
Syahnaz benar-benar membuktikan perkataan nya beberapa hari yang lalu, bahwasanya mereka sepakat untuk tidak berlibur untuk merayakan bulan madu mereka. Syahnaz dan Max lebih memilih berdiam diri di rumah setelah seharian bekerja di luar rumah.Arthur pun tak membiarkan Max bekerja sampai malam,dia memerintahkan Max untuk pulang sore setiap harinya.
"Apa kamu benar-benar tidak berencana bulan madu?" Tanya Arthur tiba-tiba.
"Tidak" jawab singkat Max.
"Tidak berencana untuk punya anak?" tanya Arthur lagi, hingga membuat Max mengerucutkan dahinya karena heran dengan cerewet nya Arthur hari ini.
"Aku bisa membuat anak di kamar ku Ar, tidak perlu berlibur" jawab Max tanpa menatap ke arah Arthur lagi karena sibuk dengan gadget di tangannya.
"Seperti nya aku yang butuh berlibur dengan istri ku" ucap Arthur.
"Aku merasa kasihan dengan adikku itu" saut Max.
"Hei apa maksudnya Max?"
"Kau pasti tak pernah melepaskan dia kalau malam hari!!" tebak Max.
__ADS_1
"Itu kewajiban dia!" kata Arthur tanpa dosa,Max hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.Percakapan mereka berhenti ketika ada seseorang mengetuk ruangan mereka,dan mengatakan bahwa rapat akan dimulai beberapa saat lagi.Di tempat yang berbeda ,Syahnaz sedang asyik bercengkrama dengan sang Mama di dapur, Syahnaz meminta Abigail untuk mengajarinya memasak beberapa jenis masakan kesukaan Max . Syahnaz memutuskan untuk belajar lebih banyak lagi masakan untuk Max.
"Apa Max akan menyukainya ma?" tanya Syahnaz setelah satu masakan sudah tersaji di meja dapur.
"Mama yakin,ini juga sangat enak " jawab Abigail sambil mengicipi satu suapan masakan tersebut.
"Oya ....apa kamu berencana untuk segera hamil?" tanya Abigail.
"Iya ma, aku dan Max tidak akan menundanya, apalagi umur kita berdua juga sudah cukup untuk memiliki momongan " jawab Syahnaz.
"Doain aja ya ma"
Di negara yang berbeda,nampak Seorang gadis sedang berdiri di dekat jendela kaca yang cukup besar, dia menatap ke arah luar yang memperlihatkan pemandangan gedung-gedung menjulang di luar sana,Gadis itu meremas dengan sangat kuat sebuah kertas yang berada di tangan kanannya.Terlihat cukup jelas raut wajah kesalnya, Sesekali dia meneguk minuman di tangan kirinya,entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini, hingga sebuah suara membuyarkan lamunannya.
"Permisi nona,ada beberapa berkas yang harus nona tanda tangan ni" kata orang tersebut yang tak lain adalah sekertaris nya.
__ADS_1
"Hemm" saut gadis tersebut sambil mengambil berkas tersebut dan mulai membaca serta menandatangani nya.
"Nona apakah rencana nona kita laksanakan malam ini juga?" tanya sekretaris itu pada sang gadis setelah menerima berkas-berkas nya.
"Iya, Apa kau sudah menyiapkan tempat tinggal untuk ku di sana nanti ?'" tanya gadis itu lagi.
"sudah nona,bahkan nona akan tinggal di satu gedung apartemen yang sama dengannya " jawab sang sekretaris
"Bagus,dan jangan sampai Papa ku curiga dengan kepergian ku ke sana!"
"Baik nona " kemudian sang sekertaris pun pamit undur diri.
Setelah kepergian sang sekertaris,gadis itu melanjutkan kegiatan untuk menikmati pemandangan di depannya.Sebuah dasi berwarna merah tua berada di tangan nya.
"Aku akan menemuimu..,aku akan menampakkan siapa aku padamu!" Kata sang gadis sambil memandang dasi merah di tangannya.
Bersambung
__ADS_1