
Berdiri dengan gagahnya Max di depan pasangan suami istri itu,dan sejujurnya bukan dengan gagah, karena di kedua tangannya, terdapat bungkusan popok bayi dan beberapa kaleng susu formula yang di minta oleh Nayla.Setelah mendapatkan telpon dari Arthur,dengan cepat Max turun ke bawah apartemen nya,di mana di sana terdapat sebuah supermarket yang bisa di datangi Max untuk mendapatkan apa yang Nayla inginkan.
"Apa kalian hanya akan memandangi saja?" tanya Max dengan mengangkat tangan nya, menandakan Arthur harus membantu nya membawa ke kamar mereka, karena semenjak Arthur menikah, Max sama sekali tak pernah masuk ke kamar pasutri itu.
Dulu segalanya Max yang menyiapkan dan mengaturnya,bahkan sampai membangunkan Arthur pun Max yang melakukan nya. Ketika Arthur mendengar pertanyaan Max,dia berdiri dan mengambil bungkusan itu, dan Nayla ikut membantu membawa popok tersebut ke kamar nya.Baby Al tidak pernah rewel,bayi mungil itu persis seperti sang Daddy yang tak banyak bicara, begitu pula dengan Baby Al yang lebih banyak diam dan tidak rewel sama sekali, karena itu ketika Nayla di tawari seorang Baby sitter, Nayla menolaknya. Lagipula,dia ingin merasakan bagaimana rasanya merawat anaknya sendiri, apalagi Arthur tak memperbolehkan Nayla bekerja kembali di butik.
"Kau mau kemana Kak?" tanya Nayla ketika keluar dari kamar, dan dia melihat Max yang akan keluar dari apartemen.
"Kembali ke apartemen ku" saut Max.
"Tidak Kak... duduklah, aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita" ajak Nayla.
"Baiklah kalau kau memaksa Nay" saut Max dan berjalan kembali ke arah meja makan.
Max melirik sedikit ke arah Arthur, Arthur yang berubah menjadi seorang pencemburu itu,seakan tak suka kalau Max bergabung di meja makan. Dan entah sejak kapan, dia lelaki yang dulu sangat akur dan tak terpisahkan ini, tiba-tiba menjadi Tom dan Jerry bila berurusan dengan Nayla.
"Sudah aku bilang Max, sebaiknya kau menikah saja!" kata Arthur.
"Aku tidak akan menikah! apalagi sekarang aku sudah punya adik, jadi cukup bagiku" saut Max.
"Dia istri ku Max!!" ucap Arthur penuh penekanan.
"Kau sudah jatuh cinta padanya?" tanya Max, pertanyaan yang sebenarnya sangat menjebak Arthur.
__ADS_1
"Tentu saja belum!! dia yang akan lebih dulu jatuh dalam pesona ku!" jawab Arthur dengan angkuhnya.
"Ckc.....dasar gengsi!"
"Kau....."
"Ada apa ini?" tanya Nayla yang memotong perkataan Arthur.
"Nay apa kau memasak sip ikan?" tanya Max
"Tentu saja, aku tau ini adalah makanan kesukaan mu Kak" saut Nayla.
"Sejak kapan kau suka sop ikan?" tanya Arthur heran.
"Dasar penganggu!" gumam Arthur lirih, sayangnya telinga tajam Max masih bisa menangkap nya.
Sebenarnya Max sangat senang dengan perubahan karakter Arthur, lelaki yang sangat dingin,kaku dan cuek ini lebih banyak berubah ketika perlahan-lahan Nayla masuk ke dalam hidup dan hatinya.Max tau betul, bahwa Arthur sudah menyerahkan sepenuh hati nya untuk Nayla, namun tentu saja mengakui itu semuanya tak akan pernah dia lakukan. Arthur hanya menunjukkan nya lewat tindakan saja, lain Max lain juga Nayla, Nayla tak pernah berpikir bahwa Arthur telah mencintai nya, yang Nay tau, Arthur hanya menerima pernikahan mereka,karena dalam kamus hidup Arthur,tak ada kata cerai sama sekali. Karena itu Nayla tak pernah mengira bahwa Arthur sudah mencintai nya saat ini.
