
Flash back on,
17 tahun silam
Sebuah mobil dengan kecepatan penuh nampak melintas di sebuah jalan tol, di dalamnya terdapat tiga orang yang tengah panik karena tiba-tiba saja rem mobil blong.
"Ada apa?" tanya Bara
"Rem nya blong Tuan!!" jawab sang sopir dengan nada cemas dan ketakutan, dia tak bisa mengendalikan laju kendaraan nya.Apalagi jalanan licik karena baru saja terguyur hujan.
"Bagaimana ini?" tanya lelaki yang ada di samping Bara.
"Tenanglah!! semuanya akan baik-baik saja!" kata Bara.
Tiba-tiba ponsel Bara berbunyi, dan dengan cepat Bara menjawab panggilan telepon nya, karena melihat wajah Bara yang terlihat tegang, lelaki di samping Bara mengambil ponselnya dan mengubah nya ke mode loud speaker agar dia juga bisa mendengar nya.
"Hahahahahhaha selamat jalan Bara!! kau terlalu banyak menghalangi jalan ku!! dan kau terlalu banyak tau!!" suara seseorang terdengar dari sebrang.
Ketika lelaki di samping Bara hendak menjawabnya, Bara melarangnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Bara dan mencoba untuk tenang.
"Kematian mu!!..kau tidak pantas menjadi menantu keluarga Hernandez!!" jawab seseorang tersebut.
"Ah iya.......aku yakin sekarang kau sedang menantang maut di jalanan hahahahahaha!!" lanjutnya.
"Jadi ini ulahmu??" tanya Bara menahan diri untuk tetap tenang.
__ADS_1
"Siapa kau??'" tanya Bara lagi.
"Tenanglah Bara!!! kau tak perlu tau siapa aku!! karena sebentar lagi kau akan mati hahahahahaha!!"
"Selamat jalan Bara!!"
Braaaaak.........
Suara hantaman mobil yang pada akhirnya menabrak pembatas jalan menggema di kegelapan malam, ketiga lelaki yang ada di dalam sana nampak terguncang ke sana kemari, sebelum pada akhirnya mobil terbalik dan berhenti, Sopir mereka nampak melotot dengan mengeluarkan banyak darah dari telinga dan beberapa bagian wajahnya yang berdarah, sudah dapat di pastikan bahwa sopir tersebut mati di tempat.
"Bara!!!.....Bara....Bara......!" panggil lelaki tersebut,dan segera mengeluarkan Bara dari mobil.
"Ra-raka....... To-tolong se-selamat keluarga ku" ucap Bara terbata-bata.
Raka, Lelaki yang berada di samping Bara dan terlihat dia yang masih terlihat lebih baik keadaannya daripada sang supir dan Bara, walaupun dia pun terluka cukup serius, bahkan pandangan matanya juga tak sebegitu normal,karena luka di bagian kepala dan pelipis kanan nya.
"Tidak....tidak.....tidak...!!! kita baru saja bertemu!!! tolong Jangan pergi!! bertahanlah!!!" pinta Raka.
"A-ku senang... berjumpa denganmu Raka!" ucap Bara yang tetap mencoba tersadar.
"Ja-jadilah Bara!" kalimat terakhir Bara sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
"Aaarghhh...bangun bodoh!!! bangun!!!! aaaarrrggggghhhh....." Raka meraung di tengah kegelapan, hampir beberapa menit dia mendekap mayat sang saudara kembarnya.
Kesadaran nya nampak mulai kembali, dia mengingat bagaimana seseorang mengancam Bara sebelum kecelakaan terjadi, dan mengingat ucapan terakhir Bara sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.Raka nampak mencari ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hallo, Darren.....aku kirim lokasi, secepatnya datang!!"
