
Sejak satu bulan kepulangan nya dari rumah sakit, Alice lebih banyak menghabiskan waktu di kamarnya, apalagi dia sudah menjual Butik miliknya,dengan catatan semua karyawannya tak ada satupun yang di pecat,dan pembeli nya setuju, Alice juga melarang Bobby untuk memberitahu mama nya atau pun mertuanya, Alice merasa masih bingung dengan keputusan yang tengah dia pertimbangan kan saat ini. Melanjutkan pernikahan nya demi sang anak, atau memilih untuk mengejar kebahagiaan yang selama ini dia impikan. Nayla tak lepas pengawasan terhadap Alice,setiap hari bahkan bisa sehari 3 sampai 5 kali Nayla menelpon nya.Dan setelah beberapa saat lalu, Nayla baru saja memastikan Alice baik-baik saja, kini Nayla sedang di suapi oleh Arthur, hari ini Nayla menyusahkan Arthur dengan menu nasi goreng komplit!! benar-benar komplit, dengan irisan smoke beef, di campur dengan daging domba cincang,dan jangan lupakan irisan kulit ayam yang sudah di goreng terlebih dahulu serta dua telor mata sapi sebagai hiasan nya.
"Anakmu dua ya Bee....jadi jangan protes!!" ucap Nayla ketus ketika Arthur menengur nya, Kenapa harus dua telor karena seperti sebelumnya, Arthur lah yang sudah pasti akan memakannya. ya... Arthur menilai kalau dia semakin kalah dengan sang istri. Arthur yang tak biasa di perintah, kadang kala merasa geram dengan sang istri.
"Tapi kamu selalu melewatkan makan telurmu Baby..!" ucap Arthur dengan gaya datarnya.
"Udah Bee....berisik!!" saut Nayla, bahkan selera makannya hampir saja hilang, namun berbagai bujukan di layangkan oleh Arthur,dan pada akhirnya Nayla menghabiskan makanan nya,dan benar saja, tersisa dia telor mata sapi yang harus di habiskan oleh Arthur.
Dua orang yang sedang berdebat kecil itu, benar-benar tak tau tempat, di sana bahkan ada Max yang harus menyaksikan keduanya saling berdebat di iringi tingkah mereka yang kadang terlewat mesra.Max terlihat fokus dengan layar Laptop nya, ada beberapa pekerjaan yang seharusnya di selesaikan nya di apartemen nyamannya, namun entah mengapa,sejak hamil Nayla lebih sering pergi ke apartemen Max.Dan hari ini sudah sejak sore, si ibu hamil itu,sudah gencar menerornya dan memerintahkan dirinya pulang membawa Arthur.
"Bee...... bagaimana kabar Echa dan Morgan? apa mereka tidak di ganggu lagi?" tanya Nayla, dia tau bahwa Arthur tau tentang segala nya.
"Sementara ini mereka berhenti,..sudah jangan pikirkan sesuatu yang tidak harus kamu pikirkan Baby" ucap Arthur.
"Aku hanya khawatir dengan Echa" kata Nay.
"anak buah Max sudah menjaganya" kata Arthur
"Ayo kita pulang, aku mau menjenguk anak-anakku!" lanjutnya.
"Bee!!...…" Nay merasa malu ketika Arthur dengan vulgar nya mengatakan keinginan nya di depan Max.
"Pulanglah kalian!! kalian menganggu istirahat ku!! aku harus ke kantor besok pagi....bos ku sangat galak!!" saut Max yang sedari tadi hanya menyimak perbincangan mereka.Arthur nampak menatap tajam Max,dan Max seperti biasa hanya akan diam saja.Arthur sudah membawa sang istri masuk ke apartemen nya sendiri,dia sungguh tak sabar ingin mengambil jatahnya malam ini, setelah sekian lama dia berpuasa.
__ADS_1
##############
"Apa kau jadi pindah Al?" tanya Diana, temannya tersebut terlalu lama mendapatkan kabar dari Alice.
