
Syahnaz nampak keluar dari dapur rumah besar tersebut, dia masih melihat Max yang nampak berdiri menunggu Arthur yang sedang membangunkan istri nya yang bersandar di bahunya. Melihat Nayla yang begitu di sayang suaminya,timbul rasa iri di hati Syahnaz, apakah dia akan bahagia juga dengan pilihan Mama nya nanti? mengingat sang Mama akan menjodohkan nya lagi dengan lelaki kaya lainnya.Apa Syahnaz tidak tersiksa? jawabannya jelas Iya, dia tak tau harus bagaimana menolak keinginan sang Mama, wanita yang sangat dia cintai, wanita yang mau menganggapnya sebagai anaknya sendiri walaupun hubungan nya dengan sang Mama hanya sekedar ibu dan anak tiri.
"Max, menginap lah di sini" kata Arthur sebelum benar-benar meninggalkan tempat tersebut, karena ketika melihat tempat sepi, Max segera mendekati Arthur.
"Baik Tuan" saut Max.
"Max......jangan berkeliaran malam-malam" kata Arthur dengan seringai licik nya.
Dan Max tau betul apa maksud dari bosnya itu, setelah melihat Bosnya berjalan menjauh.
Sayup-sayup dia mendengar kan percakapan dua orang yang sebenarnya dia takuti.Namun entah mengapa mata Syahnaz tak bisa lepas dari Max, Lelaki yang sudah sangat lama diam-diam dia kagumi., Max nampak berbalik badan dan sedikit kaget ketika melihat seseorang nampak menunggunya nya.Dan inilah yang di maksud oleh Arthur, agar tak berkeliaran di malam hari.Max berjalan melewati Syahnaz, dan seperti biasa Syahnaz hanya bisa diam tanpa bisa membuka suaranya.Namun siapa yang menyangka kalau Max kembali lagi di hadapannya.
"Bisa buatkan aku kopi?" tanya Max dengan muka datar nya.
"Ya??" Syahnaz nampak kaget.
"Aku tunggu di gazebo depan" kata Max lagi tanpa mempedulikan kekagetan Syahnaz.
Dan ketika Max sudah berlalu, Syahnaz baru tersadar.
"Oh My......." pekik Syahnaz pelan,
__ADS_1
Dia segera berlari ke arah dapur dengan wajah sangat berbinar, baginya Max mau berinteraksi dengan nya saja, sudah membuatnya sangat bahagia. Setelah beberapa lama, Syahnaz membawa secangkir kopi di tangannya, jangan tanyakan bagaimana tuan putri seperti nya bisa berada di dapur dan terbiasa di sana, anak gadis satu-satunya di keluarga Hernandez ini memang tak terbiasa di layani, dia suka melakukan apapun sendiri dan pelayan di rumah itu pun sudah tau kebiasaan sari Syahnaz,pada akhirnya mereka membiarkan saja Syahnaz melakukan apapun di dapur.
"Ini kopinya Max" kata Syahnaz menyodorkan secangkir kopi panas.
"Hemmmm...." jawab Max.
"Pergilah tidur!" pinta Max pada Syahnaz yang masih berdiri di tempatnya.
"Aku belum mengantuk, bolehkah aku duduk di sini?" tanya Syahnaz.
"Tidak...... tidurlah!" kata Max sebelum menyesap kopinya.
"Hemmmmm baiklah, tapi bisakah aku minta foto yang diambil di pedesaan oleh Robert?" tanya Syahnaz lagi, sungguh saat ini dia hanya ingin berduaan dengan Max sedikit lama.
"Jahat sekali" gumam nya pelan, dan tentu saja itu masih bisa di dengar oleh Max, namun sekali lagi Max hanya diam dan cuek saja.
Karena tidak ada reaksi dari Max lagi, Syahnaz akhirnya meninggalkan Max yang duduk di gazebo sambil menikmati kopi nya.Syahnaz sekali lagi melihat ke arah Max yang tak menoleh sedikit pun padanya, Syahnaz hanya menghela nafasnya pelan.
"Memang seharusnya aku melupakan dia, seperti sebelum-sebelumnya" gumam Syahnaz, kemudian dia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah.
Tanpa mereka sadari dari atas sebuah balkon kamar, ada seseorang yang sedari tadi mengawasi pergerakan mereka berdua, orang tersebut hanya nampak memperhatikan tanpa berniat untuk menegur mereka.Namun Max tau betul bahwa dia di perhatikan, dia hanya berpura-pura tak tau siapa yang sedang mengawasi nya, insting seorang Max tak pernah bisa di ragukan lagi.
__ADS_1
Di dalam kamar Bobby, Alice nampak mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, di sana tak ada sofa yang terletak di tengah-tengah kamar, kamar Bobby sangatlah simpel dan tak terlalu banyak hiasan atau barang-barang di dalamnya.Bobby nampak keluar dari kamar mandinya, dia melihat Alice sejenak.
"Mandilah...." kata Bobby sambil melewati Alice dan duduk di salah satu sisi ranjangnya.
"Apa aku boleh meminjam kemejamu? aku tidak bisa tidur dengan pakaian seperti ini" kata Alice.
Seketika Bobby terdiam, Entah mengapa tiba-tiba Bobby membayangkan tampilan Alice beberapa hari yang lalu di apartemen nya.
"Ohh Shi-t!!!!" Teriak Bobby dalam hatinya.
"Ambil saja!" kata Bobby benar-benar berusaha bersikap biasa-biasa saja.
"Terima kasih....ehmmmm apa kita akan tidur se ranjang?" tanya Alice, dan Bobby nampak menatap nya sambil mengerutkan keningnya.
"Maksud ku....di kamar mu tidak ada sofa....atau.. selimut tebal juga tidak apa-apa.....aku akan tidur di lantai saja beralas selimut itu, aku sudah biasa!" lanjut Alice melihat reaksi Bobby.
Bobby tak menanggapi perkataan Alice, namun dia berjalan mengambil kemejanya di dalam lemari pakaian,dan melempar pelan pada Alice.Alice yang tak mendapatkan jawaban dari perkataan nya, pada akhirnya masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.Bobby sibuk dengan ponselnya di atas ranjang dan beberapa saat kemudian, Alice sudah selesai mandi,dia keluar dengan kemeja putih milik Bobby dan tentu saja, Alice langsung berjalan cepat masuk ke dalam selimut. Bobby yang tak melihat kedatangan Alice, nampak terkejut merasakan pergerakan ranjangnya.
"Aku tidur di sini saja!" kata Alice sambil membelakangi Bobby dan menarik selimutnya sampai ke leher,Alice tak menyangka bahwa kemeja yang dia pakai nampak menggoda, dia tak mau Bobby mengira dia menggodanya. Bobby melihat jam di dinding kamar nya, kemudian menyimpan ponsel nya di nakas dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan Alice.
Menjelang pagi, Alice nampak mengeliat,mencari posisi tidur yang nyaman,dan mengeratkan selimut nya karena hawa dingin yang menyerangnya.Namun Alice benar-benar tak menyadari bahwa tubuhnya nyaman nya sedang berada dalam dekapan sang suami, siapa lagi kalau bukan Bobby, semalaman Bobby mencoba menenangkan hasratnya, ketika tengah malam, Alice bergerak-gerak terus,hingga selimut yang di pakai nya terlepas dari tubuhnya.
__ADS_1
"Oh Shi-t!!!!" umpat Bobby berulang kali semalam.
bersambung...