__ADS_1
Raka memutuskan mengikuti keinginan Bara, hidup sebagai Bara, apalagi dia tau bahwa Bara adalah menantu keluarga Hernandez dan itu artinya, dia bisa kembali menemui sang kekasih yang telah lama terpisah karena kekasih nya harus menikah dengan lelaki lain karena perjodohan, dan artinya Raka bisa melihat anaknya juga , yang tak lain adalah Morgan, walaupun harus beridentitas sebagai saudara kembar nya, yaitu Bara, bagi Raka itu sudah cukup.Namun tak pernah Raka sadari,kalau hati manusia tak pernah merasa cukup, selalu meminta lebih dan lebih.
Karena keadaan jalan yang sepi, hingga kecelakaan tunggal mereka terlalu lama di ketahui seseorang, bahkan Darren berhasil membawa mayat Bara,dan Raka meminta Darren menguburkan mayat saudara kembar nya tersebut.
"Aku akan melindungi keluarga mu, aku akan menjaga Aleysia dan Bobby untuk mu!" ucap Raka lirih, sambil mengelus pipi Bara sebelum di bawa Darren.
kemudian salah satu teman Darren menghubungi polisi dan mengatakan bahwa ada kecelakaan di jalan tol.
Flash back off
"Aley......." panggil Bara pelan.
Aleysia nampak lemas di salah satu kamar di rumah Ananta dan Bara.Beberapa saat lalu ketika mendengar pengakuan Bara, hampir saja Aleysia mengalami serangan jantung nya kembali, untung saat itu ada Echa sebagai dokter,dan tentu saja obat jitu yang Echa ucapkan membuat Aleysia bisa mengendalikan emosi nya, Echa mengatakan bahwa Alice sedang hamil saat ini, dan Aleysia harus bertahan agar dapat melihat cucu pertama nya.
Ananta hanya berdiri di samping Bara yang tengah duduk di tepi ranjang, bagaimana pun juga, ada rasa kasihan di hatinya,namun Raka,yang sudah berubah identitas menjadi Bara,menurut Ananta telah banyak berkorban untuk Aleysia dan Bobby, anaknya. Ananta merasa Bara juga berhak bahagia bersama dia dan Morgan anak kandungnya.
"Hiks....hiks..... tolong tinggalkan aku sendiri hiks ...hiks..." ucap Aleysia dengan derai air mata.Echa nampak mengenggam tangan Aleysia di sisi yang lain nya.
Aleysia benar-benar tak menyangka bahwa lelaki yang selama 17 tahun ini bukanlah suaminya, bukan Bara suaminya, melainkan Raka, saudara kembar nya.Pantas saja, sejak mengalami kecelakaan dan di rawat di rumah sakit, sosok Bara banyak melupakan hal-hal yang berkaitan dengan dirinya, bahkan hubungan suami-istri di antara mereka benar-benar tak pernah sekalipun harmonis, sejak saat itu, Bara tak pernah menyentuh nya di atas ranjang, Bara beralasan bahwa batang miliknya bermasalah hingga tak mampu berdiri dan melayani hasrat sang istri, walaupun tak dapat di pungkiri, perlakuan Bara sangat baik padanya.
Echa memberikan kode pada Morgan untuk membawa kedua orangtuanya keluar kamar, menurut Echa Aleysia harus tenang agar tak berpengaruh pada kesehatan jantung nya.Setelah kepergian mereka bertiga, Aleysia kembali menangis keras, Echa memeluk Aleysia untuk menenangkan nya.
"Semuanya akan baik-baik saja Tante... tenang lah! Demi Alice dan bayinya" bujuk Echa lagi-lagi membawa nama Alice dan bayinya.
"Lalu bagaimana dengan Bobby?......." ucap Aleysia sambil melepaskan pelukannya pada Echa.
"Bagaimana kalau dia tau, kalau ternyata dia sudah tidak punya Papa lagi...hiks......hiks......." lanjutnya.
__ADS_1
Echa hanya terdiam, Echa merasa sangat iba pada wanita paruh baya di hadapannya, tatapan matanya penuh luka, Echa juga tak bisa membayangkan bagaimana jika dia berada di posisi Aleysia, dia bahkan tak melihat jasad sang suami untuk terakhir kalinya, dan selama bertahun-tahun dia hidup dalam kebohongan.
bersambung