
Max lama memperhatikan pertengkaran dua manusia tersebut, memang tak banyak orang di sana , hingga membuat sepasang kekasih yang sedang bertengkar itu tidak menyadari keberadaan Max. Max belum bertindak sama sekali, dia masih mengamati apa anak manja di depannya itu akan bisa mengatasi masalahnya sendiri, hingga beberapa saat kemudian, gadis itu kesakitan karena lelaki nya mencekramnya terlalu kuat.Akhirnya Max menghampiri mereka.
"Bisa lepaskan!!! dia kesakitan!!" ucap Max dengan datar dan terlihat menyeramkan.
"Siapa kau! jangan ikut campur urusan ku dengan pacar ku!!" saut si lelaki.
"Max....." ucap wanita itu lirih, dia tak sadar kalau ada Max di sana.
Syahnaz, gadis itu adalah sepupu dari Arthur dari Tante nya Abigail, Syahnaz tak terlalu dekat dengan sepupunya itu,karena memang Syahnaz adalah anak sambung dari Tante nya hingga membuat mereka yang di pertemuan kan saat sudah kanak-kanak,membuat Syahnaz tak berani mendekat kepada Arthur dan Morgan, sedangkan Bobby yang ceria lebih bisa di terima dengan mudah oleh Syahnaz, bahkan Syahnaz tergolong takut dengan Arthur dan Max, dua orang yang menurutnya sama menyeramkan nya.Namun kali ini pilihan nya tepat jika harus berlindung dari Eric kekasih nya yang sudah berhianat.Walaupun Syahnaz takut pada Max tapi Syahnaz lebih merasa aman dengan Max.
"Max....tolong!" kata Syahnaz memohon sambil melepaskan cekalan tangan Eric.
"Kau dengar! lepaskan!" kata Max sambil menatap tajam ke arah Eric.Entah mengapa Eric tiba-tiba merinding melihat tatapan membunuh Max, dia akhirnya memilih melepaskan Syahnaz dan berlalu dari sana.
"Urusan kita belum selesai sayang" ucap Eric terlihat sendu dengan penolakan Syahnaz.
"Terima kasih Max"
ucap Syahnaz sambil tertunduk, dia memang selalu seperti itu di depan Arthur dan Max.Syahnaz terlihat celingukan ke kanan dan ke kiri, dia tahu pasti,jika ada Max maka di sana juga pasti ada Arthur.
"Tuan Arthur sedang berbelanja di dalam" kata Max seakan tau apa yang di cari Syahnaz.
"Aku pergi dulu Max, terima kasih atas bantuan nya"
kata Syahnaz.Max hanya diam saja menanggapi perkataan Syahnaz.Namun seperti nya Tuhan berkata lain, begitu Syahnaz hendak melangkahkan kakinya, Arthur datang bersama dengan Nayla.
"Siapa Max?" tanya Nay karena tak melihat jelas wajah gadis tersebut.Entah mengapa tiba-tiba gadis itu terlihat menengang mendengarkan suara Nayla. Spontan Syahnaz berbalik dan menundukkan kepalanya sebentar tanda hormat nya pada sepasang suami istri itu.
"Syahnaz?.....apa kabar?" kata Nay, dia tau gadis itu adalah Syahnaz sepupu suaminya, namun Syahnaz yang sedikit tertutup dengannya membuat mereka tampak canggung.
"ehmmm baik...." jawab Syahnaz.
__ADS_1
"Sedang apa kau di sini?" tanya Arthur, pertanyaan Arthur sukses membuat Syahnaz kaget, jarang sekali lelaki itu mau membuka suara untuk nya.
"A..aku....SE..sedang bertemu dengan teman-teman ku" jawab Syahnaz agak tergagap, Nayla yang menyadari ketakutan Syahnaz tiba-tiba mengandeng tangan gadis tersebut.
"Kalau begitu ayo naik, kami akan mengantar mu pulang, iya kan Bee?" tanya Nay yang meminta persetujuan dari suaminya. Dan Arthur hanya mengangguk melihat dua gadis tersebut melenggang ke arah mobil mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Arthur pada Max.
"Dia bertengkar dengan kekasihnya Tuan" jawab Max.
"Kekasih?" tanya Arthur heran.
