangan yang dia lempar kan pada sang kekasih.


"Tuan Arthur akan membunuhku Praz!!!" ucap Ariel dengan ketus pada sang kekasih, nyatanya Praz meminta sesi kedua sesaat setelah sesi pertama berakhir.


"Kau bahkan mengeluarkan suara desaahan yang lebih keras daripada aku sayang!" bisik Praz yang entah sejak kapan berada di belakang Ariel.


Ariel menyikut perut Praz, hingga Praz sedikit mengaduh walaupun pada akhirnya dia tertawa lepas, entah mengapa pesona gadis itu selalu membuat Praz jatuh cinta berkali-kali.Namun karena tugas mereka masing-masing, membuat mereka belum bisa merencanakan pernikahan mereka, Praz merasa nyaman dengan hubungan mereka, begitu pula Ariel, jadi rasanya cukup bagi mereka, setidaknya itulah yang ada di pikiran Praz dan juga Ariel.


Akhirnya Praz membiarkan Ariel pergi, karena sudah di tunggu anak buahnya, Praz tak bisa mengantarkan Ariel, Mereka hanya berpisah di ambang pintu apartemen.


"Hubungi aku nanti" kata Praz sambil meninggalkan kecupan di bibir Ariel.


"Hemmmm...aku pergi!"


Di sisi lain, Bobby sedang di buat kalang kabut dengan keadaan Alice, Bobby membawa Alice ke pedesaan di mana tempat itu menjadi impian Alice, Mereka menempati rumah Alice yang ada di sana.Bobby berusaha menghindar dari kenyataan yang beberapa waktu lalu dia ketahui.Entahlah, rasanya sulit membenci Bara, namun dia juga merasa sangat kecewa.Perlakuan Bara dari kecil padanya sangat baik, dia menjadi sosok Ayah yang baik bagi Bobby, walaupun pada kenyataannya Bobby baru tau bahwa dia adalah saudara kembar Papa kandung nya.


"hooeeekk.....hooekkk..."


Alice terus memuntahkan cairan dari dalam tubuhnya, karena makan malamnya semalam pun sudah dia muntahkan tadi pagi.Bobby dengan tatapan iba melihat Alice yang masih kesusahan di usia kandungan yang sudah menginjak bulan ke 5.


"Kau mau minum sesuatu? atau mau makan sesuatu? aku belikan ya?" tawar Bobby dengan penuh kelembutan.


Sejak memutuskan untuk tetap bersama dengan Alice, walaupun nyatanya dia melakukan nya lantara anak dalam kandungan Alice, Namun semakin hari bersama dengan wanita itu,membuat Bobby merasa nyaman, apalagi ketika tiba-tiba Alice sangat manja padanya, hal itu membuat Bobby merasa sangat di butuhkan Alice, ada perasaan senang yang menyelimuti hatinya.

__ADS_1


"Bob....hemmmm....aku....hemmmm..." kata Alice ragu-ragu.


"Katakan" saut Bobby.


"Pan cake buatan Echa.....aku mau" suara Alice semakin menghilang, walaupun perlakuan Bobby sangat baik padanya,namun sekuat hati, Alice membentengi dirinya untuk tidak merepotkan dan tidak tergantung pada Bobby, Alice hanya takut,dia akan di tinggalkan oleh Bobby ketika anaknya telah lahir.


"Baiklah,.....aku akan menghubungi nya" kata Bobby.


Bobby nampak ragu menghubungi Echa, namun Bobby tau, Echa pasti tak akan ke rumahnya sendirian, Morgan pasti datang bersama nya, bukannya Bobby membencinya, walaupun hubungan Morgan dan Bobby memang lebih baik daripada Morgan dan Arthur, namun ketika mengetahui kenyataan bahwa Bara adalah ayah kandung Morgan, entah mengapa hatinya merasa tak rela, Bobby terlalu menyayangi Bara.Dan setelah beberapa jam, Benar saja,Echa datang bersama Morgan, Bobby sudah memperkirakan semuanya, hingga dia sedari tadi mempersiapkan hatinya untuk bertemu dengan Morgan.


"Bob....maaf" ucap Alice lirih ketika melihat Morgan juga keluar dari mobil Echa, Bobby saja tersenyum tipis.


"Alice......kangen banget" ucap Echa sambil memeluk wanita yang tengah hamil itu.


