
Sejak pertemuan terakhirnya dengan Max, Syahnaz lebih memilih tidak membawa mobilnya ke toko bunga nya, dia begitu berharap akan bertemu dengan Max, baik sengaja ataupun tidak. Gadis itu, entah mengapa terlihat sangat ceria akhir-akhir ini. Dan saat ini, Syahnaz yang sedang merangkai bunga pesenan dari seseorang, tiba-tiba di datangi oleh Papa nya.Walaupun Syahnaz tau bahwa sang Papa hanya datang di saat dia menginginkan sesuatu, setidaknya dia lega, Karena dia masih berguna untuk sang Papa.
"Papa!" pekik Syahnaz senang.
"Jangan seperti anak kecil!" saut Viko.
"Tidak....aku hanya senang Papa datang" ucap Syahnaz, dia mengikuti Papa nya masuk ke dalam ruang kerja miliknya.
"Aku lihat kamu kemarin di antar oleh asisten Arthur, benar?" tanya Viko ketika sudah duduk di sofa di ruangan tersebut.
"Dia tidak sengaja lewat depan toko pa, jalanan ini menuju apartemen nya kan?" saut Syahnaz, entah mengapa, Syahnaz merasa tak rela bila Max di ikut campur kan dalam urusan sang Papa.
"Jangan terlalu dekat dengan nya!" perintah Viko.
__ADS_1
"Iya pa..." ada nada kecewa di sana, Syahnaz merasa semuanya yang di inginkan nya tak pernah terpenuhi dengan baik.Viko meminta Syahnaz untuk tidak terlalu membicarakan dirinya dengan orang lain, terutama dengan Max atau keluarga Hernandez yang lain, karena sedikit banyak, Syahnaz tau bahwa sang Papa masih mempunyai keluarga, namun di dalam keluarga Hernandez, yang mereka tau Viko hidup sebatang kara, tak punya siapapun lagi yang tersisa kecuali Syahnaz.
"Kenapa Mama mu marah kemarin?" tanya Viko pada Syahnaz.
"Aku....tidak menemui anak nya Tuan Serkan sesuai permintaan Mama" ucap Syahnaz menunduk.
Abigail memang paling gencar menjodohkan Syahnaz dengan anak pengusaha-pengusaha yang dia kenal, berharap bahwa anaknya akan mendapatkan seorang yang berkedudukan, se sayang itulah Abigail, namun kadang kala rasa sayang Abigail pada Syahnaz, justru membuat anaknya tersebut tidak nyaman. Viko menatap lekat ke arah Syahnaz, anak dari wanita yang di cintai nya, Namun sayangnya wanita itu hamil dengan kekasih nya,dan di hari pernikahan mereka, pengantin pria mengalami kecelakaan,dan Viko lah yang akhirnya menggantikan nya menikah, Viko bahkan tak peduli wanita yang di cintai nya sudah hamil muda anak kekasihnya.Karena itu, Syahnaz bukanlah anak kandungnya,Namun hanya dia dan sang istri yang tau, semuanya menganggap bahwa Syahnaz adalah buah dari pernikahan Viko dan Mama Syahnaz.
"Jangan buat Mama mu marah Syahnaz!! aku sudah peringat kan bukan!! jaga sikap kamu kalau ingin lebih lama tinggal bersama kami!!" ucap Viko.
Syahnaz menatap lekat punggung lelaki yang di jadikan nya cinta pertama nya, seorang anak gadis yang sangat mencintai dan menyayangi Papa nya, Syahnaz tak tau apa tujuan sang Papa menjadikan nya sebagai penenang Abigail, yang dia tau tugasnya adalah menuruti segala sesuatu yang di minta Abigail, Syahnaz sebenarnya cukup kasihan dengan Abigail, Karena sebenarnya sudah sejak lama,sang Papa menikah lagi dengan wanita yang di cintai nya, bahkan dia sudah mempunyai seorang anak lelaki yang berusia 15 tahun, Namun Syahnaz baru mengetahui nya beberapa bulan yang lalu, lagi-lagi dia tak sengaja. mengetahui keberadaan keluarga baru sang Papa. dan bisa di pastikan oleh Syahnaz tentang keraguan akan kesehatan reproduksi Viko, karena Syahnaz tau cerita tentang Viko dan Abigail yang sama-sama tidak bisa mempunyai anak, ternyata sang Papa memanipulasi data tentang kesehatan nya, entah apa alasannya, Viko tak ingin punya anak dari Abigail.
"Kenapa semua nya begitu rumit!" ucap Syahnaz lirih, ingin rasanya dia menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
Ketika Syahnaz sedang bersedih, tiba-tiba seorang karyawan mengetuk pintu ruangannya dan Syahnaz yang memang tidak melakukan apa-apa selepas kepergian sama papa dengan cepat membuka pintu ruangan tersebut.
"Ada apa Irene?" tanya Syahnaz pada salah satu karyawan kepercayaan nya.
"di luar ada seseorang yang ingin memesan rangkaian bunga nona, dan dia ingin bertemu langsung dengan anda" jawab Irene.
"Baiklah, aku akan bersiap sedikit" ucap Syahnaz,karena memang tatanan riasannya sedikit berantakan karena sempat menangis.
Syahnaz memang menjadikan bunga sebagai penghibur di hidupnya,maka hari-hari nya dia habiskan di toko bunga milik nya, toko bunga hadiah ulang tahun dari sang Mama ketika dia berusia 17 tahun, dan mulai saat itu, Syahnaz yang sangat menyukai bunga, belajar khusus untuk merangkai bunga dan menjalankan bisnisnya sendiri. Syahnaz sedikit berjalan cepat menemui calon pelanggan nya, dan ketika sampai di depan, dia menatap punggung lelaki tersebut, Syahnaz tau betul siapa yang tengah berdiri membelakangi nya saat ini.
"Max" panggil Syahnaz yang sangat yakin bahwa dia adalah Max.
"Hai Syahnaz" Bukan Max yang menyapa,tapi seorang wanita yang hanya menunjukkan kepala nya karena terhalang tubuh besar lelaki yang ada di depannya.
__ADS_1
bersambung