
"Oh....... Bee.......aah!!"
"Kenapa hemmmm?"
kata Arthur yang terus menghentakkan pinggulnya dengan berirama, bahkan ketika Arthur menghentakkan dengan tempo yang cepat, Nay menjerit keenakan.Nayla sudah dalam posisi yang paling di sukai Arthur, menungging di atas ranjang nya dengan posisi Arthur berada di atasnya, Arthur terus menggempur sang istri yang dengan beraninya membohongi dirinya, hingga dia harus tidur di apartemen Max.Walaupun Arthur sudah biasa menginap di sana, karena di luar pekerjaan dan hanya berdua saja, Max berubah menjadi temannya sendiri tanpa ada embel-embel kata Tuan jika sedang berbicara berdua, layaknya seorang sahabat,karena sebenarnya itulah hubungan mereka berdua.Namun kali ini berbeda,dia sudah terbiasa nyaman dengan tubuh sang istri, ketika tiba-tiba Nayla menghukum nya untuk tidur di luar apartemen mereka,jelas Arthur merasa tidak nyaman.
Melihat sang istri mendapatkan pelepasan yang entah ke berapa kali, Arthur mengubah posisi mereka, Nay yang masih terlihat lemas dan mengatur nafasnya, pasrah ketika sekarang sudah dalam posisi duduk di atas tubuh suaminya.
"Bergeraklah Baby...... saat nya aku yang harus kau manjakan!!" ucap Arthur dengan seringai licik nya.
Nayla mulai bergerak diatas tubuh suaminya, mengerakkan pinggulnya yang sebenarnya sudah mau copot saja rasanya, bayangkan saja, hukuman Nayla di mulai pulangnya mereka di jam makan siang dan sekarang Nayla bahkan melewatkan makan malamnya.
"Lebih cepat Baby.......Ohh God....." bisik Arthur yang sekarang sudah dalam posisi duduk, dan mereka saling berhadapan.
Nayla terlihat kelelahan dan dengan sigap nya, Arthur membalikkan kembali tubuh sang istri.Nayla benar-benar tak bisa melawan Arthur, Arthur menautkan kedua tangan mereka dan menyerang Nayla yang berada di bawah kungkungan nya.Dan beberapa saat setelah nya.
"Ooohhh.....ini sangat hebat sayang......!!" Arthur nampak sampai pada puncak kenikmatan nya.Dia ambruk di atas tubuh mungil istri nya dengan siku sebagai sanggahan tubuh nya. Arthur memandang wajah lelah Nayla,.dia masih betah pada posisinya, bahkan dia belum mengeluarkan Rudal tempur miliknya dari lubang tempur sang istri.
Arthur membelai rambut yang nampak berserakan di wajah sang istri.
"Masih ada niatan mau menjahili suami mu? hemmmmm..." tanya Arthur, sambil terus membelai rambut Nayla, dan Nay hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Mau satu pertempuran lagi?" goda Arthur, karena dia masih belum mencabut milik nya dari **** * sang istri.
"Bee......" rengek manja Nayla, ekspresi menyerah yang terlihat di wajah cantik Nayla.
"Hahahahahaha......." tawa Arthur menggema di kamar mereka.
__ADS_1
"Aku akan mengampuni mu kali ini Nona kecil! tapi tidak untuk besok!" lanjut Arthur, mata Nayla yang semula tertutup seketika terbuka, dan Arthur segera berguling di samping sang istri, menarik Nayla masuk ke dalam dekapan nya.
"Ma-maksud nya Bee?" tanya Nayla gugup, dia sungguh berharap bahwa dia tak akan menjalani hukumannya lagi, rasanya pinggang Nay sudah seperti mau copot.
"Kita akan mencoba pertempuran di sofa ruang tamu sayang....." kata Arthur dengan santainya.
"Apa???" kaget Nayla seketika mendongak melihat wajah Arthur.
"Setelah nya,hari berikutnya kita akan mencoba di dapur dan di meja makan!" lanjut Arthur tanpa rasa bersalah.
"Bee..." rengek Nay, berharap Arthur tak akan benar-benar melakukan nya.