"Aku juga" saut Alice


"Hemmm... sudahlah... semuanya sudah baik-baik saja, jangan terlalu banyak berpikir... sekarang..... biarkan aku ke dapur milik mu dan membuatkan pan cake...." kata Echa.


"Aku sudah membawa bahan nya juga!" lanjut Echa.


"Oh sorry....aku sampai lupa menyapa mu Bob" sapa Echa pada Bobby yang ada di samping Alice.


"hai Cha, apa kabar?" sapa Bobby

__ADS_1


"Baik......., baiklah... kalian berdua berbincang lah, aku akan buatkan minum dan pan cake yang enak" kata Echa sambil mengandeng tangan Alice.Echa tau ada kecanggungan sedari tadi antara Morgan dan Bobby, dan tentunya Echa berencana membuat hubungan mereka berdua mencair kembali.


"Hai Bob" ucap Morgan.


"Hemmm...hai.."


"Maaf Bob, tak seharusnya aku menyembunyikan status ku...." kata Morgan.


"Hemmm ...aku tau, aku hanya kecewa dan aku hanya kasihan dengan Mama" saut Bobby.


"Semuanya juga bukan sepenuhnya salah Papa, percayalah" kata Morgan menyakinkan Bobby, Morgan tau papanya sangat tersiksa ketika Bobby belum mau menemui nya sampai saat ini.


Entah Mengapa, ketika Morgan menyebutkan kata Papa, hati Bobby sakit,Dia seolah-olah berbagi Papa dengan Morgan, dan dia tak rela.Walaupun selama ini Bara,lebih memilih Morgan sebagai pemimpin perusahaan, namun Bobby tak pernah menyangka bahwa ini adalah alasan di balik sikap Bara, dia selalu berpikir bahwa Morgan lebih berpotensi dalam mengelola perusahaan, Karena itu Bobby tak pernah sekalipun iri akan dukungan Bara pada Morgan.


Akhirnya mereka larut dalam keheningan, hingga suasana mencair ketika dua wanita mereka datang bergabung.


"Pelan-pelan Al..." kata Bobby lembut sambil membersihkan sisa makanan yang masih menempel di bibir Alice.


"Ini enak sekali Bob" kata Alice dengan mulut yang masih penuh makanan.


"Tapi pelan Al, aku takut kamu tersedak" ucap Bobby sambil mengulurkan segelas jus jeruk madu pada Alice, karena mual dan muntah yang masih sering datang, Alice lebih suka minuman yang berbau jeruk.Echa tersenyum melihat bagaimana Bobby memperlakukan sahabat nya, Echa yakin mereka sudah berdamai dengan keadaan.dan Echa berharap semuanya bukan hanya sementara, Echa berharap sahabatnya akan terus bahagia selamanya. Dua pasang manusia itu tengah bahagia dan melupakan segala masalah yang mereka hadapi, Namun di sisi lain, seorang wanita tengah mondar-mandir di dalam kamar pribadi nya.


"Tidak....aku tidak akan ketahuan.....ya...pasti!! tidak ada CCTV di dalam toilet....dan lagi... wanita itu tidak mengenali ku!!" ucap Balqis dengan sesekali menggigit kuku tangan nya. Balqis tak tenang beberapa hari ini karena mengetahui kabar bahwa Nayla bangun dari komanya, dan salah satu bayi nya masih hidup. Berbanding terbalik dengan Balqis, nyatanya kedatangan Sam ke dalam negri benar-benar berdampak baik, dalam hitungan jam saja, dia sudah bisa melapor pada Arthur.

__ADS_1


"Selamat sore tuan Arthur!.....Aku Samuel.... menemukan siapa dia!" ucap Sam dalam panggilan teleponnya, senyum seringai nampak terpampang jelas di wajahnya.Benar saja kata Ariel, jiwa iblis Sam seakan bangkit dari dalam tubuhnya, sudah lama bahkan cukup lama sekali Arthur tak pernah memerintahkan nya untuk melemaskan otot-otot tangan nya, dan saat ini Sam seperti mendapat jackpot ketika Arthur tiba-tiba menghubungi nya untuk mencari tau siapa pelaku pembunuhan calon anaknya dan bahkan Sam di percaya untuk mengeksekusi pelaku oleh Arthur. Sungguh hari keberuntungan untuk Sam, dan tentu saja kemalangan untuk Balqis yang tak pernah dia sadari.


bersambung....


__ADS_2