
Syahnaz nampak terdiam di tempatnya, beberapa jam yang lalu,dia tak bisa berhenti menangis, Lelaki yang begitu di sayangi nya dan menampung nya selama hampir empat tahun ini, baru saja menghembuskan nafas terakhirnya menyusul sang istri yang lebih dulu berpulang satu minggu sebelumnya, sungguh tragis nasib Syahnaz. Robert dan sang istri yang menjadi tempat Syahnaz berpulang,di saat Abigail tak menginginkan nya, dan di saat Viko beserta keluarga nya memilih untuk meninggalkan negara nya. Syahnaz datang dengan luka yang di bawanya dan Robert beserta sang istri lah yang mengobati luka hati Syahnaz. Di sana Syahnaz mulai menata hidupnya, berkebun dengan bunga-bunga di perkebunan bunga milik Robert.
Robert memang sudah tua, apalagi sang istri yang lebih sering sakit-sakitan,hingga dua Minggu yang lalu di larikan ke rumah sakit, dan satu minggu kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.Siapa yang menyangka kalau Robert tak kuasa menahan kesedihannya, hingga beberapa hari lalu dia ikut sakit dan bahkan tak sampai satu minggu dia menyusul sang istri. Taman pemakaman Robert tak jauh dari rumahnya, hingga Syahnaz memutuskan untuk berjalan kaki kembali ke rumah Robert yang selama ini dia tempati. Syahnaz belum menyadari bahwa Max mengikutinya, Max berjalan di belakangnya. Syahnaz berpikir bahwa Max sudah kembali ke kota, karena melihat dari sifat Max yang tidak terlalu mempedulikannya, Syahnaz menduga bahwa Max pasti sudah meninggalkan pedesaan setelah Robert dimakamkan, namun Syahnaz tak tahu kalau Max terus mengikutinya sudah dari tadi.
"Kau masih di sini?" tanya Syahnaz sesampainya di pekarangan rumah Robert.Max hanya mengangguk saja.
"Masuk lah" Syahnaz mengajak nya masuk dan duduk di ruang tamu, kemudian dia meninggalkan Max ke dapur untuk membuatkan minuman.
"Minumlah, suasana di pedesaan sedikit dingin" kata Syahnaz menyodorkan segelas kopi panas untuk Max.
"Terima kasih" saut Max.
Terjadi keheningan di antara mereka, Max asyik menikmati kopi nya, sedangkan Syahnaz bingung harus memulai dari mana.Demi mengurai keheningan di antara mereka, Syahnaz membuka obrolan terlebih dahulu.
"Sudah mau malam... apa kamu tidak pulang?" tanya Syahnaz sedikit ragu.
"Kau mengusir ku?" tanya Max.
"Tidak...bukan seperti itu, hanya saja....aku tidak ingin menganggu pekerjaan mu, aku tau Kak Arthur pasti membutuhkan mu" kata Syahnaz, dia memang tak mau berlama-lama berdekatan dengan Max. Walaupun waktu telah berjalan hampir empat tahun, namun debaran jantung nya masih tetap sama jika berdekatan dengan Max, walaupun dia sudah bisa mengontrol ekspresi wajahnya.Syahnaz terlihat sangat tenang saat ini.
"Banyak yang berubah, harusnya kau berada di sana" kata Max.
Ya.... memang banyak yang berubah selama hampir empat tahun ini, Arthur bahkan sudah memimpin perusahaan nya sendiri,dan Max bukan lagi asisten pribadi Arthur, melainkan dia sebagai wakil CEO di perusahaan Arthur, dan tentu saja mereka punya asisten pribadi masing-masing, Namun Max tetap tak bisa jauh dari keluarga Hernandez.
__ADS_1
"Tempat ku di sini...bukan di sana" ucap Syahnaz sambil menampilkan senyuman nya.
"Aku akan menginap, bisakah aku memakai kamar mu?" tanya Max dengan santainya, dan terlihat begitu percaya diri.
"Hah??"
"Cepatlah... badan ku rasanya sangat lengket" kata Max sambil berdiri dari kursinya, dia mengangkat alisnya sebelah,seakan memberi tanda pada Syahnaz.Syahnaz tidak bisa menolaknya lagi, dia berjalan terlebih dahulu menuju kamarnya, mengambilkan handuk baru untuk Max, setelah nya Max masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Berasa punya suami" gerutu Syahnaz.
Syahnaz bukan lagi gadis yang menggebu untuk mendapatkan Max seperti sebelumnya, dia benar-benar sudah bisa menata hatinya, dia terlalu lelah mengharapkan orang-orang yang mau menyayangi dan mencintai nya, hingga dia menyakinkan dirinya untuk tidak berharap terlalu banyak.
Syahnaz meninggalkan kamar dan menuju kamar Robert dan istrinya, mandi di sana serta berganti baju.Kemudian Syahnaz menyiapkan untuk makan malam, karena Syahnaz belum yakin kalau Max akan tinggal atau pulang.Sesekali Syahnaz melihat ke arah kamar nya, namun tak juga menemukan Max keluar dari kamar, hingga dia berinisiatif memanggil nya.
"Max..." panggil nya sambil membuka pintu.
"Kembali Max!!" pinta Syahnaz.
"Jadi dia pangeran mu?" tanya Max
"Max!!!" sentak Syahnaz, saat ini dia sangat malu,karena Max berhasil membaca buku pribadi nya.
"Memang sampai kapan kau akan menunggu dia datang?" lanjut Max.
__ADS_1
"Berikan!!!" Syahnaz masih berusaha untuk meraih nya.
"katakan dulu!" saut Max.
"Aku tidak lagi menunggu nya!! kau puas!" ucap Syahnaz dengan kesal.
"Aku sudah bisa melupakan dia!! dan aku juga sudah tidak ada perasaan apapun padanya!!" lanjut nya.
Syahnaz yakin sekali bahwa Max pasti telah membaca buku pribadinya itu mengenai lelaki yang dicintai oleh Syahnaz, siapa lagi kalau bukan Max orangnya, namun Syahnaz merasa sangat kesal karena Max bersikap seolah-olah tak tahu siapa lelaki yang sedang diceritakan di dalam buku pribadi Syahnaz.
"Benarkah?" tanya Max.
"Ya....karena masa lalu hanya akan menjadi masa lalu" jawab Syahnaz.
"Melupakan masa lalu adalah hal yang wajib kita lakukan!" lanjut nya.
tiba-tiba saja Max melempar buku berwarna ungu muda itu ke lantai,dan tangannya menarik pinggang Syahnaz sehingga tubuh Syahnaz membentur dada bidangnya.
"Aku ingin tau, apa kau benar-benar bisa melupakan dia setelah ini!" ucap Max.
Kemudian dia menarik tengkuk Syahnaz dan membenamkan bibirnya ke bibir ranum wanita yang sekarang berada di dekapan nya itu, kaget dengan apa yang dilakukan Max, Syahnaz hanya diam saja tanpa membalas ciuuman yang terasa sangat lembut, tentu saja Syahnaz tidak percaya bahwa ini adalah sebuah kenyataan. Syahnaz merasa ini hanyalah sebuah mimpi.
"Coba lupakan aku! kalau kau sanggup!" bisik Max di telinga Syahnaz setelah melepaskan ciuuman nya.
__ADS_1
Kemudian dia berjalan meninggalkan Syahnaz yang masih terpaku di tempatnya.
bersambung