###########
Alice dan Bobby terdiam ketika tiba-tiba melihat Bara berdiri di samping pintu apartemen milik Bobby. Setelah lama mengasingkan diri di pedesaan, hari ini mereka kembali karena harus menemui dokter kandungan Alice, besok adalah jadwal Alice berkunjung ke rumah sakit. Bara sengaja datang menemui Bobby karena mendapatkan kabar dari Morgan bahwa Bobby akan pulang ke apartemen hari ini. Alice menarik tangan Bobby yang seolah enggan melangkah mendekati Bara.
"Bobby..... Papa ingin bicara" kata Bara ketika Bobby berada di depan nya.
__ADS_1
"Masuklah dulu Pa, kita bicara di dalam saja" kata Alice menengahi mereka berdua, Alice tau Bobby dan Bara nampak sama-sama canggung. Bara dengan rasa bersalah nya, sedang Bobby dengan rasa kecewanya. Setelah membuka pintu Alice memilih untuk meninggalkan mereka berdua, namun sebelumnya Alice membuat dua gelas minuman untuk Bobby maupun Bara.Beberapa saat hanya keheningan yang ada di antara mereka.
"Kami terpisah karena keadaan" Bara mulai bercerita, dan Bobby masih diam membiarkan saja.
"Pernikahan orang tua kami tak pernah di setujui, hingga saat Mama melahirkan anak kembar DNA meninggal dunia, kami harus di pisah kan, karena kedua keluarga sama-sama menginginkan kami, saudara Mama membawa aku pergi dan pindah ke luar negeri, dan hubungan antara mereka benar-benar terputus."
"Aku dan Ananta saling mencintai sejak kami berjumpa di negara ku, Namun keluarga Hernandez tak menginginkan seorang menantu dari kalangan biasa, Tuan besar Hernandez yang membesarkan Ananta,bahkan menolak ku mentah-mentah sebelum melihat ku sama sekali" Bara menegak minumannya untuk melegakan tenggorokan nya.
"Ananta akhirnya menikah dengan lelaki pilihan keluarga nya, dan akhirnya aku menghilang, mencoba memperbaiki diri dan ekonomi ku, agar suatu saat bisa merebut kembali Ananta, dan siapa yang menyangka, hari di mana aku mengetahui bahwa Ananta telah menjanda bahkan aku tau bahwa Morgan bukanlah anak kandung suaminya, melainkan darah daging ku, di hari itu juga aku bertemu dengan Bara... saudara kembar ku" lanjut Bara.
"Lalu kenapa kau membohongi Mama?" ucap Bobby.
"Permintaan terakhir Bara!" jawab Raka yang sekarang memakai identitas Bara.
"Saat kecelakaan itu,kami berada di mobil yang sama, kami mencoba mengakrabkan diri dan saling bercerita, namun hal naas itu terjadi!" ucap Bara sambil memandang langit-langit apartemen, berharap air matanya tak tumpah di depan Bobby.
Bara menceritakan bagaimana dia dan saudara kembarnya itu berada di ambang kematian, dan Bara juga bercerita bagaimana saudaranya itu di incar oleh seseorang hingga mengakibatkan kematian nya, dan sebelum meninggal,dia meminta untuk memakai identitas Bara dan melindungi anak dan istrinya, serta dia juga bercerita bahwa jenazah sang Papa di kebumikan dengan layak oleh anak buahnya.
"Percayalah Bob......Papa sangat menyayangi mu....kamu adalah amanah terakhir dari saudara Papa, Papa kandung kamu" ucap Bara,kali ini dia tak bisa lagi membendung air matanya, Bobby hanya tertunduk diam.
"Papa tau... Papa bersalah pada Mama mu.....tapi....hati Papa hanya untuk Ananta.....dan Papa tak pernah mengkhianati Papa kamu, Papa selalu memperlakukan Mama mu layaknya Kakak ipar Papa..." lanjutnya.
"Bobby..... bisakah kamu memaafkan Papa?"
__ADS_1
bersambung