
Setelah kepergian Celia dan Dewi hal tak terduga yang di lakukan Arthur membuat Nayla terkejut.Entah sejak kapan posisinya sekarang begitu menguntungkan bagi Arthur.
"Mari sedikit berkenalan Nona kecil! agar saat kita sudah menikah tak canggung lagi!"
Arthur nampak memegang tangan Nay dan mengunci nya, dia tau gadis kecil itu punya pertahanan diri, dia sudah cukup melihat bagaimana Nay melawan Max saat penjemputan paksa malam itulah.Nay seakan tau apa yang akan di lakukan Arthur, dia berusaha memberontak namun tak berhasil, hingga dia merasakan sebuah sentuhan benda kenyal menabrak bibirnya dengan paksa, Arthur melumaaat bibir ranum gadis yang sedang di tindih nya saat ini tanpa peduli tubuh kecil itu nampak memberontak.
Semakin Nay memberontak, semakin Arthur terasa tertantang dan tentu saja percobaan perkenalan kali ini menjadi semakin seru untuk Arthur.
Sekuat tenaga Nayla memberontak,namun belum juga berhasil, akhirnya Nayla mengigit bibir Arthur, seketika Arthur melepaskan ciumannya, dengan tenangnya Arthur mengelap darah yang mengalir di bibirnya, bibir nya bengkak seketika. Arthur hanya diam dan bahkan mengelap bibir Nayla dengan jempol tangan nya.
"Bersikap lah manis padaku Nona kecil" kata Arthur namun masih dalam posisi yang sama.
"Minggir!!" kata Nayla sambil mendorong dada Arthur yang menempel sempurna di dadanya.
"Isssttttt.....Jangan bermain-main dengan ku Nona kecil!" desis Arthur ketika tangan mungil Nay menyentuh dadanya.
"Apa aku harus memberimu nama Tuan penguasa yang mesum?...... segera menjauh dari ku!!!" kata Nayla
Arthur turun dari tubuh Nay, dia berjalan santai menuju dapur di apartemen nya, mengambil ponsel di saku nya.
"Max......siapkan sarapan!" katanya kemudian mematikan panggilan telepon nya.
Nayla yang memang sedari pagi tak makan apapun segera menyusul Arthur ke meja makan yang ada di dapur.
__ADS_1
"Aku juga lapar, apa ada bahan makanan?" tanya Nay
"Max yang akan memasak" katanya tanpa menatap ke arah Nay, dia sibuk dengan ponselnya.
Nay nampak diam saja, Nay bukan tipe gadis yang mengutamakan ponselnya, dia lebih suka membaca buku, dan ketika dia harus terpaksa terkurung di dalam apartemen tersebut, dia benar-benar bingung karena tak menemukan rak buku.
"Boleh aku bertanya?" Nay membuka suara namun tidak di tanggap i oleh Arthur
"Apa keluarga kalian saling menjatuhkan?" tanya Nay, dia tak peduli Arthur mengabaikan nya.
"Apa semuanya hanya karena harta?" tanya Nay lagi.
"Berisik!!" jawab Arthur.
perdebatan kecil mereka terhenti ketika Max masuk ke apartemen dan langsung menuju ke dapur, Max tidak membawa apa-apa,dia datang dan membuka kulkas begitu saja kemudian dia mengeluarkan isi kulkas untuk keperluan memasak dan memberikan hidangan kepada Arthur, Max sekilas memandang Nay,dia lupa kalau tadi pagi dia tidak memberikan sarapan untuk gadis tersebut,kalau untuk Arthur Max tidak terbiasa sarapan pagi, Arthur hanya terbiasa meminum kopi susu nya atau susu hangat di pagi hari, Sedangkan untuk sarapan Arthur lebih suka sarapan menjelang makan siang atau bahkan kadang mengabaikan sarapannya dan Arthur hanya akan makan siang jika Max membuatkannya, seperti saat ini.
Max dengan cekatan membersihkan beberapa bahan makanan mengambil peralatan masak dan mencoba memasaknya,setelah beberapa saat kemudian Max sudah menghidangkan dua piring hidangan di depan Arthur dan juga Nay serta mempersilahkan mereka untuk menyantap hidangan nya.
(menu hidangan untuk Arthur dan Nay)
Nay mengangkat telur yang ada di piring nya dan meletakkan di piring Arthur. Arthur menatap ke arah Nay dengan wajah herannya,dan Nay tersenyum dengan manis.
__ADS_1
"Aku tidak suka telur Max?" ucap Nay lembut dengan menyebut nama Max namun pandangan nya malah ke arah mata Arthur.
"Baik Nona saya akan mengingat nya!" kata Max
"Dan aku lebih suka lemon tea hangat untuk teman sarapan ku!"
"Baik Nona" kata Max
"Max...jangan hiraukan dia, pergilah! aku yakin Morgan cukup senang jika aku mengabaikan pekerjaan ku!"
Morgan dan Arthur memang terlihat baik-baik saja di depan seluruh jajaran petinggi perusahaan ataupun di kalangan karyawan, namun tak bisa di pungkiri mereka punya kubu mereka masing-masing, dan kedua nya mempunyai kehebatan dalam berbisnis yang hampir sama. Nama mereka cukup di perhitungkan untuk menjadi kandidat CEO baru perusahaan mereka, walaupun pada akhirnya Arthur selangkah lebih unggul dari Morgan.
Di sisi lain
"Kau bilang apa?" tanya Bara pada Darren
"Perempuan itu sudah di pastikan ada di tangan tuan Arthur Tuan!" lapor Darren
"Shi*t!!!..... breeengsek!! lagi-lagi kita kalah satu langkah dari dia!!" ucap Bara
"Cari cara memisahkan mereka Darren!! aku sudah banyak berkorban!! aku tak akan menerima kegagalan kembali!"
Ucap Bara dengan tangan terkepal sempurna.
__ADS_1
bersambung.....