"Saya tidak sengaja mendengar percakapan mereka Tuan" jawab Max lagi.
"Cari tau siapa Lelaki tersebut" saut Arthur sambil berjalan di Ikuti oleh Max.
"Baik Tuan!"
Di sisi lain, Morgan tengah berada di sebuah restoran mewah bersama seorang wanita, wanita tersebut adalah Balqis Patterson, gadis yang mati-matian di jodohkan dengan Morgan oleh Bara. Dengan gaya anggunnya, Balqis tampak duduk menunggu Morgan yang beberapa saat lalu ijin ke toilet. Tiba-tiba ponsel milik Balqis ber- bunyi pelan, karena memang Balqis sengaja mengecilkan nada dering nya.
"Hallo Pa" sapa Balqis.
"Bagaimana kesan kedua bertemu dengan dia?" tanya sang Papa.
"Papa tau pasti kan? bukan dia yang aku inginkan!" kata Balqis nada tak suka pada sang Papa.
"Papa tau Balqis! tapi dia tak kalah hebatnya dengan Lelaki yang kau inginkan!" saut Papa nya.
"Tidak pa! aku akan tetap cari cara untuk mendapatkan apa yang aku mau, walaupun dengan cara mendekati lelaki ini sebagai jembatan nya!" ucap Balqis dengan tegas dan seringai licik di bibirnya.
"Papa akan semakin di hormati jika aku mendapatkan apa yang aku mau pa!" lanjut Balqis.
__ADS_1
"Entahlah Balqis, Papa tidak yakin" kata sang Papa
"Tenang saja pa, akan Balqis urus semuanya sendiri"
Melihat Morgan berjalan mendekati nya, Balqis mematikan sambungan teleponnya seketika, dia kemudian mengembalikan ponsel nya ke tas cantik yang dia bawa.
"Maaf.... membuatmu menunggu Nona" kata Morgan dengan datarnya.
"Tidak masalah Tuan Morgan, apa kita pulang sekarang?" tanya Balqis.
Mereka baru saja meeting membahas pekerjaan sekaligus makan malam, tentu saja Morgan datang atas perintah Bara, sedangkan Balqis datang dengan inisiatif sendiri.Balqis terlihat sebagai wanita yang anggun dan sabar, bahkan citra nya di depan khalayak ramai sangat baik, dia gadis yang cantik dan penurut dengan apa saja yang menjadi keputusan sang Papa,termasuk perjodohan nya dengan Morgan.
"Baiklah Nona, mari saya antar" kata Morgan mempersilahkan Balqis berjalan menuju ke parkiran mobil.
"Praz kita antar Nona Balqis terlebih dahulu" kata Morgan ketika melihat Praz membuka pintu mobilnya.
"Sesuai permintaan Anda tuan!" kata Praz
"Terima kasih" ucap Balqis sambil tersenyum melihat ke arah Praz dan Praz hanya menunduk kepalanya sebentar sebagai tanda hormat.
Tak ada percakapan berarti di antara mereka, keheningan terjadi di dalam mobil tersebut, Balqis sibuk dengan berkas-berkas perusahaan nya, sedang kan Morgan sibuk dengan ponselnya yang menampilkan pemandangan wajah sang pujaan hati. anak buahnya beberapa kali mengirimkan foto Echa dalam berbagai kegiatan.
"Aku kangen banget Cha" batin Morgan.
Tak terasa mereka sudah sampai di kediaman keluarga Patterson, dan Morgan pun mengantarkan Balqis sampai ke dalam rumahnya.Setelahnya dia berpamitan.
" Ke tempat biasa Praz" perintah Morgan.
Morgan pergi ke tempat persembunyian mereka, sebuah apartemen sederhana yang tak akan bisa di kira orang-orang Bara bahwa Morgan bisa tinggal di sana, tentu saja setelah Praz berganti mobil, mereka sadar betul ada orang-orang Bara yang selalu mengawasi Morgan. Setiap seminggu 3 kali, Morgan akan menyamar dan masuk ke rumah sakit, melihat Echa yang selalu sip malam dan tidur di ruangan nya, Morgan sudah mengantongi jadwal gadis itu di rumah sakit.
bersambung
__ADS_1