
Tidak ada perbincangan yang berarti di antara mereka, hanya perbincangan layaknya keluarga yang lainnya.Hanya seseorang orang yang di sinyalir adalah anak dan ayah itu berbincang, Namun setelah datang satu lagi seorang lelaki di antara mereka, perbincangan mereka sedikit serius.
"Kapan kamu akan membawa Syahnaz pergi?" tanya lelaki tua itu.
"Biarkan dia bersama Abigail dulu, setelah kita berhasil aku akan mengambilnya, Sekarang ini hanya Syahnaz yang menjadi pengikat Abigail!"" jawab lelaki yang di tanya itu.
"Ingat!! segera jalankan rencana berikut nya! Lama-lama Syahnaz tidak ada gunanya di sana!" saut sang Ayah.
"Bukankah Ayah meminta kita lebih hati-hati? jadi jangan terlalu terburu-buru Ayah, agar mereka tak merasa curiga, percuma kita bermain cantik selama ini, kalau pada akhirnya terbongkar"
"Terlalu lama!!"
"Bara benar-benar sudah mati Ayah! yang ada di keluarga itu sekarang adalah Raka, saudara kembar nya!!"
"Tapi ayah tenang saja, Raka tak tau apa-apa!"
"Tapi jangan remehkan Arthur dan asistennya!! ingat, walaupun cucu Hernandez yang lainnya tak pandai mengendus kita, tapi itu tak berlaku bagi Arthur dan asistennya, jadi lebih baik kita hati-hati!"
Mereka nampak berbincang dengan normal selain perbincangan yang hanya menyinggung soal Bara dan Syahnaz.Arthur dan Max terlihat sedikit kecewa, susah payah mereka bertindak,namun tak mendapatkan informasi yang penting, tentang alasan mereka misalnya, kisah masa lalu apa yang kiranya membuat orang tersebut begitu membenci keluarga Hernandez, dan dua orang lelaki yang di yakini sebagai anaknya,ikut membantunya.
"Cari tau lebih dalam lagi Max, apa yang menjadi alasan mereka mengusik keluarga Hernandez!" kata Arthur sambil beranjak pergi dari persembunyian mereka.
__ADS_1
"Baik Tuan!" saut Max.
"Max!" panggil Arthur sebelum benar-benar keluar dari ruangan tersebut.
"Ya?"
"Apa kau tak merasa kalau Syahnaz juga di jadikan alat bagi mereka?"
"Ya?"
"Tidak kah sebaiknya kamu menerima perasaan nya dan melindungi nya? seperti nya aku berubah pikiran, aku jadi ingin menjodohkan nya dengan mu!" kata Arthur dengan seringai di wajah nya
"Dasar keras kepala!! Jangan menyesal bila nanti kau jatuh cinta padanya! kau tau betul bahwa dia sudah sangat lama menyukai mu" saut Arthur.
"Pergilah Ar, kau semakin ngelantur!" kata Max sambil membereskan barang-barang bawaan nya.
"Kau benar-benar tidak menyukai nya?" tanya Arthur.
"Apa kau sudah ketularan istri mu itu Ar, Kenapa kau cerewet sekali!" ucap Max dan sudah selesai berbenah, kemudian dia mulai beranjak hendak meninggalkan ruangan tersebut,dan akhirnya Arthur berjalan terlebih dahulu meninggalkan tempat tersebut.
Di sisi lain..
__ADS_1
"Memang Papa mu kemana Naz?" tanya Abigail
"Katanya ada pertemuan dengan kliennya ma, di sebuah restoran" saut Syahnaz
"Apa dia bilang padamu?" tanya Abigail pada sang anak.
"Tidak...hanya saja asisten yang mengatakan pada ku ma, sebenarnya aku hanya ingin mengajak Papa makan siang" saut Syahnaz.
"Memang kenapa kau mau mengajak Papa mu makan siang berdua?" tanya Abigail.
"bukankah sudah sangat lama ma aku tidak pernah keluar berdua dengan papa? kalau Papa menyetujui makan siang kita, di situ pasti karena ada Mama" kata Syahnaz terlihat sendu.
Abigail sadar betul dengan perubahan wajah Syahnaz, Syahnaz memang tak begitu diperhatikan oleh sang papa, semua tentang Syahnaz dipenuhi oleh Abigail sang Mama, Karena Papa Syahnaz lebih banyak bekerja dari pagi sampai hampir pagi lagi untuk mendapatkan apa. yang dia kejar,hingga Syahnaz tak pernah sama sekali punya waktu berdua dengan sang Papa.
"baiklah sayang.......? jangan sedih, nanti Mama akan bicara dengan Papa mu!" sahut Abigail.
walaupun hati Syahnaz masih tetap sakit,namun dia akhirnya menuruti sang Mama yang tengah menghiburnya, Syahnaz memang tidak dekat dengan sang Papa nya,namun segala sesuatu yang berhubungan dengan perusahaan dan rencana+rencananya, Syahnaz lah yang paling sering di repotkan untuk sang papa meraih sesuatu.
Syahnaz kurang kasih sayang dari Papa nya,walaupun hidup nya bergelimang harta, nyatanya itu saja tak membuat hati nya bahagia, hidupnya kesepian.
bersambung
__ADS_1