"Kamu gak serius kan?" tanya Nay sambil memainkan tangannya di dada polos sang suami.
"Aku serius!! aku tidak pernah bercanda!" kata Arthur dengan suara tegas nya.
"Kita akan mencoba di kamar mandi Nona kecil" lanjut Arthur.
"Bee....... Ampun Bee ampun!"
Di pagi harinya, Nayla nampak masih bergelut dengan selimut nya, semalam Arthur memang melepaskan nya karena Nay terlihat kelelahan, dan di jam 11 malam, Arthur akhirnya membuatkan makan malam singkat untuk Nay dan dia sengaja makan di atas ranjang.Nay beralasan tidak kuat jika harus makan apalagi jalan dan makan di meja makan, rasa kantuknya menyerang tiba-tiba.Namun Arthur yang tak pernah bisa di bantah, akhirnya memaksa nya makan malam, Nayla yang setengah mengantuk akhirnya membuka mulutnya ketika Arthur menyodorkan makanan di depan mulut Nayla.
"Baby.......bangun...aku harus ke kantor...." kata Arthur dengan tubuh yang masih di peluk erat Nay.Bukannya bangun, Nayla malah menenggelamkan wajahnya ke dada Arthur.
"Ayo bangun.....aku bukan tipe Bos yang suka terlambat masuk kantor Baby!" ucap Arthur dengan menangkup kedua tangannya di wajah sang istri.
"Aku tidak akan ke Butik" kata Nay.
__ADS_1
"Baiklah... biarkan aku bangun! aku yakin Max sudah menunggu di depan pintu apartemen" kata Arthur.
"Oh Tuhan!! iya......si kaku itu akan semakin kaku kalau berdiri terus di sana" kata Nay di akhiri dengan suara cekikikan dari mulut nya, dia sudah membayangkan bagaimana Max berdiri dengan muka datarnya.
Dan benar saja, Max sudah mengerutu dan mengumpat Bos sekaligus sahabat nya itu, Sebenarnya saat jam kerja dia benar-benar sudah profesional, namun saat ini keprofesionalan nya patut di pertanyakan! Karena dia berulang kali mengumpat Arthur yang tak kunjung keluar, sedangkan sebuah meeting penting segera akan di mulai.Sejak punya istri, Arthur baru kali ini terlambat,dan itu membuat Max berpikir apa yang sedang terjadi di dalam apartemen tersebut, andaikan saja dia masih di beri akses masuk seperti dulu,ingin rasanya dia masuk dan menyeret bos nya itu segera.
ceklek.......suara pintu apartemen terbuka dan menampakkan wajah datar Arthur.Seketika Max memandang ke arah Arthur, jelas sekali tatapan mata tajam layaknya seorang sahabat yang kesal pada sahabat nya.
"Jangan protes dan mengumpat ku Max!! kau belum tau bagaimana repot nya punya istri!" alasan Arthur.
"Kau pikir aku tidak tau!! kalau kau lah yang merepotkan bukan Nona muda!!" umpat Max hanya dalam hati.
"Sudah aku bilang jangan mengumpat ku Max!!" kata Arthur seakan tau apa isi kepala asisten nya itu.
"Kita akan meeting dengan siapa?" lanjut Arthur bertanya.
"Perusahaan Patterson dan perusahaan Adiguna Tuan" jawab Max sambil mereka melangkah menuju lift yang ada di lantai apartemen mereka.
"Apa Ceo mereka yang hadir?"
tanya Arthur, dan tentu saja Max paham siapa yang di tanyakan, Karena dua perusahaan itu benar-benar memaksakan kehendak mereka dengan mengirimkan anak gadis mereka masing-masing untuk mendekatinya, biarpun Arthur sudah di kabarkan menikah.
"Menurut kabar yang saya dengar, Nona Balqis dan Nona Zelin yang akan datang Tuan" jawab Max.
Arthur nampak diam menatap Max, dan seringai licik jelas terpampang di wajah tampannya.
"Oh Tuhan apa lagi rencana anda Tuan!!" batin Max merasa was-was bila dia akan terlibat dalam rencana Arthur, Karena jujur saja, Max paling malas dengan urusan wanita.
__ADS_1
bersambung