"Iya...aku jadi pindah! hari ini bolehkah aku menginap di rumah mu?" tanya Alice, tekad nya sudah bulat, daripada melahirkan anaknya dan Bobby jelas akan mengambil nya, bukankah lebih baik pergi bersama bayinya dan hidup tenang.
"Tentu saja! jam berapa? biar aku jemput kamu" kata Diana.
setelah menutup panggilan teleponnya dengan Diana, akhirnya Alice bersiap-siap untuk segera meninggalkan apartemen Bobby. Alice sudah mengatur rencana dengan baik,namun dia harus membawa anak dalam kandungan nya, dia tidak mau melahirkan anak dan menyerahkan kepada Bobby,dia ingin merawat anaknya sendiri di pedesaan di mana dia memesan rumah untuk dirinya sendiri.
ceklek..... pintu apartemen terbuka.
"Mau kemana kamu?" tanya Bobby yang kebetulan baru saja sampai dan berada di depan pintu apartemen.
"Aku tanya...mau kemana kamu?" tanya Bobby sedikit mendesak.
"Aku mau kita pisah Bob, dan aku harus pergi...!" kata Alice yang terus berusaha untuk keluar dari apartemen tersebut.
"sudah kubilang Alice, tidak ada perceraian di antara kita sampai anaknya lahir kamu ngerti??!!" kata Bobby menahan amarahnya.
"kita akan bercerai setelah anak ini lahir? untuk apa?kalau kau ingin membunuh ku, bunuh aku sekarang juga!! jangan menunggu anak ini lahir, karena ketika anak ini lahir dan kamu ngambilnya, sama saja dengan membunuh ku Bob!! jadi bunuh aku sekarang saja!!!aku sudah tidak sanggup lagi!!aku benci kamu Bob!!kau selalu mementingkan diri sendiri dan juga keluarga mu!! lalu bagaimana dengan aku!!!!" teriak Alice kali ini emosinya sudah tak bisa dia tahan lagi.
Bobby hanya diam saja melihat perubahan emosi Alice, akhir-akhir ini, Alice tak seperti dulu lagi,wanita anggun yang penuh kelembutan dan juga senyuman itu sudah berubah menjadi wanita yang penuh emosional, Alice terkadang menangis sendiri dalam kamar atau akan sering marah-marah bila memang ada sesuatu yang tak enak menurutnya, Bobby hanya membiarkan saja,dia membiarkan Alice melakukan apapun yang dia suka, tapi kali ini, Bobby bener-bener merasa bingung dengan perubahan sikap Alice.
__ADS_1
"Alice ...aku....."
bruuuuuk....
Belum sempat Bobby menyelesaikan kata-katanya, Alice tiba-tiba saja pingsan, Untung saja Bobby dengan sigap menangkap tubuh Alice sehingga tak sampai jatuh ke lantai, melihat wanita itu begitu nampak pucat, Bobby terlihat sedikit panik,dia mengangkat Alice, lalu membawanya masuk ke dalam kamarnya.
"Al... please jangan begini!" ucap Bobby ketika mendapati Alice tak kunjung bangun. Akhirnya dia menelpon assisten.
"Hallo...... siapkan mobil!! sekarang!!?"
akhirnya Bobby membawa alice ke rumah sakit,dia tak mau mengambil resiko bila Alice kenapa-napa.Entah kenapa hatinya merasa sangat takut bila terjadi sesuatu pada Alice dan juga janinnya.
"Suami ibu Alice?" panggil dokter yang menangani Alice.
"Ya saya...." saut Bobby.
"Kita harus bicara tuan...ini sangat serius!" kata dokter.
Bobby merasa sangat kaget, dengan penjelasan dokter setelah mereka duduk di ruang dokter tersebut.
"Lalu aku harus bagaimana Dok?" ucap Bobby lirih sambil tertunduk.
bersambung
__ADS_1