Arthur (Sang Penguasa)

Arthur (Sang Penguasa)
Keserakahan yang menyakiti seseorang


__ADS_3

Braaaaak........


Suara lemparan kursi nampak menggema di ruangan tersebut, untung nya ruangan tersebut kedap suara,jadi tak sampai terdengar keluar ruangan.


"Bisa tidak kalau kau bertindak lebih pintar!!" bentak Bara pada Morgan sambil mencengkram krah baju lelaki tersebut.


"Jangan lagi kau temui gadis itu! atau...aku akan membuat nya pindah ke dunia lain!" lanjutnya.


Morgan nampak mengepalkan tangannya kuat-kuat, dia tau belum saatnya dia melawan Bara, karena dia tau sekali bahwa Lelaki yang terlihat ramah dan murah senyum di depan kalayak ramai itu,bahkan lebih menyeramkan di bandingkan siapapun saat marah, jelas dia tak mau gadisnya terluka saat ini,karena jujur saja dia belum bisa melindungi sepenuhnya gadisnya itu. Kali ini segala rencana Bara gagal untuk menghancurkan pernikahan Arthur, bahkan Arthur yang terkesan tak suka akan rencana pernikahan nya di awal, nyatanya nampak begitu senang saat duduk di pelaminan.Bara tau betul bahwa Arthur tersenyum bukan hanya karena pernikahan nya, melainkan juga karena kemenangan nya atas kursi kepimpinan yang akan berpindah pada Arthur ketika nanti lelaki itu telah resmi menikah.


Yang membuat Bara lebih marah lagi, perjodohan bisnis yang di lakukan nya untuk Morgan Hernandez dengan Balqis Patterson terancam gagal bila Morgan kembali ke gadis masa lalu nya, gadis yang menurut Bara tak pantas masuk dan duduk sejajar dengan dirinya dan keluarga Hernandez.


"Ingat Morgan! kalau kau tidak bisa menduduki jabatan tertinggi di perusahaan Hernandez, maka perusahaan Patterson adalah pilihan yang tepat!" kata Bara sambil menghempaskan tubuhnya Morgan, karena Balqis adalah anak tunggal keluarga Patterson dan jelas dipastikan kalau Morgan menikahi nya maka kursi kepemimpinan akan jatuh pada Morgan sebagai menantunya sebagai pengganti Balqis.


"Datang lah ke acara makan malam besok, aku sudah mengaturnya untuk bertemu dengan Nona Balqis........jangan coba-coba menghindari nya!"


kata Bara kemudian berlalu dari sana dengan perasaan yang masih terlihat marah, Namun sebelum benar-benar keluar dia berbalik,


"Aku melakukan semuanya untuk mu Morgan! karena kau....adalah darah daging ku!" kata Bara dengan penuh penekanan.


Bara akhirnya benar-benar pergi dari sana, Morgan benar-benar marah, entah mengapa jika di singgung tentang siapa dirinya sebenarnya membuat Morgan muak dan tak suka. Tak ada yang tau bagaimana rumitnya hubungan di antara mereka, dan tak ada yang pernah tau bahwa Bara adalah ayah biologis Morgan, wajah Morgan yang lebih dominan ke wajah sang Mama, membuatnya terlihat tak mirip dengan Bara. Ternyata perselingkuhan antara sang Mama dan Bara yang notabene nya adalah Sepupu ipar Mama nya sendiri membuat Morgan muak, Cap sebagai anak hasil selingkuhan pasti akan menghancurkan kehidupan sang Mama jika benar-benar semuanya akan terungkap di masyarakat.

__ADS_1


Ancaman itulah yang selalu di lontarkan oleh lelaki yang mengaku sebagai ayah biologis nya itu, Dengan perincian persoalan yang akan menimpa Mama nya, dirinya bahkan juga Bara sendiri.Bahkan Bara sudah mengatakan bagaimana dia akan keluar dari permasalahan nya itu tanpa mencoreng nama nya sendiri bila benar-benar akan terungkap di masyarakat.Selama ini Morgan terus mencari cara agar bisa mengatasi nya namun semua jalan seakan sudah di buntu oleh Bara, dan apapun yang di lakukan Morgan, Bara selalu tau dan selalu mencegahnya.Beberapa saat kemudian sang Mama masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Mama bawakan jahe hangat untuk mu" kata Ananta


"Terima kasih" saut Morgan, dia berpura-pura memeriksa beberapa berkasnya.


