
Bobby nampak duduk terdiam di depan ruang UGD rumah sakit, Banyak sekali pertanyaan yang ada di otak Bobby, dia benar-benar tak menyangka,bahwa apa yang di dengar nya beberapa Minggu yang lalu, benar-benar di lakukan oleh Alice, Alice sudah mempersiapkan segala nya, dan bahkan jika hari ini Bobby tidak bertemu dengan nya di kantor pengacara, mungkin Bobby akan lebih terkejut lagi,ketika surat dari pengadilan sampai ke rumah nya. Andreas nampak memperhatikan Bobby yang tampak melamun, Andreas berpikir,siapa lelaki yang tiba-tiba membopong Alice ketika Alice pingsan tadi, rasa penasaran nya membawa dia berjalan dan duduk di dekat Bobby.
"Anda siapa nya Alice?" tanya Andreas.
Bobby menoleh ketika mendengar seseorang bertanya padanya, dia nampak menatap lekat ke arah Andreas sebelum pada akhirnya Bobby balik bertanya pada lelaki di sebelahnya itu.
"Apa anda pengacaranya?" tanya Bobby.
"Saya suaminya" lanjut Bobby ketika tak mendapatkan jawaban dari Andreas.
Andreas nampak tersenyum, dia tak menyangka akan sangat kebetulan sekalian bertemu dengan suami Alice, klien sekaligus teman kuliah nya dulu.
"Mungkin anda lupa ...tapi kita satu angkatan waktu kuliah, saya.... Andreas....teman Alice juga, dan iya....saya pengacara nya, dia mengajukan gugatan cerai pada suaminya" kata Andreas sambil mengangkat tangan nya hendak menyalami tangan Bobby. Bobby awalnya diam, namun akhirnya menyambut tangan Andreas untuk bersalaman.
"Alice bilang dia sudah mendiskusikan tentang gugatan perceraian nya, jadi saya menerimanya" kata Andreas.
"Apa dia memberitahu alasan perceraian nya?" tanya Bobby dengan datarnya, bahkan sekarang dia sudah tak menatap ke arah Andreas sama sekali.hati nya begitu marah mengingat bahwa Alice sama sekali tak melibatkan diri nya dalam gugatan perceraian nya.
"Selingkuh! Alice bilang dia selingkuh!"
##############
Beberapa waktu setelah perbincangan nya dengan Andreas, Bobby nampak terdiam di tempatnya, bahkan ketika Andreas meminta undur diri, Bobby hanya terdiam saja.Kini dia sedang terdiam di sofa ruang rawat Alice, Bobby belum mendapatkan penjelasan dari dokter yang menangani Alice, karena ketika hendak berbicara, tiba-tiba ada beberapa pasien yang datang karena kecelakaan, Dokter tersebut meminta ijin untuk menangani pasien terlebih dahulu, namun dia sudah mengatakan pada Bobby bahwa Alice sudah mendapatkan ruang inapnya,dan setelah selamat menangani pasien, dokter berjanji akan mendatangi ruang rawat Alice dan memberikan penjelasan.
"Kenapa kau sangat keras kepala!" gumam Bobby sambil menatap ke arah Alice yang masih tertidur.
Ceklek........
"Maaf Tuan,membuat Anda menunggu" kata seorang dokter di ikuti dua orang wanita yang berpakaian dokter dan suster.
__ADS_1
"Tidak masalah Dokter" saut Bobby sambil berdiri dari duduknya.
"Bagaimana keadaan nya Dok?" lanjut Bobby.
"Pasien seperti nya tidak sarapan dari pagi, dia juga mengalami dehidrasi, sedikit tekanan membuat kondisinya semakin buruk" Dokter mulai menjelaskan keadaan Alice.
"Jadi tolong di jaga dengan baik keadaan Pasien, apalagi kandungan pasien baru menginjak Minggu ke 4....ini sangat rentan!" lanjut sang dokter.
"A-apa..... kandungan? ma-maksud dokter?" tanya Bobby,dia benar-benar ingin memastikan pendengarnya.
"Ya Tuan..... istri Anda sedang hamil, Dan usia kandungan jalan 4 Minggu"
Bobby terpaku di tempat sambil menatap wajah lelah Alice, dia benar-benar tak tau harus apa dan bagaimana perasaan nya saat ini, Hingga beberapa saat kemudian dokter meninggalkan tempat tersebut,dan sebelum nya dokter merekomendasikan Dokter Alana, sebagai dokter kandungan untuk Alice. Setelah kepergian dokter tersebut, Bobby nampak duduk dengan shock di samping Alice.
