Arthur (Sang Penguasa)

Arthur (Sang Penguasa)
Di balik perselisihan


__ADS_3

Di kamar Arthur


Kamar dengan nuansa putih abu-abu itu terlihat begitu maskulin, aroma parfum khas lelaki langsung memanjakan hidung Nayla. Nayla nampak berkeliling di dalam kamar besar tersebut, dia membuka pintu balkon yang memperlihatkan pemandangan samping rumah besar tersebut dengan hamparan danau buatan dan taman di samping rumah besar keluarga Hernandez.


Nayla merentangkan tangannya sambil memandang langit malam, menghirup udara malam yang kian dingin, entahlah....apa yang terbesit di pikiran gadis muda itu. Di usianya yang baru akan menginjak 21 tahun, dia harus di hadapkan dengan kenyataan bahwa seseorang telah mengatur hidupnya, bahkan sang Bunda, wanita yang membesarkan nya tak mampu berbuat banyak.


Entah sebuah keberuntungan karena mendadak kaya dan mendapatkan seorang suami tampan walaupun semua nya tak pernah dia harapkan, dia dan Bunda nya termasuk seseorang yang sangat sulit beradaptasi dengan orang-orang baru, karena itu Bunda nya pun lebih memilih hidup di perumahan yang tergolong tertutup para warga nya.


"Kenapa?" tanya Arthur sambil melingkarkan tangannya ke perut wanita yang sah menjadi calon istrinya itu.


"Bisa kah kau tidak seenaknya saja Tuan Arthur?" kata Nay yang ingin melepaskan tangan Arthur yang melingkar di perutnya.


"Aku rasa aku sudah berhak atas dirimu!"


kata Arthur dengan dingin dan semakin mengeratkan pelukannya.


Nayla akhirnya pasrah, dia tau dia kalah jauh bila berdebat dengan si penguasa ini, Arthur benar-benar seperti yang di ucapkan Nayla, dia menguasai dirinya sepenuhnya.Nayla sudah kehilangan banyak tenaganya hari ini, dia hanya ingin tidur nyenyak tanpa gangguan dari Arthur malam ini.


"Biarkan aku istirahat" kata Nayla yang segera berbalik dan melepaskan tangan Arthur.


"Jangan berharap terlalu banyak Nona kecil!" kata Arthur menarik pinggang Nayla yang sedetik yang lalu terlepas dari dirinya.

__ADS_1


"Berikan aku ucapan selamat tidur Nona kecil!" lanjutnya sambil menunjuk bibirnya dengan telunjuknya sendiri.


Nayla meletakkan tangan nya di tengkuk Arthur, dan seketika lelaki itu memejamkan matanya, kesempatan itu Nay gunakan untuk melepaskan tangan Arthur di pinggang nya.Nayla yang sedikit berjinjit untuk membisikkan kata-kata di telinga Arthur.


"Jangan berharap terlalu banyak Tuan Arthur!" bisik Nay sambil berlalu dari sisi Arthur.


"Oh Shi*it!!!" umpat Arthur seketika, dia yang sudah berhayal akan di cium oleh Nayla tiba-tiba di tinggalkan begitu saja oleh Nayla.


Arthur segera menyusul Nayla, gadis itu bahkan sudah berlalu ke kamar mandi dengan membawa sebuah baju tidur buang entah siapa yang meletakkan nya di atas ranjang, pasti seorang pelayan sebelum mereka masuk.Nayla yang tau gelagat Arthur segera berbalik di depan pintu kamar mandi.


"Jangan membuat masalah denganku tuan Arthur! aku sangat lelah, atau aku akan berbuat nekat!" ancam Nay pada Arthur, dan Arthur hanya mengerutkan keningnya tanda tak paham.


"Kau mengancam ku?" tanya Arthur dengan dingin dan datar


"Ya.... anggaplah seperti itu!" ucap Nayla dengan senyum kemenangan.


"Kau lupa siapa aku Nona kecil!!"


Kata Arthur sambil mendekati Nayla, Nayla sudah bersiap dan


"Aaarghhh...... turunkan aku!!! kurang ajar!!!!" teriak Nayla karena Arthur menggendong nya seperti karung beras.

__ADS_1


"Kita akan mandi bersama Nona kecil!! jadi kau yang akan menyentuh ku, bukan aku!!" kata Arthur dengan seringai licik di bibirnya.


"Dasar lelaki miring!!! mesum!!!! tidaaaakkkk!!"


Di ruang kerja Morgan


Lelaki seumuran Arthur ini tampak menenggak minuman yang ada di depan nya, dia sangat lelah sekali menjalani perannya, Namun nama baik sang Mama akan menjadi taruhannya, wanita yang juga punya ambisi dalam hidupnya itu seringkali menjadi kelemahan dari seorang Morgan.Hari ini dia kalah satu langkah dari Arthur, sepupunya yang bahkan entah sejak kapan tak lagi berbincang santai dengannya, Jika Bobby masih bisa berbicara dan duduk santai dengannya,tidak dengan Arthur, ambisi orang-orang di sekitarnya membuat Arthur dan Morgan semakin bersebelahan, bahkan mereka terlihat seperti air dan minyak saat di pertemuan bersama.


"Kamu tak akan di terima di keluarga ini bila mereka tau kebenaran hidup Mama mu Morgan!!"


"Dan apa kau pikir Ananta mau menerima kehancuran hidupnya?"


"Pikirkan itu!! aku melakukan semuanya demi kamu Dan ibumu!!"


"Jadi menurut lah!!"


Kata-kata itu yang selalu dia ingat beberapa tahun silam, di mana di sana kehancuran hidup normal nya di mulai.Tak banyak yang tau apa saja yang telah di korban kan oleh seorang Morgan untuk mencapai titik ini, semuanya sudah dia curahkan agar bisa menjadi Boneka yang baik untuk mencapai tujuan seseorang. Bahkan seorang gadis di masa lalu yang ikut dia korban kan serta penyesalan yang akan dia alami di seumur hidup nya.


"Aku merindukan mu!"


bersambung.,.....

__ADS_1


__ADS_2