"Bara bilang kamu akan menerima perjodohan itu? benarkah?" tanya Ananta sambil duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


"Sudahlah, jangan di bahas......aku capek" ucap Morgan lirih, dia benar-benar sudah capek dengan tatanan hidup yang di atur untuk nya.


"Kenapa? bukankah itu bagus? Balqis gadis yang baik dan cerdas" kata Ananta tak mau kalah.


Ananta yang melihat gelagat Morgan yang tak biasa akhirnya mengalah, dia beranjak dari sana dan keluar dari ruangan tersebut, di depan pintu yang sudah tertutup itu, Ananta meraba pintu tersebut seakan sedang meraba lengan sang anak, Ananta sadar betul dengan beban yang di bawa sang anak.Namun Ananta juga tak bisa berbuat apa-apa, dia pun melakukan semuanya demi Morgan, walaupun di mata Morgan semua cara sang Mama adalah salah.Ananta tertunduk sebentar, airmata nya tiba-tiba menetes,dengan cepat dia hapus,dia tak boleh lemah. Sudah hampir 6 tahun dia tak lagi mendapatkan pelukan sang anak. Rindu? jelas! tapi saat ini dia harus menahannya hingga keinginan nya tercapai semua.


Tak berbeda jauh dengan Morgan, Seorang wanita yang kembali menari-nari di kepala Morgan tengah termenung di kamarnya, dia memegang kalung berliontin cincin yang di pakainya, bukan cincin berlian atau permata, hanya sebuah cincin emas berwarna putih yang tak terlihat mahal.


"Dia sudah sangat berubah...... matanya penuh dengan beban" angannya menerawang, membawanya ke dalam peristiwa beberapa waktu yang lalu di sebuah kamar hotel.


"Keluar!! apa yang Anda lakukan di sini!?? bukankah sangat tidak sopan Anda menerobos masuk ke dalam kamar seorang gadis?" kata Echa dengan sangat geram. Namun Lelaki itu tetap diam.


"Kirimkan dokter ke kamar lantai 8 no 457, ada yang terluka dan mengeluarkan banyak darah di sini....." kata lelaki tersebut

__ADS_1


"Satu lagi!! jangan menimbulkan kecurigaan" lanjutnya kemudian dia menutup sambungan teleponnya.


"Berikan kakimu..." pintanya


"Sampai matipun aku tak akan Sudi di sentuh olehmu!!" ucap Echa tegas, dia bahkan sudah tak mau melihat wajah lelaki di hadapannya.


"Ica....menurutlah....kakimu berdarah" kata Morgan dengan wajah paniknya,ya... lelaki itu adalah Morgan.


"Keluar!!" pinta Echa tegas.


"Aku tak akan keluar sampai kakimu di obati!! tolong jangan keras kepala!!" sentak Morgan yang sudah panik karena darah terus mengucur dari kaki Echa, Morgan berusaha tak mempedulikan Echa dan mulai mendekati nya.


"Berani maju!! aku akan menusukkan senjata ini!" Echa menemukan pisau buah di atas ranjang buah segar yang ada di kamar nya.


Morgan terpaku sejenak, sebegitu benci kah Ica padanya? Sampai dia berani melukai dirinya sendiri agar tak di dekati oleh Morgan.


"Maafkan aku.......aku akan mengembalikan Ica ku lagi seperti dulu.....beri aku waktu....... maafkan aku" kata Morgan bersamaan dengan asistennya yang masuk bersama seorang dokter.


Echa menutup matanya dengan lengan kanannya ketika mengingat kembali semuanya, beberapa saat menahan tangisnya walaupun pada akhirnya isak tangis yang semakin kencang mulai terdengar pilu. Echa juga menangisi nasibnya, seakan menjadi sebuah takdir, Morgan mu sama menutupi matanya dengan lengan kanannya sambil terisak pelan.


bersambung......

__ADS_1


__ADS_2