"Hamil?" gumam Bobby sambil mengacak rambutnya sendiri.
Alice nampak membuka mata nya pelan, dia menggerakkan tangannya pelan,karena merasakan sesuatu tertancap di kulit nya, Dokter memang meminta suster memasang jarum infus di tangan Alice. melihat Alice terbangun, Bobby nampak berdiri dari kursinya.
"Di mana ini?" tanya Alice.
"Di rumah sakit" jawab Bobby singkat.
Alice berusaha duduk dari berbaring nya,dan Bobby dengan pelan membantu Alice duduk.
"Aku mau pulang" ucap Alice.
"Ya... setelah infus nya habis" saut Bobby.
"Di mana tasku? aku harus menghubungi seseorang" kata Alice.Bobby menyerahkan tas milik Alice, Alice nampak menghubungi seseorang untuk menjemput nya di rumah sakit.Bobby hanya diam menanggapi apa yang dia dengar.
__ADS_1
"Terima kasih Bob, sekarang kau pulang saja, aku sudah meminta karyawan ku untuk menjemput ku" kata Alice
"Kenapa? kau tidak ingin pulang dengan ku? bukannya kita satu arah, bahkan satu apartemen?" ucap Bobby dengan penuh penekanan.
"Aku hanya tak ingin merepotkan mu saja,jadi pulang lah...
.sekali lagi terima kasih"
Bobby hanya diam saja, dia bahkan duduk kembali di kursi nya, tiba-tiba seorang suster masuk dengan senampan makanan di tangan nya.Suster tersebut menyerahkan makanan nya di tangan Bobby, dan dengan tenang Bobby menyuapi Alice, karena di tangan kanan Alice terdapat jarum infus.
"Biar aku makan sendiri Bob" kata Alice,dia memang sangat lapar saat ini.
"Buka mulut mu!!" kata Bobby sambil menatap tajam ke arah Alice.
"Aku bisa sendiri Bob,jangan di suapi!" kata Alice lagi dan tetap menolak suapan tangan Bobby.
"Buka mulut mu!!" sekali lagi Bobby memerintahkan Alice.
"Tapi Bob....."
Praaang....... Bobby melempar gelas yang ada di meja samping ranjang Alice, Alice yang kaget seketika melonjak dari ranjang nya, walaupun masih di posisi yang sama, namun kini Alice nampak sedikit bergetar, apalagi tiba-tiba saja airmata nya meleleh mendapati sikap Bobby yang tak pernah dia lihat.
"Bisa kah kau menuruti aku Alice?!!" bentak Bobby tanpa melihat wajah Alice yang penuh airmata.
"Hemmm...hiks....bisa....hiks.... bisa!"
Mendengar suara Isak tangis Alice, Bobby menatap ke arah Alice,dia tak menyangka bahwa Alice akan menangis hanya karena dia melempar gelasnya, Bobby merasa emosi dengan penolakan Alice, Bobby hanya merasa Alice perlu makan karena ada kehidupan lain yang sedang tumbuh di dalam tubuh nya.Bobby meletakkan piring makanan nya dan mendekati Alice,namun Alice merasa takut Bobby mendekati nya, Bobby yang menyadari itu terdiam sebentar, kemudian menarik tubuh Alice ke dalam dekapan nya.
"Aku tidak bermaksud membentak mu!!.....makanlah,aku tau kamu lapar" ucap Bobby,
__ADS_1
Bobby ingat betul bahwa Dokter memperingatkan agar Alice jangan sampai tertekan dan terlalu banyak pikiran,karena itu akan berpengaruh pada janinnya.Alice yang heran dengan sikap Bobby,hanya diam saja ketika Bobby memeluk nya,bahkan airmata nya semakin deras walaupun dia tak berani mengeluarkan suara tangisnya. Sama halnya dengan Alice, pikiran Bobby sangat kacau saat ini, entah apa yang akan di lakukan Alice ketika dia tau bahwa dia sedang hamil, hal itu pun menjadi pikiran Bobby saat ini, jika mereka bercerai, bagaimana nasib anak tersebut, setidaknya itulah yang dipikirkan Bobby saat ini.
bersambung