Arthur (Sang Penguasa)

Arthur (Sang Penguasa)
Bolehkah aku bahagia??


__ADS_3

Setelah beberapa saat berbincang dengan Nayla, Bobby akhirnya pamit terlebih dahulu, dan Nayla yang memang sedari tadi melihat gelegat Alice yang tak begitu nyaman berada di dekat Bobby, akhirnya mengijinkan Bobby pulang serta dengan sengaja meminta Bobby membawa Alice.


"Baiklah Tuan Bobby, biarkan si kembar di sini, dan sekaligus bawa istri mu keluar dari sini" kata Nay membalas kata-kata Bobby.


"Tentu saja Nay" saut Bobby


"Ayo pulang!" lanjutnya.


"Hah??"


Alice nampak kaget dengan ajakan Bobby, sungguh dia tak ingin pulang bersama dengan lelaki di hadapannya sekarang.Kalau bisa saja, Alice malah ingin untuk tidak pulang ke apartemen di mana mereka tinggal bersama, canggung rasanya, entahlah.Pada akhirnya Alice mengikuti langkah Bobby keluar dari ruangan tersebut. di sepanjang koridor rumah sakit, mereka nampak terdiam.Hingga langkah mereka terhenti ketika ada seseorang yang memanggil Bobby.


"Bobby!" seru seorang wanita dengan baju dokternya.


Bobby berhenti dan Alice pun secara otomatis ikutan berhenti. Seseorang yang berpakaian dokter nampak menghampiri mereka, senyum manisnya membuat Bobby ikutan tersenyum, namun Alice yang merasa tak kenal hanya diam saja, untung saja Alice berjalan tak begitu dekat dengan Bobby, hingga semua orang yang melihat pasti mengira mereka hanya kebetulan berjalan di koridor rumah sakit yang sama, dan benar dugaan Alice, wanita tersebut hanya menyapa Bobby.


"Sudah mau pulang?" tanya nya pada Bobby.

__ADS_1


"Hemmm....kamu sendiri? Kenapa belum pulang? katanya sip malam" saut Bobby.


"Aku tadi sengaja menunggu mu, sudah lama kita tidak berjumpa, antar aku pulang ya...biar kamu tau aku tinggal di mana sekarang" kata Stella, wanita yang nampak seumuran dengan Alice dan Bobby.


"Baiklah..."


Namun setelah obrolan tersebut, ternyata obrolan mereka berlanjut, hingga Alice yang merasa terabaikan,dengan pelan meninggalkan Bobby tanpa berpamitan terlebih dahulu, Bobby dan Stella sampai tak menyadari kepergian Alice, bahkan untuk Stella,dia memang tak tau kalau Bobby bersama dengan Alice. sampai di depan rumah sakit, tepatnya di parkiran, Alice sedikit bingung, karena dia lupa kalau hari ini tidak membawa mobil,akhirnya dia keluar dari area rumah sakit untuk mencari taksi.Melihat bagaimana bahagianya Bobby bersama Stella, Alice semakin yakin untuk mengurus perceraian mereka,yakin kalau Bobby dan Stella pasti punya hubungan spesial,walaupun dia tahu Bobby memang seorang yang periang dan kadang terlalu ceplas-ceplos, namun jika berada di dekatnya, Bobby langsung menjadi pria yang dingin,cuek dan datar.Alice tidak bisa membiarkan itu semua terjadi, bagaimanapun juga Alice merasa bahwa pernikahannya dengan Bobby adalah kesalahan keluarganya, terutama sang mama, dia selalu menganggap bahwa Bobby adalah korban dari pernikahan mereka,memang seperti itulah hati seorang Alice.


Tak membutuhkan waktu lama Alice mendapatkan taksi dan hari ini dia memang berencana untuk tidur di rumah, tubuhnya sangat letih saat ini, di tambah dengan mood nya yang tidak baik. Alice baru saja sampai di rumah, beberapa saat kemudian dia sudah berganti baju dan sekarang tengah berada di dapur, dia sudah melewatkan makan siangnya hari ini, Alice hanya akan memasak sesuatu untuk dimakan sendiri.


Drt....drt....drt.....


"Kamu yakin mau menjual Butik kamu?....itu perjuangan panjang kamu Al... kamu berjuang sendiri untuk Butik itu!" kata Diana, teman Alice yang memang di mintai tolong untuk menjual Butik dan beberapa aset milik nya.


"Di.....aku butuh uang itu" saut Alice.


"Alice.... please!" bujuk Diana, walaupun mereka tak terlalu dekat karena jarang bertemu dan jarak yang memang jauh, tapi Diana tau betul bagaimana Alice.

__ADS_1


"Tidak ada lagi yang harus aku perjuangkan di sini Di, sudah cukup..... bolehkah aku hidup bahagia? .....dengan caraku sendiri?" kata Alice sejenak menghentikan tangannya yang sibuk memasak sesuatu.


"Lalu pernikahan mu?" tanya Diana.


"Aku akan mengurus perceraian ku Di, setelah itu aku akan pergi ke sana, apa rumah mungilku sudah jadi?"


tanya Alice dengan sedikit berbinar, dia sudah membayangkan akan tinggal di sebuah pedesaan, dia bahkan sudah meminta Diana untuk membangunkan sebuah rumah di sana, Alice bahkan hampir menghabiskan uang tabungan nya untuk rumah impian nya.


"Tante Nesya?" tanya Diana lagi, Tanpa menjawab pertanyaan Alice.


"Entahlah.....aku sudah ingin berhenti!! Biarlah aku menyesali nya di sepanjang hidupku nanti, tapi aku yakin,aku bisa bahagia tanpa mereka" kata Alice,tak terasa airmata nya melesat turun melewati pipinya, ketika membayangkan dia meninggalkan sang Mama.


"Alice...." kata Diana lirih.


"Aku harus bahagia Di, Mama pernah berjanji membuat aku bahagia, tapi itu menurut Mama Di,tidak buat aku.....aku tersiksa Di......hiks....hiks....." kata Alice.


"Bolehkah aku bahagia Di? aku ingin bahagia Di.....Tidak pernah ada orang yang tulus mencintai ku hiks.....hiks...aku...hiks....aku lelah!!" lanjutnya.

__ADS_1


Bahkan saat ini,Alice sudah bersimpuh di lantai tanpa mempedulikan panggilan telepon nya, dia seolah hanya mencurahkan isi hatinya pada dirinya sendiri.Sedangkan sedari tadi, tanpa di ketahui Alice, Bobby memperhatikan dan mendengar semua keluh kesah Alice, Bobby yang tadi baru menyadari kepergian Alice, akhirnya mengurungkan niatnya mengantar Stella pulang, dan bergegas menyusul Alice ke apartemen mereka.Pelan tapi pasti, Bobby melangkah meninggalkan Alice sendiri, dia membuka dan menutup pintu kamar nya pelan, kemudian bersandar di balik pintu tersebut, pikiran nya kacau saat ini, bahkan dia juga membenci dirinya sendiri karena terlalu egois, namun sekuat apapun Bobby mencoba menerima semua nya, sekuat itu juga hatinya menolaknya.


bersambung


__ADS_2