Arthur (Sang Penguasa)

Arthur (Sang Penguasa)
Kesialaan untuk Max dan Bobby


__ADS_3

Syahnaz memilih beberapa jenis bunga untuk di bawa ke toko bunga milik nya. Dan Max hanya memperhatikan dari kejauhan, Arthur mengirimkan pesan untuk Max dan meminta Max untuk berfoto bareng dengan Syahnaz jika mereka sudah sampai di pedesaan, dengan langkah-langkah yang kurang bersemangat, akhirnya Max mendekati Syahnaz yang sedang memilih jenis bunga, Max meminta lelaki paruh baya tersebut untuk memotret dia dan juga Syahnaz, Max meminta Syahnaz untuk tersenyum, sedang kan dirinya sendiri,tetap cuek dengan gaya datarnya yang tetap mendominasi keadaan.


"Apa kalian akan berfoto sekaku itu?" kata Robert, lelaki paruh baya tersebut.


"Nanaz kau seperti berfoto dengan pohon itu!"


lanjutnya sambil menunjuk pada sebuah pohon yang masih berdiri kokoh,namun sudah terlihat mati. Spontan mata Max dan Syahnaz melihat apa yang di tunjukkan Robert, Robert yang tau bahwa Syahnaz menyukai Max, seakan memberi kesempatan pada Syahnaz untuk berdekatan dengan Max, Syahnaz nampak tersipu malu sekaligus merasa tak enak dengan Max, Robert sama saja menyamakan Max dengan pohon mati tersebut, dan Syahnaz bisa melihat lewat lirikan matanya,bahwa Max sangat tidak suka dengan apa yang di katakan Robert.Untuk mempersingkat waktu, Max akhirnya menarik bahu Syahnaz dan menempelkannya ke tubuhnya.


cekrek!


Ketika mendengar suara kamera yang memotret mereka selesai, Max langsung menjauhkan dirinya dari Syahnaz, dan berlalu menuju Robert. Syahnaz kembali memilih bunga yang dia inginkan, di perkarangan rumah Robert memang hanya ada sedikit berbagai macam bunga, karena bunga yang ada di sana hanya di gunakan sebagai contoh, dan Robert punya sebuah taman bunga dengan beberapa karyawan yang merawatnya.


"Bagaimana kalau kalian minum teh dulu, hari semakin sore, sebaiknya istirahat dulu" tawar Robert.


Syahnaz memandang ke arah Max, seakan meminta persetujuan dari Max, dan Max tau betul apa arti pandangan mata Syahnaz.


"Kita akan segera pulang, aku tidak ingin kemalaman di jalan!" kata Max, karena memang mereka harus melewati sebuah hutan kecil tanpa penerangan jalan saat memasuki pedesaan tersebut.


"Lain kali aku akan menginap di sini kalau Bi Mery sudah kembali ke sini" kata Syahnaz.

__ADS_1


Mery adalah istri dari Robert, dia sedang berkunjung ke rumah anak mereka, dan saat ini dia belum kembali ke rumah.


"Baiklah..... hati-hati di jalan"


Syahnaz akhirnya meninggalkan tempat Robert setelah melakukan pembayaran, dan keesokan harinya, bunga-bunga tersebut akan di kirim oleh karyawan Robert.Syahnaz membawa sebuket bunga dengan berbagai jenis dan warna.Syahnaz dan Max sedang dalam perjalanan menuju kota.


Disisi lain,Alice sedang berbenah di apartemen Bobby, Alice nampak berdiri di depan sebuah kamar yang akan di jadikan kamarnya selama menikah dengan Bobby. Bobby sudah menyediakan kamar tersebut untuk Alice, kamar yang biasanya dia gunakan sebagai gudang, kini dia memerintahkan anak buahnya untuk merombak total kamar tersebut,dan jadilah kamar yang layak untuk Alice.Alice tak begitu mempedulikan sikap Bobby, dia tetap merasa hidup sendiri walaupun nantinya akan sering bertemu dengan Bobby, Karena bagaimanapun mereka berada dalam apartemen yang sama.


"Letakkan itu disana" perintah nya pada seseorang yang sengaja dia bayar untuk membantu nya ke apartemen.


"Aku tak membutuhkan sofa itu, jadi bawa keluar saja"


"Nona....bagaimana dengan meja rias nya? apa mau di ganti?" tanya seseorang tersebut.


