Belenggu Pernikahan Semu

Belenggu Pernikahan Semu
98 | Mogok


__ADS_3

Sang fajar telah menyingsing tetapi membaut gadis 17 tahun itu lekas bangkit dari tempat tidurnya. Rasa malas yang bersarang dalam diri membuatnya memilih menarik kembali selimutnya. Dia tak peduli dengan suara sang kakak yang terus memanggil namanya untuk bangun.


Hidup bersama seorang ayah seorang ayah yang suka mabuk dan judi membuat hidupnya semakin sengsara. Hampir setiap hari akan ada orang yang datang ke rumahnya untuk menagih hutang sang ayah. Bersama sang kakak dia harus tetap berjuang untuk tetap melanjutkan hidupnya, meskipun dia juga harus membayar hutang-hutang sang ayah.


Satu-satunya ibu yang dia miliki memilih pergi karena tak sanggup dengan kelakuan ayahnya yang tak mau bekerja dan suka berjudi. Padahal saat itu hidup mereka sudah ada kemajuan, tetapi sang ayah yang tak bisa menyudahi penyakitnya membuat keluarganya hancur.


"Melani ... bangun! Kamu bilang hari ini ada interview. Awas aja sampai ke patok ayam tuh rejeki!" teriak kakaknya dari luar kamar.


Mendengar kata interview, Melani langsung membuka matanya. Dia lupa jika hari ini dia harus datang ke kantor Alzam untuk melakukan interview.


"Astaga ... kenapa aku bisa melupakan agenda hari ini. Duh, jangan sampai gagal. Bisa-bisa aku gak bisa melunasi hutang bapak durhakim yang bisanya cuma bikin beban anaknya!" gerutu Melani yang langsung bangkit dari tempat tidurnya. Sebisa mungkin dia menyelesaikan ritual mandi paginya dengan singkat.


Sesampainya di ruang makan hanya ada Naura, kakaknya yang sedang menunggunya untuk sarapan.


"Kak Na, kakak aja yang sarapan. Aku udah buru-buru, nih! Aku pakai lagi ya sepeda motor kak Na," ujar Melani yang sudah menyambar kunci sepeda motor kakaknya.


"Tapi Mel —"


Melani tak peduli lagi dengan ucapan kakaknya, karena dia harus segera sampai di kantor Alzam. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada di depan mata. Mungkin saja ini adalah bantuan dari Tuhan agar dia terlepas dari dan hidup yang dipikulnya.


"Astaga anak itu—" Naura mendengus pelan. Bukan karena tidak boleh dipakai, tetapi sepeda motor itu belum dia isi bbm-nya.


"Biar saja, toh nanti dia yang akan merasakan sendiri," ucap Naura dengan membuang napasnya.


Baru seperempat jalan, Melani merasa ada yang aneh dengan suara motornya. Namun, dia tak terlalu memikirkan karena motor itu memang baru pulang dari bengkel. Tepat saat dia hendak menyalip mobil yang ada di depannya, seketika motor itu mati.


Melani yang panik segera menepikan motornya karena kendaraan hilir mudik. "Duh ... ini motor kenapa lagi, sih? Pakai acara mogok segala!" gerutu Melani dengan bertolak pinggang.


Ingin memesan taksi, tetapi dia tidak tahu bagaimana nasib motornya jika ditinggalkan begitu saja. Namun, jika dia tidak pergi sekarang maka akan hilang dan tak akan datang untuk kedua kalinya.


Dalam kapan nikahnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. sebuah panggilan dari sang kakak segera dia jawab. Melani segera memberitahu kita saat ini motornya tiba-tiba rusak kembali. Bukannya marah, tetapi Naura malah tertawa membuat Melani terheran.

__ADS_1


"Makanya kalau ada orang mau ngomong didengerin. Tadi itu Kakak cuma bilang kalau itu motor nggak ada bbm-nya," ujar sang kakak dari seberang telepon.


Melani pun segera mengecek speedometer yang ternyata sudah berada di titik merah.


"Sialan, berarti motor ini nggak rusak lagi dong! Untung aja itu tukang bengkel belum aku maki," kata Melani.


Tak ada pilihan lain, Melani harus membuang gengsinya. Dia terpaksa harus mendorong motornya. Entah harus sejauh mana dia mendorong.


Tinn ... tinn... tinn


Suara klakson begitu nyaring di telinganya. Saat Melani menoleh ke belakang, ternyata ada sebuah mobil yang mengikuti dirinya. e


Entah apa tujuan mobil itu tetapi seperti sedang memberi isyarat kepada Melani untuk berhenti.


Benar saja, saat Melani berhenti dan membalikkan tubuhnya dia melihat sang pemilik mobil langsung turun mobilnya. Melani mengorbit saat melihat siapa yang berjalan ke arahnya.


"Pak Alzam," lirih Melani.


"Kenapa?" tanyanya.


Melani tersenyum tipis. "Kehabisan BBM, Pak."


Alzam mengangguk pelan. Entah mengapa saat melihat Melani, sekilas dia melihat bayangan Zahra di wajah gadis itu, terlebih Melani yang tampil apa adanya seperti Zahra.


"Kamu tinggal saja motornya, nanti Dafa yang akan membawa ke kantor."


Mata Melani terbelalak ketika mendengar Alzam mengajaknya untuk berangkat bersama. Tak ada pilihan lain, Melani pun memilih ikut daripada harus mendorong motornya.


Lima belas menit kemudian mobil Alzam telah sampai di depan sebuah kantor yang menjulang tinggi. Alzam pun segera turun dari mobilnya dan langsung mendapatkan sambutan dari beberapa karyawan yang melihat kedatangannya.


Tiba-tiba merasa nyindir ketika dia berpapasan dengan para wanita cantik dengan pakaian yang bagus,tak seperti dirinya.

__ADS_1


"Pagi, Pak. Jadi bagaimana apakah calon penggantinya Winda sudah ada?"


Alzam mengangguk kecil sambil melirik kearah Melani.


"Kamu bawa dia dan perjelas apa yang harus dia kerjakan!" titah Alzam.


Seorang wanita cantik yang terlihat sangat rapi segera membawa Melani ke sebuah ruangan. Melani masih tercengang saat wanita itu memberikan penjelasan tentang apa saja pekerjaannya. Dalam hati Melani bertanya-tanya, bukankah kedatangannya hari ini untuk melakukan interview? Lalu mengapa dia malah malah mendapatkan penjelasan dari wanita itu.


"Kak, sebenarnya kedatanganku ke sini untuk melakukan interview, lho," ujar Melani.


Wanita itu menyunggingkan senyum dibibirnyanya dengan anggun. "Kamu jangan bercanda. Bukankah kamu sudah mendengar dengan jelas jika Pak Alzam memintaku untuk menjelaskan apa saja pekerjaanmu?"


Melani tak menyangka jika dirinya langsung bisa diterima bekerja tanpa harus melakukan interview terlebih dahulu.


"Kamu paham apa yang aku jelaskan?"


Melani mengangguk pelan. Sungguh dia tak paham dengan apa yang dijelaskan oleh wanita yang ada disampingnya.


"Kalau kamu sudah mengerti aku tinggal ya. Oh iya, perkenalkan dulu aku adalah Rania, salah satu tangan kanan Pak Alzam."


Melani tersenyum tipis dan berkata, "Aku Melani, kak.


.


.


.


...BERSAMBUNG...


Nanya dong, kalau Othor mau bagi-bagi sesuatu enaknya berupa barang tau pulsa ya?

__ADS_1


__ADS_2