
Malam usai pernikahan Arthur dan Nayla
Echa di minta Dewi untuk menempati kamar yang di pesan oleh keluarga Hernandez dan Setelah Amer dan Dewi pamitan dan segera meninggalkan tempat tersebut, Echa pun dengan segera naik ke unit kamar hotel yang di sewakan untuk dirinya.Benar saja sesampainya di kamar, di sana sudah tersedia baju piyama dan sebuah dress yang bisa di pakai besok pagi, Echa segera membersihkan diri dan dengan tenang duduk bersila di atas ranjang nya.
"Lelahnya!'' Gumam Echa, Echa dengan segera memposisikan diri untuk tidur dan beberapa saat kemudian dia benar-benar tertidur pulas.Echa terlihat lelah, dia dengan sengaja melemparkan tubuhnya ke atas ranjang, wanita cantik ini bahkan melupakan ritual pembersihan wajahnya di malam hari, Dokter cantik ini sudah sering melakukan hal itu jika tubuh nya sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi.
Belum juga terlelap Echa mendengar jika pintu kamar hotelnya sedang dicoba untuk di masuki dan suara kunci tombol pintu apartemen itu berbunyi,Echa nampak terkesiap, Echa berfikir Kenapa orang tuanya kembali lagi,karena tak pernah terbayangkan di benak Echa siapa yang akan masuk ke kamarnya kecuali kedua orang tuanya yang meminta dia untuk menginap di kamar itu,siapa lagi yang bisa masuk kalau bukan mereka,kalaupun Echa berpikir itu adalah Nayla, jelas tidak mungkin karena sekarang ini bisa dipastikan Nayla pasti terkurung di kamar hotel bersama sang suami.
Ceklek......
suara pintu terbuka dan tertutup kembali, Echa bener-bener bersiap-siap, dia nampak waspada! perlahan Echa turun dari ranjangnya kemudian memegang sesuatu yang bisa dia gapai di atas nakas di sebelah ranjangnya, Echa menemukan sebuah hiasan berbahan kaca yang cukup cantik di sana dia memegangnya begitu erat.
__ADS_1
"Bunda?....Ayah?" Panggil Echa, karena kamar hotel itu memang sungguh besar hingga antara ruang depan dan ruang tempat dia tertidur terdapat sebuah sekat,Echa jelas tak bisa melihat dengan jelas siapa yang barusan masuk,Echa mengendap-endap keluar sambil terus memanggil Bunda dan juga ayahnya namun tak ada jawaban hingga secara tiba-tiba matanya menangkap sesosok laki-laki kekar yang berdiri di depannya spontan dia melepaskan benda yang ada di tangannya.
praaaang.....
Benda itu terjatuh dan bahannya yang terbuat dari kaca membuat benda tersebut hancur di sebelah kakinya, Lelaki yang ada di hadapan Echa hanya diam saja,namun melihat luka di kaki Echa yang terkena pecahan kaca tersebut spontan dia maju,Echa semakin mundur tak hayal karena ulahnya akhirnya Echa nginjak pecahan kaca yang terhambur di belakang kakinya.
"Aaarghhh........" jerit Echa karena kakinya berdarah.
"Keluar!! apa yang Anda lakukan di sini!?? bukankah sangat tidak sopan Anda menerobos masuk ke dalam kamar seorang gadis?" kata Echa dengan sangat geram.
Lelaki yang begitu banyak menorehkan luka di hatinya,lelaki yang sangat dia percayai bertahun-tahun yang lalu yang begitu tega menghianati kepercayaan nya dan bahkan membuangnya begitu saja,lelaki yang dianggap Echa tak punya pendirian dan prinsip dalam hidupnya,Dan saat ini lelaki tersebut sedang berjongkok di kakinya, Tak ada yang berubah dari lelaki tersebut,dia hanya diam tanpa banyak bicara namun Echa dapat menangkap kesenduan yang ada di mata Lelaki tersebut,apakah Echa peduli? tidak jawabannya adalah tidak! dia akan mengubur masa lalunya,tidak ingin berhubungan dengan siapapun yang ada hubungannya dengan masa lalunya.
__ADS_1
Echa naik ke ranjang, hingga seprei yang ada di sana nampak berwarna merah karena darah yang tak berhenti mengalir.Lelaki tersebut jelas panik, dia berdiri dan merogoh ponsel dalam sakunya.
"Kirimkan dokter ke kamar lantai 8 no 457, ada yang terluka dan mengeluarkan banyak darah di sini....." kata lelaki tersebut
"Satu lagi!! jangan menimbulkan kecurigaan" lanjutnya kemudian dia menutup sambungan teleponnya.
"Berikan kakimu..." pintanya
"Sampai matipun aku tak akan Sudi di sentuh olehmu!!" ucap Echa tegas, dia bahkan sudah tak mau melihat wajah lelaki di hadapannya.
bersambung
__ADS_1