
Berulang kali Max menghela nafasnya pelan, dia benar-benar tak menyangka bahwa Arthur akan benar-benar mewujudkan kata-katanya, Max benar-benar di buat seperti seorang yang menjemput kekasih nya.Max masih ingat kata-kata yang keluar dari atasannya tersebut.
"Bersiaplah!!! aku akan mengirimkan alamat di mana kamu harus menjemput gadis itu!! laporkan dan foto setiap kegiatan yang kau lakukan dengan nya!" kata Arthur.
"Tapi Tuan......"
"Ini hukuman untuk mu Max! dan selamat bersenang-senang!"
Setidaknya begitulah yang di ingat oleh Max. Max sedang berdiri di sebuah gedung, lebih tepatnya sebuah toko bunga, menunggu seseorang yang terlihat berjalan ke arah nya.
"Max?" panggil seseorang tersebut, Max hanya menoleh sambil tetap pada posisi nya, bersandar di mobil mewahnya.
"Kak Arthur bilang kalau kamu mau mengantar ku?" tanya Syahnaz pada Max.
"Hemmmm" jawab Max singkat.
Ya Max di paksa Arthur untuk menemani Syahnaz mencari bunga ke sebuah pedesaan, di mana tempat Syahnaz sudah berlangganan bunga untuk mengisi toko bunga milik nya, biasanya Syahnaz akan membeli bunga-bunga tersebut bersama salah satu karyawan nya.
"Terima kasih Max" ucap Syahnaz.
Max hanya menanggapi nya dengan diam, dan kemudian berjalan ke arah pintu kemudi, Syahnaz yang sudah tau sikap dan sifat Max hanya diam saja ketika Max tak membukakan pintu mobil untuk nya.Syahnaz sangat senang ketika Arthur dengan tiba-tiba meminta nya untuk mengajak Max ke pedesaan tersebut, karena sangat jarang bahkan hampir tidak pernah Arthur berkomunikasi dengan Syahnaz.
__ADS_1
"Perjalanan akan memakan waktu hampir 2 jam Max, apa kamu baik-baik saja?" tanya Syahnaz, dia sebenarnya tak enak mengajak Max, karena bukan Max sendiri yang meminta nya tapi Arthur.
"Hemmmm, aku baik-baik saja" saut Max.
Syahnaz nampak girang dengan jawaban Max, dia terlihat sangat antusias, perjalanan yang mereka tempuh hampir satu jam ini,terasa sangat singkat menurut Syahnaz, Syahnaz banyak berbicara dengan Max, entah apa saja yang di katakan Syahnaz, Max hanya menanggapi nya dengan tersebut dan sesekali menjawab singkat.Sungguh saat ini Max rasanya ingin kabur saja seandainya dia tak ingat bahwa ini adalah hukuman yang di berikan Arthur padanya.
"Max , apa tidak sebaiknya kita makan siang dulu? perjalanannya masih harus ditempuh kurang dari 1 jam apakah kamu tidak lapar?" Tanya Syahnaz sambil melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Hemmmm, kita berhenti di restoran depan sana" saut Max.
setelah melaju beberapa meter, Max melihat ada sebuah restoran dengan rest area yang cukup luas,dan Max akhirnya menghentikan mobilnya di sana, Syahnaz yang memang sudah sangat kelaparan tak menunggu Max untuk keluar dari mobilnya. Dia lebih dulu keluar dari mobilnya karena yakin sekali Max tidak akan membukakan pintu mobilnya seperti saat dia bersama kekasih nya dulu. Syahnaz menunggu sebentar setelah keluar dari mobilnya dan berjalan beriringan menuju restoran tersebut, Namun Syahnaz meminta Max untuk makan di bagian luar saja, Syahnaz melihat pemandangan yang mulai nampak sangat indah,karena memang sudah memasuki pedesaan di mana Syahnaz biasa membeli bahan-bahan untuk toko bunganya. setelah seorang pelayan memberikan buku menu, dan mereka memesan makanan,beberapa menit kemudian makanan sudah tersaji di meja makan,mereka makan tanpa bersuara sama sekali sampai mereka selesai makan, Syahnaz nampak mencuri-curi pandang kearah Max, karena jujur saja, dia memang sudah lama tertarik dengan asisten dari sepupunya itu,namun Syahnaz tak berani untuk mendekati Max,karena dia tahu bagaimana sikap dingin dan cuek nya seorang Max, hingga akhirnya Syahnaz memutuskan untuk berpacaran dengan kekasihnya yang beberapa waktu yang lalu telah menghianati nya.Max sangat peka dan tau betul apa yang di lakukan Syahnaz, namun Max hanya diam saja.
"Sini...." perintah Max
"Sini....." perintah Max lagi.
mau tak mau Akhirnya Syahnaz mendekati Max, dia duduk di kursi di sebelah Max,Max mengambil ponsel dari sakunya kemudian menempelkan badannya sambil merangkul bahu Syahnaz dan mengambil foto dengan model selfie.Jangan tanyakan bagaimana jantung Syahnaz? saat ini jelas jantung Syahnaz benar-benar ingin melompat dari tempatnya, perlakuan Max padanya membuat dia salah tingkah sendiri, hingga ketika Max meminta dia untuk tersenyum sangat nampak diam saja.
"Bisa kah kau tersenyum?" tanya Max untuk ke dua kalinya.
"ya?" lagi-lagi Syahnaz kaget.
__ADS_1
Untuk ketiga kalinya Max meminta Syahnaz untuk tersenyum di depan kamera,namun itu semua sangat kontras dengan dirinya yang tetap berwajah cool dan cuek, Shanaz nampak canggung, namun kemudian dia tersenyum dengan manis di depan kamera,Shahnaz tak pernah tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Max adalah rencana dari Arthur, Arthur yang memberikan hukuman pada Max agar dia terlihat berkencan dengan seorang wanita,dan pilihan Arthur adalah Syahnaz,setelah Max mengirim foto selfie bersama Syahnaz, Max meminta Syahnaz untuk kembali ke kursinya, menghabiskan sisa makanannya kemudian Max meminta untuk berkemas, karena mereka harus melanjutkan perjalanan.
"Di sini tempatnya?" tanya Max sambil menghentikan mobilnya di depan sebuah pekarangan rumah.
"Iya bener! tunggu sebentar ya" jawab Syahnaz sambil berlalu dari dalam mobil.
"Selamat siang pak tua!" Syahnaz menyapa kepada seorang lelaki paruh baya yang sedang memotong beberapa daun kering yang terdapat di bunga peliharaannya, di pekarangan tersebut terdapat begitu banyak jenis bunga, kadangkala Syahnaz bingung harus memilih yang mana.
"Nona Syahnaz, selamat siang" jawab pak Robert,lelaki paruh baya tersebut.
"Kau datang dengan seseorang?" tanya pak Robert sambil melirik ke arah Max yang sedang berdiri sambil menempelkan badannya ke mobil.
"Iya, dia mengantar ku" kata Syahnaz pelan.
"Dia nampak menyeramkan!" kata si pak tua itu.
''Tapi aku menyukainya!" bisik Syahnaz.
Max Hanya diam saja tanpa tau apa yang di bicarakan Syahnaz dengan si pemilik perkarangan bunga tersebut.Max hanya merasa, sepertinya hukuman nya masih sangat lama.
Disisi lain, Arthur sedang tersenyum menatap foto yang di kirim oleh Max, wajah Max nampak tertekan di dalam foto itu, dan itu merupakan kesenangan tersendiri bagi Arthur.
__ADS_1
bersambung