
Syahnaz hanya bisa pasrah dan sesekali mendesah ketika Max dengan lihai mempermainkan nya malam ini, Max benar-benar memperlakukan wanita nya itu dengan lembut, sejengkal demi sejengkal tubuh Syahnaz tidak lupa dia absen. Syahnaz yang baru saja mendapatkan pemanasan dari pergulatan nya dengan Max, tak pernah menduga bahwa Max akan membuat nya lebih melayang kembali.
"Max...." suara lirih Syahnaz memanggil nama nya, membuat Max semakin terbakar. Melihat sang istri yang sudah mulai kewalahan dan kelelahan,Max akhirnya mengakhiri pergulatan mereka.Syahnaz masih mengatur nafas nya yang masih tersengal, namun ketika menyadari Max memandangi wajahnya, seketika Syahnaz menenggelamkan wajahnya di dada Max.Syahnaz benar-benar tak pernah bermimpi akan bersanding dengan lelaki yang bertahun-tahun dia kagumi dan dia cintai.
Syahnaz berjalan dengan perlahan ke arah dapur ketika mendengar suara seseorang di sana, Dia melihat Max yang sedang memasak, perlahan dia memeluk suaminya tersebut dari belakang.
"Kamu sudah bangun?" tanya Max tanpa menghentikan pekerjaan nya.
"Hemmm, aku lapar" saut Syahnaz.
"Duduklah di sana, sebentar lagi selesai" kata Max sambil melepaskan tangan Syahnaz dari perutnya dan mengarahkan Syahnaz ke meja makan yang ada di dapur.
Dengan meninggalkan kecupan manis di pipi yang suami, Syahnaz berjalan sesuai perintah suaminya. Sarapan yang sedikit terlambat dari jam yang seharusnya,membuat Syahnaz makan dengan lahapnya, apalagi semalaman tenaganya terkuras untuk melayani sang suami.
__ADS_1
"Kamu ingin kemana?" tanya Max.
"Bulan madu?" tanya Syahnaz karena tau arah pembicaraannya dengan Max.
"Hemm"
"Tidak....aku hanya ingin di sini saja"
Syahnaz tau betul bagaimana kesibukan sang suami,dia tak ingin hanya menuruti keinginan nya untuk bulan madu, Syahnaz mencoba menikmati saja pernikahan mereka tanpa bulan madu,toh sama saja bahi Syahnaz.Apalagi Syahnaz yang memang baru saja berbaikan kembali dengan sang Mama, memiliki menghabiskan waktu bersama Abigail bila Max kerja.
"Iya, kita hanya perlu libur satu hari lagi, setelah nya lusa kamu boleh kerja, dan aku akan mengambil libur beberapa hari untuk menemani Mama, bagaimana?" kata Syahnaz.
"Hemm baiklah "
Perbincangan mereka berhenti sampai di situ,dan mereka memilih untuk melanjutkan sarapan nya. Kecanggungan jelas masih terlihat di wajah Syahnaz, karenanya perbincangan mereka terlihat tak sehangat sepasang pengantin baru, Namun tidak dengan Max sebenarnya dia sudah terbiasa dan tak nampak canggung, Tapi karena sifat Max yang cenderung dingin dan sedikit bicara, menambah ketegangan dan kecanggungan di wajah Syahnaz.
__ADS_1
Kini mereka bersantai di balkon apartemen, menikmati sepiring camilan dan teh buatan Syahnaz.Max yang menyadari ketegangan di wajah sang istri, berinisiatif menghangatkan suasana,dia mencoba berbicara lebih banyak dari biasanya, bersikap sedikit mesra walaupun sebenarnya Max sendiri merasa sikap nya kurang mesra,tak seperti Arthur yang menurut Max sudah banyak berubah karena sang istri.
"Apa kamu ingin seorang anak?" tanya Syahnaz setelah mendengar cerita Max tentang anak-anak Arthur.
"Kamu tidak mau?" tanya balik Max
"Aku suka anak-anak" jawab Syahnaz.
"Kalau begitu ayo kita bikin yang banyak" saut Max sambil mengeratkan pelukannya di perut sang istri yang sekarang berada di pangkuan nya.
Syahnaz benar-benar bahagia saat ini, bahkan dia sudah membayangkan dirinya akan hamil anak dari Max.Syahnaz berbalik dan memeluk tubuh Max.
"Terima kasih Max"
Bersambung......
__ADS_1