"Hemmm....itu terlalu mewah, aku tidak suka!" kata Alice.


setelah membenahi kamar nya, sekarang kamar tersebut nampak terlihat sangat sederhana.Dia memang menyukai kesederhanaan itu,hanya ada sebuah ranjang yang berukuran tak begitu besar,serta sebuah lemari pakaian dan juga meja rias yang sengaja semuanya dia bawa dari luar, Alice meminta orang-orang suruhan Bobby untuk membawa kembali perabotan mewah yang diperintahkan Bobby untuk menghias kamar Alice, Alice memilih perabotannya sendiri yang terbilang cukup sederhana.


Setelah selesai berbenah, Alice nampak menyusun beberapa bahan makanan di dalam kulkas, kulkas tersebut nampak kosong,itu menandakan bahwa Bobby tak pernah memasak sendiri.Ketika Alice menyiapkan bahan-bahan untuk membuat makan malamnya, pintu apartemen nampak terbuka, Bobby masuk dengan tenang,bahkan seakan dia tak melihat Alice di dapur miliknya.

__ADS_1


"Mau sekalian aku buatkan makan malam?" tanya Alice menghentikan langkah Bobby.


"Jangan hiraukan aku! sesuai kesepakatan! kita tak saling menganggu walaupun kita satu apartemen!" kata Bobby dengan dingin dan berlalu begitu saja tanpa menghiraukan Alice yang terdiam di tempatnya.


Alice tersenyum masam, dia merasa sendiri saat ini, Lelaki yang di harapkan untuk bisa menjadi teman berbagi cerita dengan nya, nyatanya begitu membencinya, Sang Mama yang sedang bergembira karena pernikahan Alice dan Bobby akhirnya terlaksana,kini sedang bertemu dengan teman-teman sosialita nya, berbagi cerita dan lebih tepatnya membanggakan dirinya dan anaknya yang bisa menikahi seorang lelaki dari keluarga Hernandez.Entah mengapa selera makannya tiba-tiba hilang, Alice memasukkan kembali bahan makanan nya ke dalam kulkas, dia masuk ke dalam kamarnya kembali dan mengambil sebuah Roti yang dia beli tadi serta secangkir teh panas di tangannya.


Bobby yang sedang membersihkan diri, nampak berlama-lama menguyur tubuh nya di bawah shower, pikiran nya juga tak tenang, dia yang selama ini selalu terkenal dengan gaya slengean dan cerianya, seketika harus bersikap dingin di dalam apartemen nya. Apa Bobby suka?? jawabannya jelas tidak! dia merasa tak nyaman dan tak suka di situasi seperti ini, bagaimana pun juga Alice dulu salah satu teman baiknya, dan sekarang, tiba-tiba saja kebencian tumbuh di hati Bobby, walaupun dia tau itu bukanlah sepenuhnya kesalahan Alice, namun sikap patuh Alice pada Mama nya, membuat Bobby membencinya.


"Aaarghhh!!!" Teriak Bobby di bawa guyuran air dari shower nya.


Bobby segera menyudahi acara mandi nya,dia nampak mengeringkan rambut nya dan keluar dari kamarnya, dia sudah terbiasa duduk nongkrong dengan kopi di tangannya di ruang tamu apartemen, begitu sampai di dapur, Bobby melihat dapur nampak rapi dan bahkan tak terlihat kalau abis di pakai.


"Apa dia tidak jadi masak?" gumam Bobby, sesaat kemudian Bobby membuat kopinya dan bersantai di ruang tamu apartemen.Beberapa jam berlalu, Bobby akhirnya mengakhiri pekerjaan dan acara santai nya, dia sekarang harus menuntaskan hasratnya di kamar mandi karena ulah salah satu teman nya yang mengirim video yang menggugah hasratnya,dan tanpa sengaja dia melihat nya, normal baginya jika dia sudah terangsang dengan adegan tersebut.


Gleg!!!


Bobby menahan salivanya sendiri dengan susah payah, ketika hendak beranjak dari tempatnya, Alice dengan muka mengantuk nya, tiba-tiba melintas dengan gelas kosong ke arah dapur,Dan hal yang membuat Bobby begitu tersiksa adalah baju tidur Alice yang hanya mengenakan piyama berbahan satin tipis dengan tali kecil, apalagi Alice tidak memakai jubah yang sepaket dengan piyama seksy tersebut,dan jangan lupakan puncak dadanya yang tercetak jelas di piyama berwarna putih tulang tersebut.


"Sial!!.....Sial...Sial!!!!" umpat Bobby berulang kali, dia melesat masuk ke dalam kamar nya pelan, karena seperti nya Alice tak menyadari adanya Bobby yang memperhatikan dirinya.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2