
Kabar tentang kehamilan Nayla yang mempunyai anak kembar, akhirnya sampai ke telinga sang Bunda, Dewi sangat senang ketika mendapatkan kabar tersebut.
"Benarkah?........ mereka kembar?" tanya Dewi ketika Nayla di ijinkan Arthur untuk berkunjung ke rumah sang Bunda.
"Iya Bun, aku senang sekali!" saut Nayla.
"Di jaga baik-baik kandungannya, kalau mau apa-apa bilang saja, ayah siap mencarikan untuk mu!" Amer sang Ayah ikut berbicara.
"Iya Ayah......di mana Echa? aku tak melihatnya?" tanya Nay karena sedari dia datang tak mendapati keberadaan Echa.
"Echa pergi dengan Morgan" saut Dewi sambil meletakkan camilan dan minuman di meja tempat mereka berbincang,di teras belakang rumah Dewi.
"Apa semuanya akan baik-baik saja?" tanya Nay sedikit khawatir, pasalnya dia tau, hubungan antara Echa dan Morgan di tentang oleh Mama Morgan, bahkan Bara, sudah mengatur perjodohan Morgan dengan Balqis, walaupun Nayla merasa Balqis malah mengincar suaminya,bukannya berusaha dekat dengan Morgan.
"Ayah harap seperti itu, sudah lama mereka saling menyakiti diri sendiri hanya demi menuruti kemauan orang lain" kata Amer menerawang, dia tau bagaimana penderitaan anaknya kala itu, hingga dia membiarkan Echa meninggalkan rumah dan lebih memilih bekerja di luar kota meninggalkan dirinya.
"Iya yah... Semoga!"
Hari semakin sore dan saat ini Nayla sedang berdiri di depan dua lelaki yang sejak tadi terlihat datar-datar saja, Nayla bahkan sudah berulang kali mengulangi perkataan nya.
"Bee.. Kak!! Nay bilang tersenyum di kamera! aku mau foto nya di cetak besar dan di pajang di kamar kita selama aku hamil Bee!" pinta Nayla.
__ADS_1
"Itu tidak akan terjadi Nona kecil!!" saut Arthur dengan kesal, dia benar-benar tidak akan membiarkan wajah Max menghiasi kamar mereka, apalagi Nay juga ingin melihat wajah Max berdampingan dengan Arthur.
"Bee......." rengek Nayla, ilmu baru meluluhkan hati Arthur, selama kehamilan Nayla, dia lebih sering merajuk walaupun sebenarnya mood nya baik-baik saja, bisa di bilang, itu cara Arthur mengerjai Arthur yang menjadi super protektif semenjak kehamilan Baby twins.
"Tersenyum Max!!" kata Arthur yang selalu luluh dengan rengekannya Nayla.
"Tapi ini tidak akan di cetak besar! dan hanya akan ada di nakas samping ranjang!! bukan terpajang di dinding kamar kita Baby!!" ucap Arthur penuh penekanan di setiap kata-katanya sambil melirik tajam ke arah Max, sedangkan yang di tatap hanya diam tanpa ekspresi sama sekali.
"Tapi aku mau Bee!" kali ini Nayla sedikit emosi, sudah berulang kali mengambil foto mereka berdua,namun tak ada satu pun yang membuat Nayla puas, senyum.... senyum dan senyum yang di tekankan oleh Nayla, nyatanya benar-benar tak di gubris oleh mereka berdua. Arthur yang ikut kesal segera berjalan cepat ke arah sang istri, menarik pinggang Nayla dan merapatkan ke tubuh nya.
"Jangan berharap terlalu banyak Nona kecil!!" ucap Arthur,dan di akhiri dengan meluuumat bibir ranum sang istri,di hadapan Max, Max yang jengah dengan drama pasutri itu,hanya bisa memutar bola matanya, kemudian berlalu dari sana, Dewi yang tadinya akan mengantar kopi untuk tamu dadakan Ng ya, diurungkannya. Dewi kembali berjalan menuju ke arah dapur.Nayla terus memukuli dada sang suami, lagi dan lagi.... Arthur sebagai pemenang nya.
