Arthur (Sang Penguasa)

Arthur (Sang Penguasa)
Kecemburuan Arthur!


__ADS_3

Hari berlalu begitu saja, kabar kehamilan Nyonya muda Hernandez, yaitu Nayla tersebar luas,sampai ke relasi kerja Arthur,dan tentu saja sampai ke telinga Balqis, wanita yang sangat berharap kehancuran rumah tangga Arthur dan juga Nayla.


"Aaarghhh......." Teriaknya sambil menghancurkan barang-barang yang ada di ruang kerjanya,di rumah besar milik keluarga Patterson.


"Gak!!! aku gak mau Arthur punya anak dari wanita rendahan itu!!!!" teriaknya lagi.


Balqis layak nya wanita kerasukan setan, sepanjang hari ini dia mengurung diri di ruang kerjanya, sang Papa bahkan sudah berulang kali menelpon pelayan rumah untuk mengetuk pintu ruangan tersebut.Papanya tak mungkin meninggalkan kantor ketika Balqis dalam keadaan tak bisa mengurus urusan kantor.Sang papa tau bahwa Balqis sedang mengamuk di ruangan tersebut,namun sekali lagi, dia tak bisa berbuat apa-apa, karena sedari dulu, sejak kecelakaan yang hampir merengut nyawa sang anak, dia selalu menuruti apa yang di inginkan sang anak. tak banyak yang tahu bahkan bisa dipastikan hanya pelayan tertentu dan juga sang Papa, serta asistennya yang tahu bagaimana watak asli Balqis, setelah kecelakaan yang merenggut sebagian wajah aslinya, membuat Balqis menjadi gadis yang temperamental, Bahkan dia perlu mengkonsumsi obat untuk mengontrol emosinya, namun jika ada sesuatu yang sudah menyulut emosinya,maka akan membuat dia seperti seorang wanita yang kesetanan, persis seperti saat ini, dia merasa peluangnya untuk mendapatkan kan Arthur sedikit menipis karena kehamilan Nayla.


Meninggalkan Balqis yang sedang menghancurkan ruangannya, Praz akhirnya di perbolehkan pulang setelah sekian lama di rumah sakit, bahkan Morgan sendiri yang kadang tidur di rumah sakit mengganti kan Ariel, karena tugas Ariel sebagai bodyguard Nayla, membuat dia sedikit kesulitan meluangkan waktu untuk Praz.


"Kita tinggal di sini sekarang Praz" kata Ariel.


"Kamu?" tanya Praz memastikan apakah benar sang kekasih akan tinggal bersamanya.

__ADS_1


"Kita!" saut Ariel


"Kita?" tanya Praz meyakinkan lagi, bahkan dia sudah berhenti tepat di depan sang kekasih.Dan anggukan kepala Ariel membuat Praz langsung menarik pinggang kekasih nya dan menempelkan tubuh mereka berdua.Praz merasa sedang, akhirnya dia dan Ariel tak perlu lagi menyembunyikan hubungan mereka, Arthur pasti tau saat ini,karena Ariel dan dia di ijinkan untuk tinggal bersama.


"Praz.... lepaskan!! kau baru sembuh!" ucap Ariel sedikit meronta, dia tau betul bagaimana sifat Praz, dia tak bisa menahan hasrat nya ketika berdekatan dengan Ariel.


"Ohh Shi-t!!! Baby....dia On!" ucap Praz sambil meletakkan tangannya Ariel di tubuh bagian bawahnya.Ariel segera menarik tangan nya dan mendorong dada Praz sedikit membuat jarak.


"Jangan macam-macam!! cepat masuk kamar mu, aku akan buat makan malam untuk kita!" kata Ariel meninggalkan Praz setelah berhasil keluar dari pelukan Praz. Praz segera masuk ke dalam kamar nya, mengambil laptop dan ponsel nya, segera menghubungi seseorang yang bisa dia minta'i pertolongan mengenai balasan nya pada orang yang telah berusaha membuat atasan nya celaka,namun nyatanya salah sasaran,dan dirinya sendiri lah yang celaka.Dan sekarang Praz sedang mencari informasi yang terkait dengan hal itu, setelah menemukan sesuatu yang cukup membuat keningnya mengerut, Praz pada akhirnya tersenyum juga, dan dengan segera memberikan informasi tersebut pada Max. Karena Praz yakin sekali, Max lebih banyak mempunyai informasi nya daripada dirinya.


"Aku Daddy nya!! kenapa apa-apa harus Max!!" begitu lah ucapan Arthur satu jam yang lalu, saat Nayla merengek, meminta masuk ke apartemen milik Max.


Namun entah mengapa Arthur menuruti nya, dengan gaya datar dan cuek seperti biasa nya, Arthur duduk di sofa di ruang santai,yang terhubung dengan meja makan dan dapur di apartemen Max.Arthur enggan bergabung dengan mereka, karena sama saja, itu akan membakar hatinya sendiri. Sejak kehamilan sang istri, mood Arthur benar-benar kacau, sering cemburu buta, sering tak suka jika Nayla meminta ijin keluar rumah, sering merasa jengkel sendiri,karena secara tiba-tiba malas ke kantor kalau Nayla tak mau menemani.Bahkan sudah satu bulan, sejak Nayla di nyatanya hamil, dia melarang Nayla bekerja di Butik, dia hanya boleh melakukan pekerjaan nya di rumah.

__ADS_1


"Bee.....apa kau tidak mau ikut bergabung?" teriak Nayla dari meja makan.


"Hemmmmm" jawab Arthur sambil menatap layar televisi di depannya.


"Ar.....aku bikinkan steak untuk mu" ucap Max, hal itu ternyata berhasil membuat Arthur berdiri, dan melangkah menuju ke meja makan.


"Jangan membuat ku geli Ar!!" seru Max penuh penekanan melihat wajah cemburu sahabat sekaligus atasan nya itu.Dan Arthur tidak peduli bahkan seakan menulikan telinganya akan ucapan Max.


"Makanan kalian kembar?? dan aku beda sendiri???" ucap Arthur tak suka, ketika melihat di depan Nayla dan Max ada sepiring spaghetti bolognese yang sama, sedangkan di hadapannya, Max menyodorkan sepiring steak daging kesukaan Arthur.


Max dan Nayla seketika saling pandang, kemudian Nayla menatap Arthur dengan tajam, sedangkan Max hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Arthur yang sedang cemburu semakin menjadi.


"Aku benar-benar bisa ikutan gila!?" Batin Max,sambil memasukkan suapan makanan nya ke mulut,tanpa mempedulikan protes dari sang penguasa itu.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2