Alice berjalan cepat sambil melakukan panggilan telepon di genggamannya, Dia nampak terburu-buru, bahkan ketika salah satu karyawan nya menegurnya, Alice tak memperhatikan,lebih tepatnya dia tak menyadari nya.
"Iya.....aku akan segera sampai di sana, 20 menit lagi... bagaimana?......" kata Alice.
"Baiklah....aku akan menunggu!" jawab si penerima telepon, setelah nya dia langsung mengakiri sambungan teleponnya.
"Nona Alice...."panggil salah satu karyawan Alice yang sedari tadi mengikuti yang sedang menerima telepon.
"ada beberapa berkas yang harus ditandatangani,Anda bisa melihatnya sejenak?" kata sang karyawan.
__ADS_1
"Aku sudah sangat terlambat, bisa kah kau serahkan nanti saja?" tanya Alice.
"Baik Nona .....nanti saya akan menghubungi Nona"
Setelah itu, Alice mencari taksi di depan Butik milik nya, beberapa kali dia memang sering menggunakan taksi dari pada mengendarai mobil nya sendiri, dan saat ini tujuan nya adalah kantor pengacara Andreas, lelaki yang menjadi teman sekaligus pengacara nya. Andreas adalah teman semasa kuliah Alice, namun sekali lagi, lingkup pertemanan Alice yang di atur sang Mama, membuatnya kesulitan akrab dengan beberapa teman, hingga kadang kala mereka hanya sekedar kenal saja.
Sesampainya di gedung kantor pengacara Andreas, Alice langsung keluar dengan terburu-buru dari taksi yang ditumpanginya, dia sungguh sangat tak enak hati dengan Andreas, karena sudah terlalu lama menunggunya, pasalnya hari ini dia sangat lupa kalau ada janji temu dengan Andreas, beberapa hari ini, Alice memang kurang sehat,dia banyak ngurusi pesanan Butik untuk penyelesaian pekerjaan terakhirnya, karena Alice berencana menjual Butik tersebut dan mulai tinggal di pedesaan yang menjadi impiannya selama ini.
"Maaf aku terlambat" kata Alice tak enak,
"Tidak masalah, aku juga baru saja keluar dari ruang meeting" saut Andreas.
Pada akhirnya, perbincangan mereka tentang perceraian yang di ajukan Alice, Andreas mendengar dengan baik, bagaimana langkah selanjutnya pun sudah di pikirkan oleh Andreas. dan setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Alice serta bagaimana Andreas akan mempelajari terlebih dahulu berkas perceraian tersebut, kini Alice dan juga Andreas sudah berjalan keluar dari ruangan Andreas.
Alice tak pernah menyadari, ternyata dari kejauhan Bobby dengan tatapan herannya sedang menatap ke arah Alice dan juga Andreas,dia benar-benar tak menyangka, dia akan melihat Alice di kantor pengacara yang sama dengan dirinya, Bobby sedang mengurusi kasus yang terjadi yang melibatkan perusahaannya,hingga dia harus datang ke kantor pengacara dimana pengacara keluarga Hernandez juga bekerja di gedung tersebut, namun Tak disangka oleh Bobby, dia melihat Alice sedang berjalan keluar dari ruangan Andreas, Bobby bahkan bisa mendengar beberapa karyawan yang bekerja di sana, mereka sedang membicarakan Alice yang notabene adalah menantu keluarga Hernandez,mereka tak menyangka bahwa Alice akan mengajukan gugatan perceraian kepada sang suami yang baru seumur jagung. Bobby terlihat geram,dia tak menyangka Alice melakukan semuanya tanpa diskusi terlebih dahulu dengan nya, ketika Bobby berinisiatif mendatangi Alice, tiba-tiba.....
Bruuuuuk....
Suara Alice jatuh pingsan di depan matanya, sedari tadi Alice nampak menguatkan tubuhnya yang memang dia gembur beberapa hari ini untuk menyelesaikan pekerjaan nya, Bobby nampak berlari kecil untuk melihat sang istri, dan dengan segera dia membawa Alice ke rumah sakit,di ikuti Andreas yang juga terlihat panik.
bersambung
__ADS_1